tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.143 pada perdagangan hari ini, Rabu (15/4/2026). Rupiah terdepresiasi sebesar 16 poin atau 0,09 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.127.
Mata uang Garuda hari ini bergerak di rentang Rp17.120-Rp17.152 per dolar AS usai dibuka pada level Rp17.125 per dolar AS pagi tadi.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan ruiah hari ini masih dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah usai Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan bahwa blokade pelabuhan Iran telah sepenuhnya diterapkan, dan pasukan AS telah sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui Selat Hormuz.
Blokade laut terhadap Iran tersebut berpotensi meningkatkan gangguan pengiriman di Selat Hormuz, terutama jika Teheran membalas langkah tersebut dengan kekuatan militer. Hormuz adalah titik fokus utama dalam perang Iran, dengan Teheran secara efektif memblokir saluran tersebut sebagai tanggapan terhadap permusuhan AS-Israel pada akhir Februari.
"Selat Hormuz memasok sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, dengan beberapa negara Asia-Pasifik sangat bergantung padanya," tutur Ibrahim dalam rilis hariannya.
Meski begitu, gencatan senjata antara AS dan Iran tampaknya akan tetap bertahan, menyusul upaya keras Washington untuk mengadakan lebih banyak pembicaraan damai sebelum gencatan senjata berakhir minggu depan.
Harapan untuk de-eskalasi di Timur Tengah juga didukung oleh Israel dan Lebanon yang mengadakan negosiasi langsung di Washington. "Keikutsertaan Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata merupakan tuntutan utama dari Iran," sambung Ibrahim.
Sementara dari domestik, pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF sebesar 5 persen untuk tahun ini. Ramalan tersebut lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatatkan kenaikan 5,1 persen.
IMF bukan satu-satunya lembaga yang menurunkan rating Indonesia. Sebelumnya World Bank alias Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026—lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 4,8 persen.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.140-Rp17.180 per dolar AS," terangnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































