tirto.id - Wabah hantavirus menyerang para penumpang di kapal ekspedisi MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026. Setelah laporan kematian pertama akibat hantavirus dilaporkan, penumpang lainnya sempat panik. Berikut kesaksian beberapa penumpang MV Hondius.
Para penumpang sempat kekhawatiran besar di kalangan penumpang, terutama setelah beberapa kasus infeksi dan kematian terkonfirmasi selama pelayaran berlangsung. Namun, suasana di kapal mulai membaik setelah sejumlah dokter tambahan naik ke kapal dan para penumpang yang diduga atau dipastikan terinfeksi berhasil dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis.
Kesaksian Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius
Salah satu penumpang MV Hondius, seorang kreator konten perjalanan Kasem Ibn Hattuta, mengatakan bahwa kondisi di kapal kini terasa jauh lebih tenang dan terkendali.
Menurutnya, meskipun sebelumnya ada rasa khawatir terhadap kondisi para penumpang yang sakit, kini suasana kembali menyerupai hari-hari pelayaran biasa. Ia menggambarkan bahwa sebagian besar penumpang tetap menjaga semangat, saling tersenyum, dan menghadapi situasi dengan tenang.
"Suasana di kapal mungkin tenang dengan sedikit kekhawatiran karena kami mengkhawatirkan orang-orang yang sakit, tetapi sekarang tidak terasa berbeda dari hari-hari pelayaran lainnya yang pernah kami alami sebelumnya," kata Kasem dikutip USA TODAY,Kamis (7/5/2026).
"Semua orang tetap bersemangat, orang-orang tersenyum dan menghadapi situasi ini dengan tenang," tambahnya.
Kasem menjelaskan bahwa beberapa penumpang masih melakukan aktivitas ringan seperti berjalan-jalan di dek luar kapal dan mengamati burung. Di area dalam kapal, seluruh penumpang diwajibkan mengenakan masker dan menjaga jarak aman satu sama lain sebagai langkah pencegahan.
YouTuber asal Turki Ruhi Cenet, yang berada di kapal saat kematian pertama terjadi pada 11 April, menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang sangat mengejutkan.
Penumpang yang meninggal sebelumnya mengalami gejala demam, sakit kepala, dan diare ringan sejak 6 April. Menurut Cenet, para penumpang telah hidup bersama selama 24 hari, makan bersama, menghadiri sesi kuliah, aktivitas kelompok, hingga menggunakan prasmanan terbuka.
Karena itu, kematian salah satu penumpang terasa sangat personal dan menyedihkan bagi mereka. Ia juga mengungkapkan bahwa pada awalnya para penumpang tidak benar-benar siap menghadapi situasi wabah karena belum ada isolasi ketat maupun kewaspadaan penuh terhadap kemungkinan penyebaran penyakit.
"Ini sangat mengejutkan karena (kami) berada di kapal bersama orang-orang ini selama 24 hari berturut-turut, kami memiliki hubungan, jadi saya mengenal orang-orang ini dan saya sangat sedih mereka mengalami krisis kemanusiaan ini," kata Cenet dalam sebuah wawancara dengan Sky News.
Seorang wisatawan solo asal Belgia, Helene Goessaert, mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang memulai perjalanan dengan membayangkan sesama penumpang akan meninggal dunia selama ekspedisi.
Ia menambahkan bahwa operator kapal terus memberikan pembaruan informasi secara rutin kepada seluruh penumpang sehingga mereka tetap merasa mendapat informasi yang jelas mengenai situasi terkini.
"Anda tidak memulai perjalanan dengan berpikir bahwa salah satu penumpang Anda tidak akan selamat," katanya kepada Flander News.
Kreator konten perjalanan asal Boston, Jake Rosmarin, juga menyampaikan bahwa sebagian besar penumpang tetap berusaha menjaga semangat dan merasa didukung oleh kru kapal.
"Oceanwide Expeditions dan kru telah melakukan segala daya upaya untuk menjaga keselamatan, memberikan informasi, dan kenyamanan penumpang sebaik mungkin selama masa ini," ucap Rosmarin.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 3 Mei melaporkan adanya wabah hantavirus di kapal MV Hondius. Pejabat kesehatan meyakini wabah bermula dari pasangan suami istri berkewarganegaraan Belanda yang kemungkinan terpapar virus saat mengikuti ekspedisi satwa liar di daratan.
Keduanya kemudian meninggal dunia akibat infeksi tersebut. Hingga 7 Mei, WHO mencatat lima kasus hantavirus telah dikonfirmasi dan tiga kasus lainnya masih dalam dugaan.
Para penumpang yang telah turun dari kapal dan kembali ke negara masing-masing kini dipantau oleh otoritas kesehatan, termasuk di lima negara bagian Amerika Serikat dan 2 warga negara Singapura.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































