tirto.id - Micin atau MSG termasuk bahan yang sering dijumpai di bidang kuliner. Namun, banyak orang percaya bahwa ada kandungan micin yang membuat bodoh sehingga dianggap tidak layak untuk dikonsumsi. Jadi, apakah micin bikin bodoh dan memang tidak boleh digunakan?
Monosodium glutamate (MSG) adalah penyedap rasa yang biasanya berupa bubuk kristal putih, tidak berbau, dan mudah larut dalam air.
MSG sendiri berasal dari L-glutamat, sejenis asam amino nonesensial yang juga terdapat secara alami dalam tubuh manusia. MSG dibuat dengan cara fermentasi sumber karbohidrat seperti tebu, bit gula, dan molase.
MSG dikenal memberikan rasa umami, yaitu rasa dasar kelima selain manis, asin, asam, dan pahit. Umami digambarkan memiliki rasa seperti daging, mengacu pada keberadaan protein dalam makanan.
MSG memiliki efek umami yang dapat meningkatkan cita rasa makanan dengan merangsang produksi air liur. Efek inilah yang membuat makanan terasa lebih lezat tanpa harus menambahkan banyak garam.
Di balik efek kelezatan MSG, muncul anggapan bahwa micin berbahaya bagi kesehatan. Anggapan ini muncul di sekitar tahun 1960-an ketika seorang dokter bernama Robert Ho Man Kwok menulis surat pada New England Journal of Medicine bahwa ia mengalami gejala sakit setelah mengonsumsi makanan China.
Keluhan ini memicu serangkaian penelitian oleh para ahli, khususnya terkait MSG. Salah satu yang paling menggemparkan saat itu adalah penelitian yang dilakukan oleh Robert Olney, seorang psikiater di Universitas Washington.
Melalui eksperimen dengan tikus, Olney menyatakan bahwa MSG berbahaya karena menyebabkan tikus-tikusnya mandul, pertumbuhan terhambat, lesu, hingga bulu yang kurang halus. Ia bahkan menyarankan agar MSG tidak dikonsumsi oleh ibu hamil karena bisa membahayakan janin.
Namun, studi yang dilakukan Olney dianggap tidak meyakinkan dan dikritik oleh sejumlah dokter lain karena memiliki banyak kekurangan. Sayangnya persepsi tentang bahaya MSG sudah keburu menyebar di publik dan terus dipercaya sampai sekarang.
Apakah Micin Bikin Bodoh?

Perdebatan tentang bahaya MSG masih terus berkembang. Di masa modern seperti sekarang, MSG tetap dituding membahayakan kesehatan, bahkan bisa menghambat kecerdasan. Jadi, apakah MSG bikin bodoh?
Anggapan micin bikin bodoh dibantah oleh dokter spesialis anak, Dr. Irwanto dr., Sp.A(K). Dikutip dari laman resmi Unair, ia menegaskan bahwa otak yang lemot maupun bodoh bukan disebabkan oleh micin atau MSG.
Kalaupun ada seseorang yang mengalami gejala tertentu setelah konsumsi MSG, maka hal itu bisa disebabkan karena reaksi alergi, apalagi tingkat sensitivitas setiap orang memang berbeda-beda.
Hal ini juga diperkuat oleh sejumlah penelitian yang mengkaji efek MSG, terutama bagi kesehatan otak. Salah satunya terdapat dalam jurnal bertajuk Monosodium Glutamate in the Diet Does Not Raise Brain Glutamate Concentrations or Disrupt Brain Functions yang ditulis John D Fernstrom.
Studi tersebut meneliti efek MSG terhadap kadar glutamat dalam tubuh manusia. Glutamat sendiri merupakan asam amino alami yang berperan penting dalam berbagai proses metabolisme tubuh, termasuk sebagai pemberi rasa umami (sebagai MSG) dan sebagai zat penghantar sinyal antar sel saraf di otak.
Karena perannya di sistem saraf inilah muncul kekhawatiran bahwa konsumsi MSG dari makanan dapat meningkatkan kadar glutamat dan berpotensi mengganggu fungsi otak.
Namun, hasil penelitian Fernstrom menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah wajar tidak menyebabkan peningkatan kadar glutamat dalam darah secara signifikan.

Selain itu, tubuh manusia memiliki mekanisme perlindungan berupa blood-brain barrier yang berfungsi membatasi masuknya zat tertentu dari darah ke otak, termasuk glutamat. Mekanisme ini membuat glutamat dari makanan tidak mudah menembus otak.
Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa kadar glutamat di otak hanya dapat meningkat jika kadar glutamat dalam darah dinaikkan secara ekstrem melalui cara yang tidak normal secara fisiologis.
Dengan demikian, MSG yang dikonsumsi sehari-hari melalui makanan tidak terbukti meningkatkan kadar glutamat di otak maupun mengganggu fungsi otak.
Ada pula penelitian tentang efek MSG pada otak yang dicantumkan dalam jurnal berjudul Dampak Mengkonsumsi Monosodium Glutamat (MSG) dalam Perkembangan Otak Anak karya Diva Latifah Rochmah dan Elisa Tri Utami.
Studi ini menegaskan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung MSG, secara tidak langsung dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif otak seseorang. Namun, penelitian ini juga menggaris bawahi bahwa dampak negatif ini terjadi jika MSG dikonsumsi secara berlebihan.
Lebih lanjut, studi tersebut menjelaskan bahwa menggunakan MSG sebagai penyedap masakan boleh-boleh saja, asalkan digunakan dalam jumlah yang tidak berlebihan.
Jadi, apakah micin bikin bodoh? Sejauh ini menurut penelitian yang ada, mengonsumsi MSG dalam jumlah wajar tidak terbukti mengganggu fungsi otak, membuat bodoh, atau menurunkan kecerdasan seseorang.
Manfaat dan Bahaya MSG Bagi Kesehatan

MSG atau micin telah menjadi zat aditif yang paling umum digunakan untuk meningkatkan rasa umami pada makanan. Meski telah digunakan secara luas selama lebih dari satu abad, MSG masih sering menjadi kontroversi karena berbagai klaim pro dan kontra seputar efeknya bagi kesehatan.
Untuk memahami dengan lebih baik, di bawah ini terdapat manfaat dan bahaya MSG yang patut diketahui agar lebih bijaksana dalam menggunakannya.
Manfaat MSG
Manfaat utama MSG adalah sebagai penyedap rasa. Tidak hanya mampu memberikan rasa gurih yang khas (umami), tapi MSG juga dapat membuat makanan terasa lebih lezat tanpa perlu menambahkan terlalu banyak garam.Jadi, menggunakan MSG juga bisa mengurangi konsumsi natrium atau garam dalam makanan sehari-hari. Seperti yang diketahui, penggunaan garam sering kali dikaitkan dengan risiko kesehatan seperti hipertensi hingga jantung.
Menurut situs Harvard Health, MSG justru memaksimalkan cita rasa makanan dengan natrium yang lebih rendah daripada garam biasa. Dalam 100 gram MSG, terdapat sekitar 12,28 gram natrium, sekitar sepertiga dari natrium yang ditemukan dalam garam meja (39,34 gram/100 gram).
Sementara menurut situs Healthline, sejumlah penelitian menyatakan bahwa mengganti sebagian garam dengan glutamat (seperti MSG) dapat mengurangi asupan natrium sekitar 3% tanpa mengorbankan rasa.
Bahaya MSG
Meski memiliki manfaat, penggunaan MSG juga harus tetap terkontrol karena memiliki efek samping tersendiri, berikut di antaranya:- Reaksi Sensitivitas MSG pada Sebagian Orang
Dikutip dari Mayo Clinic, beberapa gejala tersebut meliputi sakit kepala, wajah memerah, kesemutan, detak jantung cepat, nyeri dada dan otot, hingga mual.
Gejala ini kerap disebut sebagai MSG symptom complex, tapi penelitian belum mampu memastikan MSG sebagai penyebab langsung dari gejala-gejala tersebut.
- Potensi Risiko jika Dikonsumsi Berlebihan
Studi ulasan ilmiah bertajuk Reconsideration of the Health Effects of Monosodium Glutamate: From Bench to Bedside Evidence menunjukkan bahwa paparan MSG dalam dosis tinggi dan jangka panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan, termasuk obesitas, toksisitas ginjal dan reproduksi, hingga kerusakan sel hati.
Perlu diketahui juga bahwa mayoritas penelitian yang diulas berasal dari model hewan dan menggunakan dosis jauh di atas konsumsi manusia biasa.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam kadar yang berlebihan bisa menyebabkan kerusakan beberapa organ tubuh, seperti hati, jantung, dan ginjal.
Hal ini diungkap dalam jurnal Evaluation of the Effects of Monosodium Glutamate Overconsumption on the Functions of the Liver, Kidney, and Heart of Male Rats: The Involvement of Dyslipidemia, Oxidative Stress, and Inflammatory Responses.
Meski demikian, penelitian ini menggunakan hewan dan relevansi langsungnya terhadap kesehatan manusia pada pola makan normal (dengan dosis MSG yang wajar) masih membutuhkan penelitian lanjutan.
Demikian penjelasan terkait pertanyaan apakah micin bikin bodoh. Pertanyaan selanjutnya adalah berapa jumlah konsumsi MSG yang wajar dan aman?
Menurut Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), MSG memiliki status acceptable daily intake (ADI) not specified. Artinya tidak ditetapkan batas numerik khusus karena MSG dianggap memiliki toksisitas yang sangat rendah dan aman dalam konsumsi normal sesuai kebutuhan.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat penggunaan yang biasa ditemukan dalam makanan sehari-hari, MSG tidak dianggap berbahaya.
Namun, beberapa lembaga lain seperti European Food Safety Authority (EFSA) menyatakan nilai ADI untuk MSG sekitar 30 mg/kg berat badan per hari, yang bila dikalkulasikan berarti sekitar 2 gram per hari untuk orang seberat 70 kg.
Sementara menurut situs U.S. Food and Drug Administration (FDA), satu porsi makanan dengan tambahan MSG biasanya mengandung kurang dari 0,5 gram MSG, jauh di bawah batas aman ADI.
Dengan demikian, penggunaan sedikit MSG dalam masakan sehari-hari masih tergolong aman. Namun, tetap pastikan untuk tidak mengonsumsi berlebihan agar terhindar dari berbagai risiko kesehatan.
Butuh informasi lain seputar dunia kesehatan? Temukan berita terkini, tips, hingga rekomendasi produk melalui kumpulan artikel Tirto berikut ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































