tirto.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan penularan hantavirus dari manusia ke manusia di sebuah kapal pesiar MV Hondius. WHO merilis rekomendasi pencegahannya. Apa saja yang perlu dilakukan?
Sebelumnya, wabah hantavirus diduga telah menjangkit para penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius. WHO menyebut bahwa laporan terkait dugaan wabah hantavirus di MV Hondius diketahui sejak Minggu (3/5/2026).
Informasi wabah tersebut kemudian menyita perhatian publik di banyak negara lantaran tiga penumpang kapal tersebut telah tewas dengan dugaan infeksi hantavirus.
Selain itu, hantavirus selama ini dikenal sebagai patogen yang menular dari hewan ke manusia. Namun, dalam kasus dugaan wabah di MV Hondius, hantavirus tampak dapat menular dari manusia ke manusia. Potensi penularan antarmanusia ini juga telah disebutkan WHO pada Selasa (4/5).
Dalam keterangan terpisah, WHO merilis rekomendasi pencegahan penularan hantavirus pada Selasa. Upaya pencegahan dinilai efektif untuk menangkal virus ini seiring belum adanya obat khusus untuk mengobati infeksi hantavirus.
WHO menyebut bahwa, sejauh ini, pemberian perawatan medis suportif dan pemantauan klinis yang ketat merupakan hal yang bisa direkomendasikan “untuk meningkatkan angka harapan hidup”.
Hantavirus sendiri merupakan kelompok patogen yang dibawa oleh hewan pengerat sebagai inang alaminya. Patogen ini relatif tidak fatal bagi hewan pengerat, namun bisa menjadi mematikan jika menginfeksi manusia.
Tergantung variannya, infeksi hantavirus dapat memicu demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS) yang berpotensi menyebabkan gagal ginjal; atau sindrom paru hantavirus (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan kardiovaskular atau jantung.
Lantas, bagaimana cara teraman dan terbaik untuk mencegah infeksi hantavirus menurut rekomendasi WHO?
Cara Pencegahan Hantavirus
Hingga kini, pola penularan hantavirus masih diidentifikasi terjadi akibat kontak manusia dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Kontak ini masih dianggap sebagai penyebab utama infeksi hantavirus pada manusia.
WHO menjelaskan bahwa kontak antara manusia dan hewan terkontaminasi itu meliputi kontak manusia dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Selain itu, ada peluang penularan melalui gigitan hewan terkontaminasi, walaupun hal ini dikategorikan jarang terjadi.
Oleh karenanya, aktivitas yang kerap dikaitkan sebagai berisiko tinggi terinfeksi hantavirus dapat berupa membersihkan ruang tertutup atau berventilasi buruk, pertanian, pekerjaan kehutanan, dan tidur di tempat tinggal yang penuh hewan pengerat.
Akan tetapi, dalam kasus yang jarang, infeksi hantavirus dapat terjadi antara manusia dengan manusia yang terkontaminasi. Hingga kini, hantavirus varian Andes dari kawasan Amerika adalah satu-satunya strain hantavirus yang diketahui memiliki kemampuan menular antarmanusia.
Namun, penularan antarmanusia disebut dapat terjadi melalui kontak yang sangat dekat dan berkepanjangan, seperti pada keluarga atau pasangan. Hal ini berbeda dari penularan virus macam flu yang dapat menular dengan cepat melalui kontak yang minim.
Dalam rilisnya pada Selasa, WHO memberikan rekomendasi pencegahan hantavirus. Rekomendasi ini ditujukan baik untuk masyarakat umum maupun tenaga kesehatan di fasilitas perawatan yang rentan terinfeksi.
Untuk masyarakat umum, rekomendasi WHO untuk mencegah infeksi patogen ini adalah dengan mengurangi kontak antara manusia dengan hewan pengerat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut:
- Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja.
- Menutup lubang yang memungkinkan tikus masuk ke dalam bangunan.
- Menyimpan makanan dengan aman.
- Menggunakan praktik pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi tikus.
- Mengurangi penyapuan kering atau penyedotan kotoran tikus.
- Membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan.
- Memperkuat praktik kebersihan tangan.
Sementara bagi tenaga kesehatan, WHO merekomendasikan tindakan pencegahan standar untuk semua pasien, termasuk pembersihan lingkungan dan penanganan darah dan cairan tubuh yang aman.
Tindakan tersebut juga dapat dikombinasikan dengan tindakan pencegahan berbasis penularan selama pemberian perawatan.
Namun, untuk prosedur yang menghasilkan aerosol, perlu dilakukan tindakan pencegahan penularan melalui udara.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































