tirto.id - Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan masih berlangsung. Dalam proposal awal, mediator menawarkan AS dan Iran untuk gencatan senjata segera atau ceasefire sebagai langkah pertama. Namun, Iran menolaknya karena meminta pengakhiran perang permanen.
Pihak AS mengatakan jika ceasefire telah diwujudkan, maka proses dilanjutkan dengan perundingan menuju kesepakatan damai yang lebih luas dalam waktu relatif singkat, sekitar 15–20 hari.
Skema ini pada dasarnya bertujuan menghentikan kekerasan secepat mungkin sambil membuka ruang diplomasi lanjutan.
Iran tidak sependapat dengan pihak AS. Iran menganggap gencatan senjata sementara tidak cukup menjamin keamanan jangka panjang.
Iran Minta AS Akhiri Perang Permanen
Melalui kantor berita resmi Islamic Republic News Agency, dikutip CNA (6/4/2026), Teheran menyatakan bahwa mereka hanya bersedia menerima pengakhiran perang secara permanen, bukan sekadar jeda sementara.
Sebagai respons, Iran mengajukan rencana tandingan yang terdiri dari 10 poin utam, di antaranya mencakup penghentian konflik secara menyeluruh, pengaturan jalur aman pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, serta rencana rekonstruksi pasca konflik.
Perbedaan cara pengakhiran konflik kedua pihak ini seolah sulit untuk ditemukan pada satu titik. AS mendorong solusi bertahap yakni menghentikan perang terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan negosiasi, sedangkan Iran menginginkan jaminan menyeluruh sejak awal agar konflik tidak terulang.
Sikap Iran juga mencerminkan ketidakpercayaan terhadap proses gencatan senjata sementara, yang dianggap bisa dimanfaatkan lawan untuk menyusun kembali kekuatan militer.
Hal ini sempat diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi jika sikap Iran dari awal perundingan sudah sangat jelas, tidak ada gencatan senjata, mereka hanya menerima pengakhiran perang permanen.
"Kami memiliki banyak pertimbangan. Syarat-syarat kami untuk mengakhiri perang sudah sangat jelas." ucapnya dikutip Turkiye Today, Rabu(1/4/2026).
"Kami tidak menerima gencatan senjata; kami menginginkan pengakhiran perang sepenuhnya, tidak hanya di Iran tetapi di seluruh wilayah," paparnya lagi.
Araghchi menambahkan jika sikap Iran yang menolak gencatan senjata ini bukan tanpa alasan. Pengalaman Iran dalam bernegosiasi dengan AS sebelumnya telah menghancurkan semua kepercayaan.
Ia merujuk pada beberapa peristiwa, termasuk kesepakatan nuklir yang pernah dicapai namun kemudian ditinggalkan sepihak oleh AS, serta dua putaran negosiasi terakhir yang justru berakhir dengan serangan militer terhadap Iran.
"Oleh karena itu, tidak ada kepercayaan bahwa kita dapat mencapai hasil melalui negosiasi, dan kepercayaan ini berada di angka nol. Untuk membangun kepercayaan, langkah-langkah besar harus diambil," jelasnya.
Araghchi juga menolak pendekatan Amerika yang menggunakan tenggat waktu dan ancaman, menegaskan bahwa rakyat Iran harus diajak berdialog dengan hormat, mengingat mereka memiliki sejarah, budaya, dan kemandirian yang tinggi.
"Rakyat Iran adalah bangsa yang hebat, mandiri, dan memiliki peradaban serta budaya yang kaya. Mereka harus diajak bicara dengan hormat; jika tidak, mereka akan membalas di medan perang," tegasnya.
Perang di Timur Tengah hingga kini masih berlangsung. Sejak pecah pada 28 Februari lalu, telah lebih dari 2.000 warga Iran dilaporkan tewas. Jumlah ini masih bisa terus bertambah mengingat konflik yang terus memanas.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































