Menuju konten utama

AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata selama 2 Minggu

Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata untuk 2 minggu ke depan. Iran juga akan membuka Hormuz, dengan sejumlah syarat.

AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata selama 2 Minggu
Kepulan asap membubung dari kebakaran yang masih berlangsung di Bandara Internasional Dubai di Dubai pada 16 Maret 2026. Foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu ke depan. Hal ini disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump dan juga Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi di akun media sosial mereka.

Perundingan damai AS dan Iran yang dimediatori oleh Pakistan menunjukkan titik cerah. Setelah Trump mengancam akan menghancurkan Iran dalam satu malam jika negara tersebut tidak segera membuka Selat Hormuz paling lambat Selasa (7/4/2026) malam, keduanya lantas kembali berunding dan sepakat untuk genjatan senjata.

Melalui akun Truth Social @realDonaldTrump, Presiden AS menyampaikan keputusan dua negara untuk menyudahi perang sementara.

“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir, dari Pakistan, dan di mana mereka meminta saya untuk menahan kekuatan penghancur yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN SELAT Hormuz SECARA LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump.

Trump juga menegaskan bahwa penangguhan serangan dilakukan karena Amerika Serikat mengklaim telah mencapai dan bahkan melampaui seluruh tujuan militernya, sekaligus menyatakan bahwa pembicaraan menuju kesepakatan damai jangka panjang dengan Iran sudah berada pada tahap lanjut.

Menurutnya, proposal 10 poin yang diajukan Iran dinilai cukup layak sebagai dasar negosiasi, dan sebagian besar isu utama yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran disebut telah menemukan titik temu.

“Kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya bahwa itu adalah dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi. Hampir semua berbagai poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi periode dua minggu akan memungkinkan Kesepakatan tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan,” paparnya.

Senada dengan Trump, Menlu Iran Abbas Araghchi juga mengeluarkan pernyataan resmi yang diunggahnya di akun X @araghchi. Ia menegaskan kesiapan Teheran untuk menghentikan operasi militernya jika serangan terhadap Iran dihentikan.

Dalam pernyataan tersebut, Araghchi juga mengapresiasi peran mediasi yang dilakukan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Pakistan Asim Munir, yang disebut aktif mendorong upaya penghentian konflik

“Atas nama Republik Islam Iran, saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada saudara-saudara saya yang terkasih, Yang Mulia Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Yang Mulia Marsekal Lapangan Munir atas upaya tak kenal lelah mereka untuk mengakhiri perang di kawasan ini,” kata Araghchi.

Selama Gencatan Senjata, Selat Hormuz Mungkin Dibuka

Selain itu, Teheran juga membuka kemungkinan jalur aman pelayaran di Selat Hormuz selama dua minggu, dengan syarat adanya koordinasi dengan militer Iran dan mempertimbangkan keterbatasan teknis.

Kebijakan ini dipandang sebagai upaya untuk meredakan ketegangan global, mengingat peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia.

“Untuk jangka waktu dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” imbuhnya.

Perang di kawasan Teluk dimulai ketika militer AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. AS menyebut operasi militernya ke Iran dengan istilah "Operation Epic Fury" sedangkan Israel menamai operasinya dengan istilah “Roaring Lion”.

Selama satu bulan lebih konflik berlangsung, menurut Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA), telah lebih dari 3.000 orang tewas di Iran, termasuk 244 di dalamnya adalah anak-anak.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra