Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Ambrol ke Rp17.127 per US$

Mata uang Garuda hari ini bergerak di rentang Rp17.114-Rp17.149 per dolar AS usai dibuka pada level Rp17.126 per dolar AS pagi tadi.

Rupiah Ditutup Ambrol ke Rp17.127 per US$
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.127 pada perdagangan hari ini, Selasa (14/4/2026). Rupiah terdepresiasi sebesar 22 poin atau 0,13 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105.

Mata uang Garuda hari ini bergerak di rentang Rp17.114-Rp17.149 per dolar AS usai dibuka pada level Rp17.126 per dolar AS pagi tadi.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal melemahnya rupiah, dunia usaha dalam fase wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Terutama, akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

"Penurunan ekspektasi kegiatan bisnis dan stagnasi penjualan mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam mengambil keputusan ekspansi. Meski demikian, ekspansi bisnis dinilai tidak berhenti, tetapi mengalami penyesuaian strategi," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).

Ia menyatakan, pelaku usaha cenderung menahan ekspansi besar yang bersifat padat modal serta fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional. Investasi disebut juga mulai dialihkan ke sektor yang dinilai lebih resilien, seperti pangan, energi, dan digital.

Kata Ibrahim, sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi yakni, ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi.

"Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi. Dari sisi penjualan, kinerja masih cenderung stagnan dalam jangka pendek, namun berpotensi membaik pada semester II tahun 2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global," urainya.

Ia menilai, konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga. Untuk mendorong ekspansi, diperlukan kepastian dan stabilitas kebijakan, termasuk kebijakan yang konsisten, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

"Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk memperkuat daya saing," tutur Ibrahim.

Ia melanjutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah, potensi dialog AS-Iran untuk mengakhiri perang mengurangi kekhawatiran tentang risiko pasokan yang berasal dari blokade AS terhadap Selat Hormuz.

Menurut Ibrahim, militer AS mengatakan bahwa blokade Selat Hormuz akan meluas ke timur hingga Teluk Oman dan Laut Arab. Sementara itu, data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal berbalik arah di selat tersebut saat blokade mulai berlaku.

Di satu sisi, Iran mengancam bakal menargetkan pelabuhan di negara-negara yang berbatasan dengan Teluk. Sumber yang mengetahui negosiasi itu mengatakan dialog antara Iran dan AS masih berlangsung.

"Sementara, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan upaya yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan. [Presiden AS] Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa Iran ingin membuat kesepakatan," tutur Ibrahim.

Ia menambahkan, sekutu NATO, termasuk Inggris dan Prancis, menahan diri untuk tidak bergabung dalam blokade tersebut dan menganjurkan pembukaan kembali jalur air vital itu.

"Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa harga minyak dapat mencapai puncaknya dalam beberapa minggu ke depan setelah pengiriman kembali normal melalui Selat Hormuz," ucap Ibrahim.

Ia berujar, Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional turut mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana