tirto.id - Harga minyak memperpanjang kenaikannya pada Selasa (7/4/2026) karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan retorikanya terhadap Iran, mengancam tindakan yang lebih kuat jika negara tersebut tidak kunjung membuka kembali Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 57 sen atau 0,5 persen, menjadi 110,34 dolar AS per barel pada pukul 12.02 GMT. Sedangkan minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,26 dolar AS atau 1,1 persen, menjadi 113,67 dolar AS.
Sementara itu, menanggapi proposal AS melalui mediator Pakistan, Teheran menolak usulan gencatan senjata dan mengatakan bahwa akhir permanen dari perang diperlukan, serta mendorong kembali tekanan untuk membuka kembali selat tersebut.
"Pemantauan waktu kini memainkan peran yang hampir sama besarnya di pasar minyak seperti faktor fundamental itu sendiri, menjelang tenggat ultimatum dari Trump,” ujar kepala analis pasar di KCM Trade, Tim Waterer, dikutip Reuters.
“Potensi tercapainya kesepakatan gencatan senjata memberikan sedikit penyeimbang dan bisa memicu penurunan harga (relief) jika benar-benar mendapat momentum. Namun, kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap pasokan—terutama dari titik sempit (chokepoint) Hormuz serta fasilitas energi yang rusak—masih menjaga harga tetap bertahan di level bawahnya," lanjutnya.
Sementara itu, pada Senin (6/4/2026), Garda Revolusi Iran menghentikan dua kapal tanker gas alam cair (LNG) dari Qatar dan memerintahkan keduanya untuk tetap di posisi tanpa memberikan penjelasan, menurut sumber kepada Reuters.
Namun, data pelacakan kapal menunjukkan bahwa pergerakan kapal melalui selat tersebut masih terbatas sejak Kamis lalu.
Sebagai tindak lanjut atas penutupan Selat yang menjadi jalur penting pelayaran minyak mentah dunia ini, Dewan Keamanan PBB diperkirakan akan melakukan pemungutan suara pada hari ini terkait sebuah resolusi untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Namun, para diplomat menilai resolusi tersebut telah dilemahkan secara signifikan setelah Cina—yang memiliki hak veto—menentang pemberian otorisasi penggunaan kekuatan.
Serangan di kawasan itu terus berlanjut, ketika ledakan terdengar di ibu kota Suriah, Damaskus, dan wilayah sekitarnya pada hari Selasa. Televisi pemerintah Suriah melaporkan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh intersepsi Israel terhadap rudal Iran.
Pada Selasa juga, Arab Saudi mengatakan telah mencegat dan menghancurkan tujuh rudal balistik yang diluncurkan menuju Wilayah Timur, dengan puing-puingnya jatuh di dekat fasilitas energi, menurut kementerian pertahanan.
Konflik tersebut telah menekan pasar minyak mentah global, dengan premi harga spot untuk minyak WTI AS melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, seiring kilang-kilang di Asia dan Eropa berlomba mengamankan pasokan pengganti di tengah terganggunya arus pasokan dari Timur Tengah.
Karena konflik ini pula, perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco menaikkan harga jual resmi (OSP) minyak mentah Arab Light ke Asia untuk pengiriman Mei, dengan menetapkan premi rekor sebesar 19,50 dolar AS per barel, di atas rata-rata harga Oman/Dubai.
Kondisi ini nenambah kekhawatiran pasokan, setelah kemarin Rusia mengatakan bahwa drone Ukraina menyerang terminal di Laut Hitam, yang menangani sekitar 1,5 persen pasokan minyak global. Rusia melaporkan adanya kerusakan pada infrastruktur pemuatan dan tangki penyimpanan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id



































