Menuju konten utama

Dua Orang Singapura Diisolasi karena Hantavirus usai Turun Kapal

Dua orang warga Singapura diisolasi usai turun dari kapal pesiar dengan kasus hantavirus. Mereka masih menunggu hasil tes.

Dua Orang Singapura Diisolasi karena Hantavirus usai Turun Kapal
Seseorang yang mengenakan pakaian pelindung bahan berbahaya (2R) dikawal ke ambulans dari pesawat medis yang diduga membawa beberapa penumpang dari kapal pesiar MV Hondius yang diyakini terinfeksi hantavirus, di bandara Schiphol dekat Amsterdam pada 6 Mei 2026. Sebuah pesawat yang berangkat dari Tanjung Verde setelah evakuasi kapal pesiar yang terkena hantavirus mendarat di Kepulauan Canary Spanyol pada 6 Mei, sementara penerbangan kedua menuju Belanda. AFP/oleh Lina Selg
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dua warga Singapura yang berada di atas kapal pesiar ekspedisi MV Hondius kini sedang menjalani isolasi di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular Singapura (NCID) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait hantavirus.

Menurut pernyataan Badan Penyakit Menular Singapura (CDA) pada Kamis (7/5/2026), hasil tes kedua orang tersebut masih menunggu. Salah satu pasien dilaporkan hanya mengalami gejala ringan berupa hidung berair namun dalam kondisi stabil, sedangkan lainnya tidak menunjukkan gejala apa pun.

Dalam keterangan resminya, CDA juga menyebut jika saat ini potensi penyebaran hantavirus di Singapura tergolong kecil.

“Hasil tes mereka masih menunggu. Salah satunya mengalami pilek tetapi kondisinya baik-baik saja, dan yang lainnya tidak menunjukkan gejala. Risiko bagi masyarakat umum di Singapura saat ini rendah,” kata CDA dikutip CNA, Kamis (7/5/2026).

Kronologi Dua Warga Singapura Suspek Hantavirus

CDA menjelaskan bahwa pihaknya menerima pemberitahuan pada 4 dan 5 Mei mengenai keberadaan kedua warga Singapura tersebut di kapal MV Hondius, yang berangkat dari pelabuhan Ushuaia di Argentina pada 1 April 2026.

Setelah perjalanan berlangsung, kapal tersebut melaporkan adanya wabah hantavirus. Suspek pertama adalah seorang warga negara Singapura berusia 67 tahun yang tiba di Singapura pada 2 Mei, sedangkan suspek kedua merupakan penduduk tetap Singapura berusia 65 tahun yang kembali ke negara itu pada 6 Mei.

Kedua pria tersebut diketahui telah turun dari kapal dan sempat berada dalam penerbangan yang sama dengan seorang pasien hantavirus terkonfirmasi dari St Helena menuju Johannesburg pada 25 April.

Pasien yang terinfeksi tersebut tidak melakukan perjalanan ke Singapura dan dilaporkan meninggal dunia di Afrika Selatan. Hingga Rabu, terdapat delapan kasus yang dikaitkan dengan klaster di kapal pesiar tersebut, termasuk tiga kematian.

Dari jumlah itu, tiga kasus telah dipastikan positif hantavirus, sedangkan kasus lainnya masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

Menurut CDA, World Health Organization (WHO) saat ini menilai risiko penyebaran global wabah tersebut masih rendah. Namun demikian, otoritas kesehatan Singapura tetap mengambil langkah pencegahan ketat.

Jika hasil tes kedua warga Singapura tersebut menunjukkan negatif hantavirus, mereka tetap akan menjalani karantina selama 30 hari sejak tanggal paparan terakhir. Kebijakan ini diterapkan karena sebagian besar kasus hantavirus biasanya mulai menunjukkan gejala dalam rentang waktu tersebut.

Selain itu, kedua individu akan menjalani tes ulang sebelum dibebaskan dari karantina. Setelah itu, mereka masih akan dipantau melalui pengawasan via telepon hingga total masa pemantauan mencapai 45 hari sejak paparan terakhir, yang dianggap sebagai masa inkubasi maksimum untuk hantavirus.

“Pengujian akan dilakukan kembali sebelum mereka keluar dari karantina, dan mereka kemudian akan menjalani pengawasan melalui telepon selama periode pemantauan yang tersisa yaitu 45 hari sejak tanggal paparan terakhir, yang merupakan masa inkubasi maksimum untuk paparan hantavirus,” jelas CDA.

Sebaliknya, jika hasil tes menunjukkan positif, mereka akan tetap dirawat di rumah sakit untuk pemantauan intensif dan pengobatan karena infeksi hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi yang berat dan berpotensi fatal.

CDA juga menyatakan bahwa apabila terdapat kasus positif, proses pelacakan kontak akan segera dilakukan guna mengidentifikasi orang-orang yang mungkin terpapar selama periode penularan.

“Pelacakan kontak akan dilakukan untuk mengidentifikasi orang-orang yang telah terpapar selama periode penularan, dan kontak dekat akan dikarantina,” jelas CDA lagi.

Baca juga artikel terkait HANTAVIRUS atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra