tirto.id - Dampak Perang Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi meluas lebih jauh. Setelah penutupan Selat Hormuz membuat harga komoditas energi melejit, kini Selat Bab Al-Mandeb terancam turut ditutup Iran. Penutupan Bab Al-Mandeb ini berpotensi membuat perekonomian dunia makin tertekan, mengapa?
Seturut Al-Jazeera, seorang penasihat utama pemimpin tertinggi Motjaba Khamenei baru-baru ini menyatakan ancaman penutupan Selat Bab Al-Mandeb. Menurutnya, Iran dapat menutup jalur pelayaran di selat tersebut pada skala yang sama dengan penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Ancaman itu disampaikan Ali Akbar Velayati, mantan menteri luar negeri Iran dan diplomat veteran yang kini dikenal karena pengaruhnya dalam pemerintahan. Pada Minggu (5/4/2026), ia memberikan keterangan di X bahwa "komando terpadu Poros Perlawanan memandang Bab Al-Mandeb seperti halnya Hormuz".
"Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu langkah," tulisnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Velayati menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengebom pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Trump menyebut bahwa fasilitas tersebut akan dihancurkan pada Rabu (8/4) jika Iran tak setuju membuka Selat Hormuz.
Dampak Selat Bab Al-Mandeb Jika Diblokade
Selat Bab Al-Mandeb merupakan salah satu jalur vital perdagangan dunia selain Selat Hormuz. Selat ini berada di antara Yaman dan Djibouti serta Eritrea di Afrika.
Selat yang memisahkan benua Afrika dengan Semenanjung Arab ini penting bagi distribusi komoditas global karena letaknya. Selat ini merupakan pintu masuk Laut Merah selain Terusan Suez.
Jika Terusan Suez merupakan pintu masuk ke Laut Merah dari utara, Bab Al-Mandeb merupakan pintu masuk Laut Merah dari selatan.
Laut Merah selama ini jadi jalur penting bagi perdagangan lintas benua. Negara-negara Teluk selain Arab Saudi telah menggunakan perairan ini untuk mengekspor minyak mentah, gas, dan bahan bakar ke Eropa. Sementara bagi Saudi, jalur ini penting bagi pengiriman minyak ke Asia.
Sebagai selat sempit di ujung selatan Laut Merah, Bab Al-Mandeb kemudian jadi krusial bagi distribusi minyak dan komoditas lainnya di sana. Pada 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak bumi olahan melintas di selat tersebut. Jumlah tersebut setara 5 persen dari total perdagangan global.
Jika Bab Al-Mandeb ditutup maka distribusi pasokan minyak dan gas dunia makin tertekan. Penutupan Bab Al-Mandeb dan Hormuz sekaligus diperkirakan bakal berdampak pada 25 persen atau seperempat pasokan minyak dan gas dunia.
Minyak dan gas juga tak akan jadi satu-satunya komoditas yang terdampak penutupan selat ini. Bab Al-Mandeb selama ini juga dikenal sebagai jalur bagi 10 persen perdagangan global. Kapal-kapal kontainer dari Tiongkok, India, dan negara Asia lainnya menggunakannya untuk mencapai pasar Eropa.
Sejak Selat Hormuz ditutup karena Perang Iran-AS, Bab Al-Mandeb juga kini jadi jalur alternatif.
Saudi, misalnya, telah mengalihkan pengiriman minyak mereka dari Selat Hormuz ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Saudi melakukan pengalihan jalur ini melalui Pipa Timur-Barat, yang membentang sepanjang 1.200 km dari Abqaiq dekat Teluk ke Yanbu.
Pada awal tahun ini, jalur ini mentransfer rata-rata 770.000 barel per hari. Namun, pada akhir Maret jumlahnya melonjak hingga kapasitas maksimal yakni 7 juta barel per hari. Dengan situasi tersebut, penutupan Bab Al-Mandeb akan membuat ekonomi dunia makin tak menentu.
Elisabeth Kendall, pakar Timur Tengah dan rektor Girton College di Universitas Cambridge, menyebut wacana blokade Bab Al-Mandeb sebagai "skenario mimpi buruk". Dalam pernyataannya untuk Al Jazeera, Kendall menyebut bahwa penutupan Bab Al-Mandeb berpotensi melumpuhkan perdagangan ke Eropa.
"Jika Anda menerapkan pembatasan di Selat Hormuz dan pada saat yang sama pembatasan meningkat di Bab al-Mandeb, maka Anda benar-benar akan mengganggu, atau bahkan melumpuhkan, perdagangan ke Eropa. Jadi ini adalah sebuah ujung tombak, tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya," katanya.
Sementara itu, menurut eks diplomat AS, Nabeel Khoury, ancaman Iran untuk menutup Bab Al-Mandeb tidak bisa dilihat sebagai sekadar gertakan. Menurutnya, Iran memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Menurut Khoury, hal tersebut berpotensi terjadi karena adanya kelompok bersenjata Houthi di Yaman. Kelompok ini merupakan sekutu Iran yang jadi bagian sentral dari "Poros Perlawan" Iran yang disebut Ali Akbar Velayati.
Houthi sebelumnya pernah melakukan penutupan di Bab Al-Mandeb pada 2025. Kala itu, organisasi ini menutup pelayaran kapal-kapal yang mereka sebut terkait dengan Israel dan AS di selat tersebut. Hal ini membuat AS dan Houthi menyetujui gencatan senjata pada Mei 2025 dan sejak itu Bab Al-Mandeb kembali dibuka.
"Yang harus mereka [Houthi] lakukan hanyalah menembaki beberapa kapal yang lewat, dan itu akan berujung pada penangguhan semua pelayaran komersial melalui Laut Merah," kata Khoury.
Menurut Khoury, jika hal tersebut terjadi, AS dan Israel kemungkinan akan merespons dengan menyerang Houthi. Seberapa lama Houthi dapat menutup selat tersebut ketika diserang AS-Israel belum dapat diprediksi, namun eskalasi konflik berpotensi besar terjadi karenanya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































