Menuju konten utama

Respons Israel Soal Gencatan Senjata AS-Iran selama 2 Minggu

Israel telah merespons kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Israel menyatakan akan tetap menyerang Lebanon.

Respons Israel Soal Gencatan Senjata AS-Iran selama 2 Minggu
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berjabat tangan di akhir konferensi pers di Ruang Makan Negara Gedung Putih di Washington, DC pada 29 September 2025. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa Washington "sangat dekat" untuk mengamankan perdamaian dalam perang Gaza, setelah bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan merilis rencana perdamaian 20 poin. AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

tirto.id - Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi menyatakan jika kedua negara telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu. Lantas, bagaimana sikap Israel terhadap keputusan tersebut?

Selain Trump dan Araghchi yang mengeluarkan pernyataan resmi, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga membuat pernyataan terkait kesepakatan gencatan senjata. Dalam unggahan di akun X miliknya, PM Shehbaz Sharif menyebut jika gencatan senjata juga berlaku untuk Lebanon dan kawasan lainnya.

“Dengan kerendahan hati yang sebesar-besarnya, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama dengan sekutu mereka, telah menyetujui gencatan senjata segera di mana pun termasuk Lebanon dan tempat lain, BERLAKU SEGERA,” tulisnya.

Respons Israel Soal Gencatan Senjata AS-Iran

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu merilis pernyataan resmi empat jam setelah mengumumkan ceasefire tersebut. Israel menyambut baik apa yang telah disepakati oleh AS dan Iran. Namun, Israel menolak jika gencatan senjata juga berlaku di Lebanon.

Dalam pernyataan yang hanya dirilis dalam bahasa Inggris, kantor PM menyatakan dukungannya terhadap keputusan Trump untuk menunda serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran segera membuka Selat Hormuz dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara lain di kawasan Teluk.

Selain itu, Israel menekankan dukungannya terhadap upaya AS untuk memastikan bahwa Iran tidak lagi menjadi ancaman nuklir, rudal, atau teror bagi Amerika, Israel, negara-negara Arab tetangga Iran, maupun dunia.

“Israel mendukung keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu dengan syarat Iran segera membuka selat dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara di kawasan tersebut,” bunyi pernyataan Kantor Perdana Menteri Israel dikutip The Times of Israel, Rabu (8/4/2026).

“Israel juga mendukung upaya AS untuk memastikan bahwa Iran tidak lagi menimbulkan ancaman nuklir, rudal, dan teror terhadap Amerika, Israel, negara-negara tetangga Arab Iran, dan dunia,” lanjut pernyataan tersebut.

Namun, Israel mempertegas bahwa meski ada gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, Israel tetap memandang keamanan regional, terutama di Lebanon, sebagai isu terpisah yang tidak termasuk dalam durasi dua minggu kesepakatan ini.

“Amerika Serikat telah memberi tahu Israel bahwa mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan-tujuan ini, yang dianut bersama oleh AS, Israel, dan sekutu regional Israel, dalam negosiasi yang akan datang. Gencatan senjata dua minggu ini tidak termasuk Lebanon,” tegas Israel.

Serangan Israel ke Lebanon disebut hanya menargetkan daerah yang menjadi basis dari kelompok bersenjata Hizbullah. Sejak kematian Ayatollah Ali Khamenei, Hizbullah yang merupakan organisasi sekutu Iran ikut menyerang Israel.

Israel pun tak tinggal diam. Serangan demi serangan mereka lancarkan ke Lebanon dengan target Hizbullah. Sejak 2 Maret, pasukan Israel tercatat telah melancarkan lebih dari 1.840 serangan ke Lebanon, menurut Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) seperti diberitakan Al Jazeera (7/4/2026).

Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon menyebut lebih dari 1.497 orang tewas dan sekitar 4.639 orang terluka. Tak hanya itu, serangan Israel ini juga memaksa lebih dari 1,2 juta orang, termasuk 350.000 anak-anak, untuk meninggalkan rumah mereka.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra