Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Menguat 0,12% ke Level Rp17.168 per US$ Hari Ini

Sepanjang hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.150–17.187 per dolar AS, setelah dibuka pada level Rp17.158 per dolar AS.

Rupiah Ditutup Menguat 0,12% ke Level Rp17.168 per US$ Hari Ini
Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.168 pada perdagangan hari ini, Senin (20/4/2026). Rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.189.

Sepanjang hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.150-17.187 per dolar AS, setelah dibuka pada level Rp17.158 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi faktor geopolitik di Timur Tengah. Pasalnya, Selat Hormuz kembali ditutup setelah AS mengatakan pihak lain telah melanggar kesepakatan gencatan senjata mereka dengan menyerang kapal-kapal selama akhir pekan.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan bahwa militer AS telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. Sementara, Iran mengatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua pembicaraan damai, meskipun Trump mengancam akan melakukan serangan udara lagi.

Kondisi tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak hingga 7 persen pada hari ini, dan memicu kekhawatiran atas inflasi.

"Selain itu, ketegangan baru ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS tahun ini telah bergeser secara signifikan ke arah sikap lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama sebagai akibat dari inflasi yang masih tinggi akibat tingginya harga energi dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah," urai Ibrahim.

Sementara itu, faktor internal menguatnya rupiah, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mewanti-wanti agar Pemerintah RI tidak belanja berlebihan di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. Peringatan ini muncul sejalan dengan adanya risiko resesi, jika perang terus berkecamuk di Iran dan menekan harga bahan bakar minyak.

"IMF pun melihat tidak adanya solusi yang jelas untuk mengatasi permasalahan ini. Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas energi penting di Timur Tengah meningkatkan prospek krisis energi besar, jika solusi jangka panjang tidak segera ditemukan," ucapnya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana