Menuju konten utama
Mozaik

Sang Pujangga Menjadi Rawayan Sunda Kuno dan Baru

Sebagai pujangga, lewat karya-karyanya, Kai Raga seolah menjadi jembatan antara ingatan tentang Sunda lama dengan Sunda kiwari yang telah bersalin rupa.

Sang Pujangga Menjadi Rawayan Sunda Kuno dan Baru
Header mozaik Disintegrasi Kerajaan Sunda dan Masuknya Islam. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Artikel Sebelumnya

Bagian 1: Kampanye Purnawarman dan Skenario Tanjung Priok

Bagian 2: Kala Sriwijaya Menghukum Tarumanegara

Bagian 3: Pengembalian Kekuasaan dari Sriwijaya ke Kerajaan Sunda-Galuh

Bagian 4: Runtuhnya Kerajaan Sunda: Pemimpin Buruk & Serbuan Wong Pasisir

Bagian 5: Lahirnya Zaman Menak, Identitas Sunda Baru

Jejak kebudayaan Sunda Kuno, yakni kebudayaan Sunda pada masa kejayaan Kerajaan Sunda-Galuh, sejak masuknya pengaruh Islam (abad ke-16 hingga 17 M) makin tergerus dan tergantikan. Anasir budaya Jawa-Islam via Cirebon dan Mataram demikian masif melipat lembaran tradisi Sunda lama dalam bentuk yang beraneka ragam, mulai dari bahasa, kesenian, gaya hidup, bahkan cara berpakaian.

Sementara itu, warisan Sunda Kuno sebenarnya masih terekam samar-samar di benak orang Sunda masa Islam-Kolonial. Rekaman akan hal itu tertuang pada folklor seperti pantun atau wawacan, utamanya yang berkaitan dengan Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi.

Sastrawan Sunda, Ajip Rosidi, dalam pidato doktoral honoris causa-nya yang berjudul Urang Sunda di Lingkungan Indonesia (2011), pernah secara tegas mengkritisi kepercayaan orang Sunda terhadap "kemagisan" istilah Pajajaran dan Siliwangi yang menurutnya cenderung ahistoris. Menurut Ajip, kedua istilah itu walaupun bersinggungan dengan sejarah Sunda Kuno, namun telah lama meninabobokan orang Sunda dalam romantisme masa lalu tanpa dasar.

Terlepas dari fenomena degradasi nilai-nilai Sunda lama pada orang Sunda modern yang dikritisi Ajip Rosidi, sebenarnya terdapat satu tokoh dalam sejarah Sunda masa Islam-Kolonial yang bisa dianggap menjadi pengecualian dari fenomena itu. Eksistensinya dikenal luas di kalangan para sarjana Sundanologi—khususnya para filolog—yang gandrung dengan karya-karya naskahnya yang memukau.

Satu hal yang bikin para filolog terheran-heran adalah bahwa naskah-naskah yang ia tulis beraksara dan berbahasa Sunda Kuno, sedangkan sang penulis diperkirakan hidup di sekitar abad ke-18 M. Hal ini tentu membingungkan, lantaran pada masa ia hidup orang Sunda kebanyakan telah menggunakan aksara cacarakan dan bahkan bahasa Jawa pesisir.

Kendati demikian, kedudukan naskah-naskahnya dianggap sah dan bahkan dianggap sebagai solusi atas masalah missing link bahasa Sunda Kuno dan Baru. Dialah Kai Raga, orang yang saya pribadi menggelarinya sebagai sang rawayan—jembatan gantung yang terbuat dari bambu.

Pujangga Terakhir Gunung Larang Sri Manganti

Kai Raga bukanlah nama asli, melainkan gelar pena yang memiliki artinya "tubuhku". Nama yang cukup representatif dalam menggambarkan kegemarannya dalam menulis atau menyalin teks-teks esoterik nan kontemplatif.

Tokoh ini pertama kali disinggung dalam tulisan ahli filologi, C.M. Pleyte, yang berjudul "Poernawidjaja’s Hellevar of de Volledegide Verlosing.Vierde Bijdrage tot de Kennis van het Oude Soenda" (1914). Ia disinggung sebagai penulis yang sering muncul dalam kolofon naskah-naskah Sunda Kuno.

Menurut Pleyte, sosok Kai Raga awalnya dipercaya sebagai tokoh penyuplai naskah-naskah Sunda Kuno bagi Raden Saleh hingga paling tidak tahun 1856. Namun hal ini tidak mungkin, lantaran naskah-naskah Kai Raga memiliki pola yang mirip dengan naskah Carita Waruga Guru yang kemungkinan berasal dari abad ke-18. Jadi, sosok yang berkorespondensi dengan Raden Saleh mungkin adalah salah satu keturunan Kai Raga yang hidup di pertengahan abad ke-19.

Kai Raga adalah seorang pujangga yang hidup di Gunung Larang Sri Manganti atau di sekitar Gunung Cikuray, Kabupaten Garut sekarang. Sebagaimana disinggung oleh Dani Sunjana dalam "Gunung sebagai Lokasi Situs-situs Keagamaan dan Skriptoria Masa Sunda Kuno" (2019), nama Srimanganti merujuk pada satu tempat di lereng barat Cikuray yang menjadi tempat disimpannya puluhan naskah Sunda Kuno dari berbagai zaman.

Tempat itu sendiri hingga sekarang dikenal sebagai satu kabuyutan (daerah suci) yang dikenal sebagai Kabuyutan Ciburuy. Secara arkeologis tempat tersebut sampai sekarang menyisakan jejak-jejak arkais, seperti susunan-struktur megalitik, alat-alat logam, dan tentunya naskah-naskah Sunda Kuno. Di sisi lain, otentisitas Ciburuy sebagai satu pusat keagamaan yang dikeramatkan juga muncul dalam naskah Bujangga Manik yang berasal dari abad ke-15.

Karena Ciburuy merupakan satu tempat yang cukup terpencil dan memiliki sejarah panjang akan tradisi literasi Sunda Kuno, maka tidak mengherankan jika sosok Kai Raga menjadi akrab dengan tradisi para leluhurnya. Seperti disebut oleh Ade Ahmad Suprianto dalam "Transformasi Tradisi Penulisan Naskah Sunda Kuno pada Masa Peralihan Ditinjau melalui Karya-Karya Kai Raga” (2015), Kai Raga meninggalkan beberapa karya naskah yang cukup monumental.

Karya-karyanya yang dianggap berasosiasi dengan keberlanjutan tradisi Sunda Kuno antara lain Carita Purnawijaya, Carita Ratu Pakuan, Kawih Paningkes, Kawih Pangeuyeukan, dan Darmajati. Masing-masing naskah memiliki berbagai keistimewaan dalam pandangan filologis.

Carita Purnawijaya, misalnya, seperti disampaikan oleh Pleyte (1914), merupakan bentuk nyata interaksi para pujangga Jawa dengan Sunda pada masa klasik—khususnya zaman Majapahit. Carita Purnawijaya merupakan bentuk adaptasi pujangga Sunda Kuno dari teks Kunjarkarna yang berbahasa Jawa Kuno. Kawih Pangeuyeukan di sisi lain dalam pandangan Mamat Ruhimat dan Tien Wartini (2014) merupakan bukti tertulis yang paling detail mengenai tradisi menenun di kalangan orang Sunda Kuno, di mana seni sastra ikut andil dalam proses pengkaryaan wastra tersebut.

Islam, Kai Raga, dan Keterbukaan

Mengenai aspek religi yang dianut Kai Raga, beberapa ahli masih memperdebatkannya. Pasalnya, sang pujangga belakangan juga diketahui menulis satu naskah berjudul Wirid Nur Muhammad, yang uniknya ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon dan aksara Sunda Kuno.

Menurut Aditia Gunawan dan Atep Kurnia dalam "Naskah-naskah Islam dari Kabuyutan" (2016), naskah ini menitikberatkan pada proses penciptaan seluruh makhluk dalam pemahaman aliran tasawuf. Proses penciptaan itu diawali dengan eksistensi roh idhafi yang memancarkan berbagai makhluk dari mulai unsur-unsur alam, malaikat, manusia hingga para nabi.

Para filolog berpandangan bahwa kemungkinan asal ide teologis dalam naskah ini bersumber dari Surah Al-Baqarah dan Thaha, walaupun terdapat ketidakcocokan di sana sini. Besar kemungkinan Kai Raga mendapatkan pengetahuan akan hal ini dari satu teks yang berjudul Kitab Daqaiq al-Akbar.

Bagi Gunawan dan Kurnia, petunjuk akan naskah Islam yang digarap oleh Kai Raga merepresentasikan dua kemungkinan atas identitas keagamaan sang pujangga. Pertama, Kai Raga yang awalnya beragama non-Islam dan dibesarkan di kabuyutan mungkin sekali memeluk Islam di masa tuanya.

Kedua, mungkin Kai Raga dari awal memang memeluk agama Islam namun kemudian ditugaskan oleh penguasa setempat untuk menyalin naskah-naskah kuno dari Ciburuy.

Namun yang jelas, bahkan di dalam naskah-naskah Islam-nya sekalipun, Kai Raga tidak benar-benar meninggalkan unsur religi Sunda pra-Islamnya. Hal ini jelas terlihatdalam mantra Jampe Sepi Geni yang berbunyi sebagai berikut:

"Ya Allah Tuhanku pedang api, teranglah api, wahai dia Brahma, Allah Maha Besar, jadilah lemah tak berdaya, lembut dan halus."

Baca juga artikel terkait SEJARAH SUNDA atau tulisan lainnya dari Muhamad Alnoza

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Muhamad Alnoza
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Irfan Teguh Pribadi