Menuju konten utama

IDAI: Indonesia Lebih Darurat Campak-Difteri daripada Hantavirus

Sejumlah penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah hingga kini masih belum tertangani secara optimal.

IDAI: Indonesia Lebih Darurat Campak-Difteri daripada Hantavirus
Ilustrasi hantavirus. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai ancaman penyakit infeksi yang lebih mendesak di Indonesia saat ini bukanlah Hantavirus, melainkan penyakit menular yang kasusnya terus terjadi, seperti campak dan difteri.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Penyakit Infeksi Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada mengatakan masyarakat memang perlu waspada terhadap Hantavirus, terutama setelah muncul kasus varian Andes pada penumpang kapal pesiar MV Hondius. Namun, dia mengingatkan agar perhatian publik tidak menggeser fokus terhadap penyakit menular yang selama ini masih menjadi persoalan besar di Indonesia.

“Saya sebagai orang infeksi akan mengatakan bahwa kita enggak perlu takut juga dan kita tidak perlu mengeluarkan begitu banyak sumber daya terhadap sesuatu yang risikonya bagi kita itu sebetulnya tidak sangat besar,” kata Dominicus dalam seminar daring IDAI, Jumat (8/5/2026).

Dominicus menilai langkah pencegahan sederhana melalui protokol perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) jauh lebih efektif dan realistis dilakukan masyarakat dibanding membangun kepanikan terhadap Hantavirus.

“Kita lebih baik menyiagakan orang per orang, keluarga per keluarga, seperti tadi misalnya kuncinya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Itu kan tiap orang bisa dan itu murah. Itu sudah sangat efektif untuk mencegah dan tidak perlu mengeluarkan biaya,” ujar Dominicus.

Dominicus bahkan menggambarkan kondisi penyakit infeksi di Indonesia saat ini sebagai situasi darurat yang lebih membutuhkan perhatian serius.

“Yang membuat saya prihatin, saat ini rumah kita ini sedang terbakar. Kasus-kasus infeksi di Indonesia ini begitu banyaknya dan kita tidak memiliki sumber daya yang cukup—tanda kutip—untuk mengatasinya,” kata dia.

Menurut Dominicus, sejumlah penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah hingga kini masih belum tertangani optimal. Dia mencontohkan kasus difteri dan campak yang masih terus ditemukan dalam beberapa tahun terakhir.

“Jadi, sudah sekian belas tahun difteri di kita. Campak ini mulai 2-3 tahun yang lalu sampai hari ini belum tuntas juga. Nah, itu kayaknya seperti itu,” tutur dia.

Dominicus menilai pemerintah dan masyarakat seharusnya tetap memprioritaskan pengendalian penyakit-penyakit tersebut karena jumlah kasusnya jauh lebih besar dibanding Hantavirus.

“Maksud saya, pencegahan kita terhadap campak, difteri, tetanus, pertussis misalnya, itu menurut saya tetap lebih penting karena kita lebih banyak kasusnya. Dan fakta menunjukkan orang-orang kita itu sangat banyak yang belum terlindungi dengan memadai,” ucapnya.

Dia juga menegaskan ancaman Hantavirus tidak dapat disamakan dengan COVID-19 karena tingkat penularannya jauh lebih rendah dan membutuhkan kontak erat.

“Kalau kayak COVID-19 pasti tidak karena dia enggak mungkin menjadi banyak dalam waktu yang singkat,” ucap Dominicus.

Baca juga artikel terkait HANTAVIRUS atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi