Menuju konten utama

Update Gaza Hari Ini: Krisis Kelaparan & Israel Perluas Agresi

Simak update kelaparan Gaza hari ini dan perluasan agresi Israel.

Update Gaza Hari Ini: Krisis Kelaparan & Israel Perluas Agresi
Warga Palestina berkerumun di titik distribusi sup miju-miju di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, pada 27 Juli 2025. AFP/Omar AL-QATTAA
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Krisis kelaparan terjadi di Jalur Gaza, Palestina, terutama di Gaza Utara dan Kota Gaza. Sementara itu, Israel juga memperluas agresi ke wilayah utara Kota Gaza. Simak update Gaza hari ini dan perluasan agresi Israel.

Berdasarkan laporan terbaru Wafa News, dalam 24 jam terakhir sejak Senin, (4/8/2025), 94 warga Palestina tewas, termasuk empat yang ditemukan dari reruntuhan.

Selain itu, 439 korban luka dirawat di rumah sakit Gaza. Dari jumlah tersebut, 29 korban tewas dan 300 korban luka ialah para pencari bantuan.

Sementara itu, PBB mengecam skala pembunuhan yang terjadi di Gaza yang mencapai 28 anak meninggal setiap hari akibat serangan Israel dan kekurangan makanan.

Update Kondisi Gaza Terbaru

Laporan PBB menyatakan lebih dari 1.000 orang warga di Jalur Gaza tewas saat mencoba menerima bantuan di wilayah kantong sejak The Gaza Humanitarian Foundation (GHF) mulai beroperasi pada Mei 2025.

Sebagian besar dari mereka ditembak oleh pasukan Israel yang beroperasi di dekat lokasi GHF. Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat kelaparan menjadi 180 orang, termasuk 93 anak-anak.

The Integrated Food Security Phase Classification (IPC) mengungkapkan bahwa kelaparan di jalur Gaza adalah bencana buatan manusia. Hal ini bukan konsekuensi dari kelangkaan alami, melainkan pilihan politik. IPC merupakan lembaga yang menilai kelaparan dan kerawanan pangan. Satu dari lima anak di Kota Gaza kini mengalami malnutrisi akut.

Melihat banyaknya malnutrisi yang terjadi, International Rescue Committee (IRC) menjelaskan malnutrisi akut dapat merusak kekebalan tubuh, membuat penyakit umum seperti diare atau pneumonia menjadi fatal.

Malnutrisi akut menghambat perkembangan otak, mengganggu pertumbuhan fisik, dan meninggalkan konsekuensi seumur hidup. Seorang anak yang menderita malnutrisi akut, 12 kali lebih mungkin meninggal karena penyakit dibandingkan anak yang gizinya baik.

Bahkan mereka yang bertahan hidup akan menanggung dampak krisis ini selama beberapa dekade. Meskipun banyak bukti kuat tentang malnutrisi yang merajalela dan meningkatnya kematian akibat kelaparan, Gaza tetap terisolasi.

Per Senin (4/8/2025), beberapa jenazah dibungkus dengan selimut tebal bermotif, bukan kain kafan putih. Hal ini terjadi karena kain kafan sangat langka akibat pembatasan perbatasan Israel yang terus berlanjut. Sementara, jumlah kematian harian terus meningkat.

Melansir laporan Reuters, Badan-Badan PBB menyatakan bahwa bantuan makanan melalui udara tidak mencukupi. Oleh karena itu, Israel harus mempermudah akses untuk mengirimkan lebih banyak bantuan melalui darat.

Beberapa negara telah mengirimkan bantuan melalui udara di Gaza. Namun, PBB dan kelompok-kelompok bantuan menyebut pengiriman bantuan jalur udara terbilang mahal, berbahaya bagi penduduk, dan bantuan yang dikirimkan jauh lebih sedikit daripada truk.

Berdasarkan video yang diunggah oleh AP pada hari Senin (4/8/2025), warga Palestina bersorak ketika palet-palet bantuan diterjunkan di atas Zuweida, Gaza Tengah.

Rekaman Associated Press menunjukkan orang-orang yang saling berebut ketika paket-paket itu jatuh ke tanah. Bahkan, warga Gaza saling berkelahi untuk mendapatkan sebungkus tepung dan kebutuhan pokok lainnya.

"Saya berharap mereka mengirimkannya melalui penyeberangan (darat). Ini tidak manusiawi," kata Rabah Rabah, warga Palestina yang melihat orang-orang berkelahi untuk mendapat bantuan makanan, mengutip laporan AP pada Senin (4/8/2025).

Kelaparan di Gaza

Warga Palestina menunggu di titik distribusi sup miju-miju di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, pada 27 Juli 2025. AFP/Omar AL-QATTAA

Laporan Time menyebutkan bahwa pengiriman udara dan jalur laut yang dilakukan oleh komunitas internasional bukanlah akses yang aman dan berkelanjutan.

Pengiriman udara dinilai tidak efisien, terbatas skalanya, berbahaya, dan tidak mampu menyediakan makanan dan perawatan medis khusus yang dibutuhkan untuk menyelamatkan anak-anak yang kekurangan gizi.

Sementara itu, jalur darat bukan hanya pilihan yang paling efisien, tetapi juga satu-satunya pilihan realistis dalam skala dan kecepatan yang dibutuhkan krisis ini.

Serangan udara Israel pada Senin malam (4/8/2025) juga turut menewaskan dua warga sipil dan melukai beberapa lainnya di utara Kota Gaza.

Melansir laporan Wafa News, serangan jet tempur Israel menargetkan sekelompok orang di wilayah Al-Tawam, utara Kota Gaza.

Menanggapi desakan internasional, Media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan mengadakan rapat kabinet keamanan besok, Rabu, (5/8), sambil mempertimbangkan kemungkinan melancarkan operasi untuk mengambil alih kendali penuh atas Gaza.

Pembaca juga dapat mengetahui laporan terbaru tentang kelaparan di Gaza melalui artikel di bawah ini:

Info Terbaru Kelaparan di Gaza

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo