Menuju konten utama

Perang Iran-Amerika Terkini: Nasib Listrik Iran di Ujung Tanduk

Pembangkit listrik dan jembatan di Iran mungkin mendapatkan serangan dari AS pada Rabu dini hari menyusul belum tercapainya kesepakatan soal Selat Hormuz.

Perang Iran-Amerika Terkini: Nasib Listrik Iran di Ujung Tanduk
Orang-orang berkumpul di lokasi serangan udara, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, 12 Maret 2026. REUTERS/Alaa Al Marjani
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Update perang Iran-Amerika terkini telah telah sampai pada nasib listrik Iran yang berada di ujung tanduk. Tenggat waktu yang diberikan Trump agar Iran membuka Selat Hormuz berakhir pada Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 EDT waktu Amerika Serikat (AS atau Rabu (8/4/2026) pukul 07.00 WIB. Jika tidak tercapai kesepakatan, Trump mengultimatum akan melakuka serangan besar-besaran dengan target pembangkit-pembangkit dan jembatan milik Teheran pada tak lama setelah itu.

Pada Senin (6/4/2026), Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum bagi Iran untuk membuat kesepakatan gencatan senjata jika tak ingin industri listrik dan jembatan mereka dihantam serangan keras. Ultimatum ini dikeluarkan Trump melalui media sosial miliknya.

Dalam ultimatum itu, Trump menyebut Iran hanya memiliki waktu sekitar 48 jam untuk menyepakati kesepakatan gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz. Jika tidak, katanya, AS akan membumihanguskan fasilitas pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada Selasa (7/4) malam waktu AS atau Rabu pagi waktu Indonesia.

"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Hal ini tak pernah dilakukan sebelumnya!!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka–LIHAT SAJA!" tulis Trump.

Namun, retorika dengan kata-kata kasar itu ditolak dengan keras oleh Iran. Pejabat militer Iran, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi menyebut bahwa ancaman Trump justru akan membuat "gerbang neraka terbuka untukmu [AS]".

Saling balas retorika itu tampak berseberangan dengan pernyataan Trump pada Selasa. Seturut The Straits Times, Presiden AS itu menyebut bahwa proses negosiasi dengan Teheran kini "berjalan dengan baik".

Dalam pernyataannya pada Selasa, Trump menyebut bahwa pembukaan Selat Hormuz harus jadi salah satu poin kesepakatan. Hal ini disebutkan Trump meski dalam beberapa minggu terakhir ia menyebut bahwa pembukaan Selat Hormuz bukan tujuan inti perang yang disulut AS itu.

Sebelumnya, Pakistan dilaporkan tengah jadi mediator dalam upaya penghentian perang melalui dialog. Negara tersebut disebut tengah jadi perantara bagi komunikasi tak langsung Iran dan AS, serta mengajukan proposal gencatan senjata 45 hari.

Hanya saja, seturut Sky News, Trump menyebut bahwa proposal gencatan yang diajukan para mediator "tidak cukup baik". Kantor berita Pemerintah Iran, IRNA, juga melaporkan bahwa Iran menolak kesepakatan gencatan senjata sementara dari Pakistan dan menuntut kesepakatan gencatan senjata permanen.

Iran Serukan Kaum Muda Membentuk "Rantai Manusia" di Sekitar Pembangkit Listrik

Seorang pejabat Iran baru-baru ini juga menyerukan kaum muda di sana untuk membentuk "rantai manusia" di sekitar pembangkit listrik negara tersebut. Seruan ini menyusul ancaman serangan besar AS ke fasilitas produksi listrik Iran.

Pernyataan itu berasal dari Alireza Rahimi ketika diwawancara salah satu saluran televisi Iran. Dalam panggilan video, Rahimi yang diidentifikasi sebagai Sekretaris Dewan Tertinggi Pemuda dan Remaja mengajak "semua kaum muda, atlet, seniman, siswa sekolah, mahasiswa dan profesor mereka" untuk membuat perisai manusia.

Ia menyerukan para kaum muda itu untuk berkumpul pada "Selasa pukul 2 siang [waktu Iran] di sekitar pembangkit listrik yang merupakan aset dan modal nasional kita, terlepas dari selera atau sudut pandang politik apa pun, milik masa depan Iran dan pemuda Iran".

Taktik untuk membuat perisai manusia di sekitar fasilitas tertentu sebelumnya pernah dilakukan Iran dalam Perang 12 Hari pada 2025 lalu. Kala itu, Iran membentuk demonstrasi rantai manusia di sekitar situs nuklir mereka dalam perang dengan AS dan Israel.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar