tirto.id - Kapal pesiar MV Hondius yang terkena wabah Hantavirus saat ini masih berada di Afrika Barat. Benarkah tujuan akhir ekspedisi tersebut adalah Indonesia?
Dunia dibuat gempar setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan jika telah terjadi wabah Hantavirus di sebuah kapal pesiar bernama MV Hondius.
Berita yang berkembang menyebut jika MV Hondius telah melakukan perjalanan panjang dari Argentina pada 1 April 2026 melewati beberapa tujuan. Muncul isu tujuan akhir ekspedisi tersebut adalah Indonesia.
WHO menyebut menerima laporan dari National International Health Regulations (2005) Focal Point Inggris terkait adanya klaster penyakit pernapasan akut berat di MV Hondius pada 2 Mei 2026.
Laporan tersebut mencakup dua kematian, satu pasien kritis, serta sejumlah penumpang lain yang menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan akut.
Pada hari yang sama, hasil pemeriksaan laboratorium di Afrika Selatan mengonfirmasi bahwa satu pasien kritis yang dirawat di unit perawatan intensif positif terinfeksi hantavirus.
Situasi kemudian memburuk pada 3 Mei ketika satu kematian tambahan dilaporkan, sedangkan tiga kasus suspek lainnya masih berada di dalam kapal.
Hingga 4 Mei 2026, total kasus yang teridentifikasi mencapai tujuh orang, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi, lima kasus suspek, dan tiga kematian.
Rute Kapal Pesiar yang Kena Wabah Hantavirus
Kapal pesiar ekspedisi MV Hondius memulai pelayarannya dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026 dalam perjalanan ekspedisi kutub yang direncanakan berakhir di Canary Islands.
Kapal berbendera Belanda ini dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions dan membawa sekitar 150 penumpang dan kru dari lebih dari 20 negara.
Mengutip Newsweek (5/5/2026), dari Ushuaia, kapal bergerak ke wilayah Antartika untuk menjalani tur ekspedisi di kawasan kutub selatan, termasuk mengunjungi sejumlah lokasi terpencil yang biasa menjadi tujuan wisata ilmiah dan petualangan.
Setelah meninggalkan kawasan Antartika, kapal melanjutkan pelayaran menuju South Georgia, pulau terpencil di Atlantik Selatan yang dikenal sebagai lokasi penelitian satwa liar dan sejarah ekspedisi kutub.
Dari sana, perjalanan diteruskan ke beberapa pulau kecil di Samudra Atlantik, termasuk Saint Helena dan Ascension Island. Menurut otoritas kesehatan Afrika Selatan, kapal juga sempat singgah di Nightingale Island dan Tristan da Cunha, dua pulau terpencil di Atlantik Selatan yang memiliki akses sangat terbatas.
Dalam tahap akhir pelayaran, MV Hondius bergerak ke arah utara menuju pesisir Cape Verde pada awal Mei. Namun saat wabah hantavirus mulai terdeteksi di atas kapal dan beberapa penumpang mengalami gejala gangguan pernapasan serius, otoritas Cape Verde menolak memberikan izin sandar karena alasan kesehatan publik.
Akibatnya, kapal tetap berada di lepas pantai sementara para penumpang sebagian besar diminta tetap berada di kabin masing-masing untuk mencegah potensi penyebaran penyakit.
Karena kesulitan memperoleh izin berlabuh, operator kapal mempertimbangkan mengarahkan kapal menuju Las Palmas atau Santa Cruz de Tenerife sebagai lokasi alternatif untuk menurunkan penumpang dan melakukan pemeriksaan medis lanjutan.
Data dari situs lacak kapal, Marine Traffic saat ini memperlihatkan jika tujuan akhir dari ekspedisi ini adalah Canary Island.
Spanyol Akan Tampung Penumpang Kapal MV Hondius di Kepulauan Canary
Pada 5 Mei 2026 malam, Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan bahwa mereka akan menerima kedatangan kapal pesiar ekspedisi MV Hondius di Kepulauan Canary.
Keputusan ini diambil setelah adanya koordinasi dengan WHO, yang sebelumnya menyatakan bahwa otoritas Cape Verde tidak memiliki kapasitas untuk menangani evakuasi medis dan penanganan wabah di kapal tersebut.
"WHO telah menjelaskan bahwa Tanjung Verde tidak mampu melaksanakan operasi ini. Kepulauan Canary adalah lokasi terdekat dengan kemampuan yang dibutuhkan. Spanyol memiliki kewajiban moral dan hukum untuk membantu orang-orang ini, di antaranya juga terdapat beberapa warga negara Spanyol." jelas Kementerian Kesehatan Spanyol dikutip CNA, Rabu (6/5/2026).
Dalam penyelidikan wabah di atas kapal pesiar MV Hondius, WHO bersama otoritas Spanyol masih menyoroti kemungkinan adanya penularan dari manusia ke manusia atau human-to-human transmission.
WHO menjelaskan bahwa penularan dari manusia ke manusia pada hantavirus sebelumnya hanya pernah dilaporkan pada jenis tertentu, yaitu Andes virus yang beredar di Amerika Selatan. Namun, jenis virus yang menyebabkan wabah di kapal tersebut masih belum dapat dipastikan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































