tirto.id - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran telah berlangsung selama 38 hari per Senin (6/4/2026). Anak-anak di Iran terus terbunuh ketika usulan gencatan senjata mulai mengemuka. Berikut rangkumannya.
Sebelumnya, pada Minggu (5/4) waktu setempat, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan ancaman terbaru kepada Iran. Melalui media sosialnya, Trump menyebut akan mulai menghancurkan fasilitas energi dan jembatan di Iran jika tak ada kesepakatan yang tercipta hingga Selasa (7/4) malam waktu AS atau Rabu (8/4) pagi waktu Indonesia.
Seturut Gulf News, ancaman itu dikeluarkan Trump di tengah upaya perundingan penghentian perang yang tengah dilakukan Pakistan. Dalam upaya diplomatik tersebut, usulan untuk menyepakati gencatan senjata selama 45 hari mencuat.
Teheran juga telah mengonfirmasi bahwa usulan tersebut telah mereka terima. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyebut para pejabat Iran kini tengah meninjau usulan tersebut.
Akan tetapi, meski upaya diplomatik mulai kembali terjalin, namun seorang pejabat senior Iran memberikan keterangan pada Reuters bahwa Teheran tak akan menyepakati usulan gencatan senjata sementara. Menurutnya, Selat Hormuz akan dibuka jika terjadi kesepakatan gencatan senjata permanen antara Washington dan Teheran.
Di tengah ketidakpastian upaya diplomatik, serangan udara AS-Israel baru saja menggempur kawasan dekat Universitas Teknologi Sharif di Teheran. Seturut Al Jazeera, serangan itu dilaporkan telah merusak masjid universitas dan sebuah stasiun pengisian bahan bakar di dekatnya.
Sementara itu, media yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Fars, melaporkan terbunuhnya empat anak laki-laki dan perempuan berusia di bawah 10 tahun akibat serangan di Teheran.
Serangan itu disebut menargetkan kawasan pemukiman di Baharestan. Fars sebelumnya melaporkan setidaknya 13 orang terbunuh karenanya.
Pada Senin, Organisasi Energi Atom Iran mengutuk serangan AS-Israel terhadap fasilitas produksi air berat di Khondab. Fasilitas penghasil pendingin reaktor nuklir itu diserang pada 27 Maret dan kini tak dapat beroperasi.
Dalam pernyataannya, Organisasi Energi Atom Iran menyebut bahwa serangan tersebut merupakan "kejahatan terhadap ilmu pengetahuan dan kesehatan manusia".
Sementara itu negara-negara kawasan Teluk masih terus melaporkan adanya serangan rudal dan drone dari Iran ke wilayah mereka. Uni Emirat Arab (UAE) dan Arab Saudi melaporkannya pada Senin.
Otoritas UAE melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka di kawasan Fujairah telah mencegat serangan drone dan misil Iran. Serangan drone itu disebut menargetkan fasilitas telekomunikasi.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi juga melaporkan pencegatan serangan drone ke wilayah mereka. Namun kementerian tersebut tak memberikan detail lebih lanjut.
Di Israel, sirene serangan udara menggema di kawasan selatan negara Zionis tersebut, termasuk Beersheba. Sementara 10 bangunan di Haifa, Israel utara, dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan.
Di sisi lain Israel masih memperluas serangan di Lebanon selatan. Serangan drone Israel dilaporkan telah menargetkan kawasan Kfar Rumman di Lebanon selatan.
Israel Terus Serang Lebanon
Sementara itu, melansir Economic Times, korban tewas berjatuhan di Lebanon. Di Jnah, Beirut lima orang tewas; tiga lainnya terbunuh di Ain Saadeh; dan tujuh lainnya, termasuk anak usia empat tahun, terbunuh di Kfar Hatta.
Tak hanya perluasan serangan ke Lebanon selatan, Israel juga baru saja mengumumkan serangan ke fasilitas petrokimia Iran di Asaluyeh. Menukil BBC, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut bahwa serangan tersebut merupakan lanjutan dari serangan ke fasilitas serupa pada pekan lalu.
"IDF kini menyerang dengan keras fasilitas petrokimia terbesar di Iran," katanya. "Sekarang dua fasilitas, yang bersama-sama menyumbang sekitar 85 persen ekspor petrokimia Iran, telah tidak bisa beroperasi dan tidak berfungsi."
Situasi yang masih serba tak menentu tersebut tergambar pula dalam kondisi pasar global. Harga minyak mentah dibuka dengan kenaikan tajam.
Minyak mentah Brent North Sea naik 1,16 persen jadi USD110,30 per barel, sementara WTI naik 1,86 persen jadi USD113,62 per barel. Kenaikan ini diperkirakan terjadi karena kekhawatiran akan gangguan pasokan dan kerusakan infrastruktur energi lebih luas di kawasan Teluk.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































