Menuju konten utama

Pneumonia, Penyakit Purba yang Kembali Merajalela

Pneumonia yang merebak di daratan Cina baru-baru ini dikaitkan dengan pencabutan aturan pembatasan Covid-19 dan peredaran patogen pada musim dingin.

Pneumonia, Penyakit Purba yang Kembali Merajalela
Header Diajeng Pneumonia Anak. tirto.id/Quita

tirto.id - Akhir tahun 2023 ini muncul kejutan baru. Pneumonia misterius berjangkit di daratan Cina. Anak-anak menjadi korban utamanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat dibuat kalang kabut. Meski begitu, karena tidak ditemukan patogen yang tidak biasa, WHO menyarankan tak sampai perlu terjadi kepanikan internasional.

Otoritas Cina, dalam pernyataan WHO yang rilis November silam, menjelaskan bahwa peningkatan kasus pneumonia di negerinya terjadi setelah pencabutan pembatasan Covid-19 dan peredaran patogen seperti influenza, Mycoplasma pneumoniae (infeksi bakteri umum yang menyerang anak-anak), virus pernapasan syncytial (RSV) dan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

UNICEF menuturkan, di Indonesia, pneumonia menjadi penyebab kematian terbesar pada anak di bawah lima tahun (balita). Pada 2018, diperkirakan 19.000 anak Indonesia meninggal dunia karenanya. Menurut estimasi global, setiap satu jam ada 71 anak di Indonesia yang tertular pneumonia.

Sementara itu, data WHO tahun 2019 menuturkan, pneumonia menyebabkan 14 persen dari seluruh kematian anak di bawah usia lima tahun dengan total kematian 740.180 jiwa.

Menurut American Thoracic Society, pneumonia adalah infeksi paru-paru yang membuat paru-paru terisi cairan sehingga membuat sulit bernapas. Di Amerika Serikat, pneumonia jarang berakibat fatal meskipun tetap dianggap masalah besar karena sering menyebabkan anak-anak dirawat di rumah sakit.

Dalam keterangan pers yang disusun dr. Wahyuni Indawati Sp. A, Subsp. Resp dari Rumah Sakit Pondok Indah, pneumonia disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, dan jamur, dan menjadi penyebab terbesar kematian anak dibandingkan penyakit menular lainnya.

Header Diajeng Pneumonia Anak

Seorang pria menggendong seorang anak ketika mereka meninggalkan rumah sakit anak-anak di Beijing, Jumat, 24 November 2023. (Foto AP/Ng Han Guan)

Penyebab paling umum pneumonia di seluruh dunia adalah bakteri Streptococcus pneumonia.

Bakteri ini ditemukan pada 1881 oleh ahli mikrobiologi Prancis Louis Pasteur dan ahli mikrobiologi asal Amerika Serikat George Sternberg. Keduanya meneliti secara terpisah, namun menyatakan kesimpulan sama bahwa bakteri ini ditemukan di dalam air liur.

Bakteri lain, meskipun jarang, adalah Mycoplasma pneumoniae yang biasa menyerang pasien di bawah usia 30 tahun dengan gejala batuk menggila.

Sementara virus penyebab pneumonia umumnya seperti virus influenza, RSV, adenovirus dan HPIV (human parainfluenza virus), virus corona dan rhinovirus.

Pneumonia, dibentuk dari kata pneumon yang berarti paru-paru dalam bahasa Yunani, sudah ada sejak ribuan tahun lalu. “Bapak Kedokteran” Hippocrates menamainya ‘a disease of the ancient—penyakit purba’.

Maimonides pada abad ke-12 sudah menuliskan sederet gejala pneumonia, seperti demam akut, nyeri pleuritik atau nyeri di bagian selaput paru-paru samping, napas pendek dan cepat, serta batuk.

Menurut dr. Wahyuni, gejala sesak napas ditandai oleh adanya usaha bernapas yang berat seperti tarikan dinding dada saat bernapas maupun adanya napas cuping hidung.

Sesak napas ini mengindikasikan anak kekurangan oksigen. Lebih lanjut ia menjelaskan cara mengenali anak yang mengalami sesak napas, yaitu dengan menghitung frekuensi napasnya dalam satu menit dengan meletakkan tangan di dadanya.

Sesak napas ditandai dengan frekuensi napas cepat, yaitu lebih dari 60 kali/menit (bayi usia kurang dari dua bulan), lebih dari 50 kali/menit (usia dua bulan sampai satu tahun), lebih dari 40 kali/menit (usia satu sampai lima tahun), dan lebih dari 30 kali/menit (usia lebih dari lima tahun).

Belum lama ini, Gema, anak perempuan berusia tiga tahun, dinyatakan oleh dokter terinfeksi pneumonia. Anak kedua Lucky Lombu (40) ini mengalami pilek dan batuk lebih dari tiga hari.

“Sudah diberi inhalasi tapi belum juga mereda, malah kemudian demam. Batuk, muntah-muntah. Untungnya masih mau makan,” papar Lucky.

Lucky tidak langsung membawa Gema ke dokter dan mencoba mengatasi sendiri batuknya dengan inhalasi yang diresepkan oleh dokter.

“Tapi demam selama 3 hari dengan suhu lebih 38 derajat, membuat kami memutuskan untuk membawanya ke dokter. Kami tidak langsung ke UGD karena berdasarkan pengalaman, di UGD hanya diberi tambahan obat dan menenangkan sementara,” ungkap Lucky.

Setelah dokter melakukan observasi di rumah sakit, terungkap bahwa Gema mengalami pneumonia dan harus dirawat karena saturasi oksigennya kurang dari 80.

“Dokter tidak mengatakan apakah pneumonia viral atau bakterial. Dokter mengatakan dari udara,” kata Lucky.

Sebagai penyakit yang bisa muncul kapan saja, pneumonia sebetulnya dapat dicegah. Caranya dengan pola hidup sehat seperti rajin mencuci tangan, menjaga sirkulasi udara di rumah mengalir dengan baik, mengurangi paparan polusi udara dengan mengenakan masker saat berada di luar rumah.

Pemberian vaksin juga merupakan langkah pencegahan yang baik. Vaksin pneumonia bakterial pertama dikembangkan pada tahun 1977—disebut vaksin polisakarida pneumokokus (PPV). Sayangnya, vaksin ini hanya melindungi terhadap bakteri streptococcus dalam jumlah terbatas.

Pada tahun 2000 dikembangkan vaksin kedua, yaitu vaksin konjugat pneumokokus (PCV). PCV dapat memberikan perlindungan terhadap beberapa strain yang resisten terhadap antibiotik. WHO merekomendasikan agar PCV menjadi imunisasi rutin bagi anak di seluruh dunia. Di Indonesia, program imunisasi PCV tingkat nasional dicanangkan pemerintah pada 2022.

Masih mengutip paparan dr. Wahyuni, selain PCV, terdapat vaksin lain yang dapat melindungi anak dari pneumonia, seperti vaksin kombinasi Difteri Pertusis Tetanus Haemophilus Influenza B (DPT HiB), vaksin influenza, dan vaksin MR (measles rubella).

“Gema sudah mendapatkan vaksin lengkap termasuk DPT Hib. Kata dokter kalau nggak divaksin bisa lebih fatal. Gema masih aktif, masih bisa makan. Kata dokter begitu dirawat kondisinya lebih stabil dibandingkan anak-anak yang tidak divaksin,” kata Lucky.

Header Diajeng Pneumonia Anak

Header Diajeng Pneumonia Anak. foto/IStokcphoto

Pneumonia juga dapat dicegah secara efektif dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi, memastikan status gizi yang baik, menghindari asap rokok, dan polusi udara lain.

Yang jadi pertanyaan sekarang, sejauh mana kita perlu mengkhawatirkan fenomena pneumonia?

Sejumlah pakar melihat kemunculan pneumonia akhir-akhir ini sebagai dampak lumrah dari pencabutan pembatasan Covid seiring kita mulai meninggalkan kebiasaan jaga jarak dan semakin sering beraktivitas di luar.

Dilansir dari Healthline, profesor dan direktur Bay Area Center for AIDS Research di University of California San Francisco, Dr. Monica Gandhi, MPH, mengaitkannya dengan ‘immunity debt’ alias utang kekebalan tubuh.

Tubuh kita menjadi lebih rentan terhadap virus-virus yang belum kita temui sekian tahun belakangan ini sesederhana karena kita belum sempat membangun kekebalan dari mereka.

Penting diketahui, peningkatan kasus infeksi pernapasan seperti di Cina juga terjadi di negara-negara lain.

“Kita menyaksikan musim influenza parah di Australia selama musim panas 2022 (musim dingin di Australia), yang tercermin pada influenza parah dan musim RSV selama musim dingin di belahan bumi utara (terutama pada anak-anak),” imbuh Dr. Gandhi.

Baca juga artikel terkait LYFE atau tulisan lainnya dari Imma Rachmani

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Imma Rachmani
Penulis: Imma Rachmani
Editor: Sekar Kinasih