tirto.id - Kasus influenza meningkat pesat di Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun 2025. Banyak pihak menyebutnya sebagai “super flu” karena transmisinya yang disinyalir lebih cepat dari jenis influenza lain. Apa saja gejalanya?
Di Amerika, kini tengah terjadi lonjakan kasus infeksi influenza di tengah liburan musim dingin. Menukil Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), 16 negara bagian AS kini dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat kasus infeksi antara tinggi hingga sangat tinggi.
Menurut data CDC per 19 Desember 2025, diperkirakan sebanyak 4,6 juta warga AS terinfeksi influenza dengan 49.000 di antaranya mendapatkan layanan rawat inap dan 1.900 di antaranya berujung pada kematian.
Melansir USA Today, New York menjadi salah satu yang paling terdampak melonjaknya kasus infeksi influenza ini. Per 20 Desember, Departemen Kesehatan Negara Bagian New York mencatatkan jumlah infeksi flu positif tertinggi yang pernah dicatat dalam seminggu, yakni 71.123 kasus.
Menukil ABC News, para ahli kesehatan di AS menduga peningkatan kasus infeksi influenza ini disebabkan oleh mutasi virus flu baru, yakni H3N2 subclade K, yang merupakan mutasi dari virus influenza tipe A.
Oleh banyak pihak, influenza akibat H3N2 subclade K ini disebut sebagai “super flu”, karena diduga memiliki tingkat transmisi lebih cepat dan relatif sulit dikenali dengan jenis flu lain tanpa uji lab.
Perbedaan Super Flu dan Flu Biasa, Apa Gejalanya?
Meskipun masih di taraf penemuan kenaikan kasus dan belum diteliti secara penuh, virus penyebab super flu ini tidak bisa dianggap sepele. Menurut Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, influenza tipe A cukup berisiko tinggi bagi anak balita dan lansia.
Risiko dampak akibat infeksi virus influenza tipe A, menurut Piprim, juga bertambah pada anak-anak dengan komorbid, seperti asma, jantung bawaan, hingga obesitas dan diabetes.
"Anak-anak dengan kondisi seperti ini jika tertular influenza tipe A atau tipe baru bisa berakibat serius," katanya dalam Media Briefing IDAI via Zoom Meetings pada Senin (29/12).
Meskipun begitu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani menuturkan bahwa tren peningkatan kasus influenza tipe A (H3N2) subclade K tidak perlu ditanggapi dengan gagap.
Dalam Media Briefing IDAI via Zoom Meetings pada Senin, Nastiti menyatakan bahwa influenza subclade K sejauh ini tidak terbukti memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dari influenza tipe A (H3N2) lainnya.
Terlebih, imunisasi influenza yang kini ada masih dilaporkan berkhasiat menekan tingkat infeksi virus penyebab influenza tipe A subclade K alias "super flu" ini.
"Belum ada bukti bahwa subclade ini kebal atau tetap menginfeksi orang-orang yang sudah diimunisasi. Laporan tetap mengatakan bahwa kerentanan meningkat pada orang yang tidak diimunisasi," katanya.
Meski demikian, menurut Nastiti, hal yang perlu diwaspadai dari varian baru influenza tipe A ini adalah kecepatan transmisi atau penularannya.
"Kalau influenza biasa bisa menularkan 2-3 orang, mungkin ini lebih [banyak]," kata Nastiti.
Akan tetapi, hal ini baru dugaan para profesional berdasarkan laju peningkatan kasus yang terjadi.
"Penelitiannya belum [memadai], karena memang masih dalam taraf penemuan kasusnya meningkat. Masih memerlukan penelitian lebih lanjut," tutur Nastiti.
Selain dugaan kecepatan transmisi yang tinggi, Nastiti juga mewanti-wanti perihal varian subclade K yang tergolong sulit dibedakan tanpa uji lab yang memadai.
Kedua hal tersebut, kata Nastiti, menjadikan "super flu" memiliki tingkat risiko lebih tinggi pada kelompok rentan, yakni anak usia balita, lansia, orang dengan komorbid, dan pasien dengan obat penekan imun (seperti HIV/AIDS, kanker, dan rheumatoid arthritis).
Sementara itu, menurut Nastiti, gejala influenza A subclade K alias "super flu" ini memiliki gejala serupa dengan influenza tipe A lainnya, yakni:
- Demam tinggi,
- Kelelahan berat,
- Nyeri otot,
- Pilek atau hidung tersumbat,
- Menggigil,
- Nyeri tenggorokan.
Memahami Influenza: Beda dengan Selesma
Sebelum menguraikan karakteristik influenza tipe A (H3N2) subclade K, Nastiti terlebih dahulu menjelaskan apa itu influenza sebagai terminologi medis.
Menurutnya, masyarakat Indonesia masih salah mengira influenza atau flu dengan selesma atau common cold.
Nastiti menuturkan bahwa selesma merupakan kondisi medis dengan gejala mirip flu namun tingkat keparahannya lebih rendah dan dapat sembuh dengan istirahat cukup.
Berbeda dari selesma, influenza merupakan salah satu penyakit dengan tingkat keparahan tinggi. Hal ini dikarenakan influenza berpeluang menjadi penyebab penyakit komplikasi berbahaya seperti pneumonia, gagal ginjal, dan gagal hati.
"Influenza adalah salah satu penyakit yang cukup ditakuti, di negara maju sekalipun, terutama di negara dengan musim dingin," tuturnya."
"Ini masih merupakan salah satu penyebab kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta," tambahnya.
Oleh karenanya, Nastiti menuturkan agar masyarakat dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti menjaga pola makan bergizi dan menjaga kebersihan lingkungan serta kebersihan diri.
Selain itu, jika merasakan gejala influenza, Nastiti juga menganjurkan segera mengakses layanan pemeriksaan kesehatan oleh dokter.
"Influenza ada obatnya. Kalau terdeteksi ada keparahan penyakit akibat influenza, dokter akan meresepkan oseltamivir atau tamiflu," tutur Nastiti.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id

































