Menuju konten utama

Isu Perombakan Kabinet Trump Imbas Perang Iran, Siapa Dipecat?

Presiden Donald Trump disebut akan melakukan perombakan kabinet imbas perang Iran yang membuatnya berada dalam posisi tertekan secara politk.

Isu Perombakan Kabinet Trump Imbas Perang Iran, Siapa Dipecat?
Presiden AS Donald Trump berbicara setelah menandatangani perintah eksekutif tentang penipuan di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Maret 2026. AFP/ANNABELLE GORDON

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memecat dua pejabat tinggi pemerintahannya dalam satu bulan terakhir. Jaksa Agung AS Pam Bondi jadi yang terbaru. Namun, Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan perombakan kabinet lebih luas karena Perang Iran.

Sebelumnya, dua pejabat tinggi AS yang dipecat Trump adalah Jaksa Agung AS Pam Bondi pada 2 April dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem pada 5 Maret lalu.

Seturut Al Jazeera, Bondi dipecat kurang dari dua bulan pasca-sidang kongres yang menegangkan pada Februari lalu. Kala itu Bondi dicecar kongres atas kasus penjahat seksual Jeffrey Epstein dan penyelidikan penembakan warga oleh agen imigrasi federal di Minneapolis.

Dua kasus tersebut sebelumnya sempat jadi gejolak di dalam negeri AS. Sentimen publik atas kebijakan pemerintahan Trump pada dua kasus tersebut terbelah.

Akan tetapi, menukil The Straits Times, Bondi dilaporkan tak akan jadi pejabat terakhir yang dipecat Trump dalam waktu dekat. Kali ini, sejumlah nama dalam kabinet Trump disebut terancam imbas perang di Asia Barat.

Perang Iran-Amerika yang telah berlangsung selama lima minggu kini membuat pemerintahan Trump menghadapi tekanan dalam negeri. Harga bahan bakar mengalami kenaikan, tingkat persetujuan Trump menurun, perang tersebut juga diprediksi akan berdampak secara negatif terhadap perolehan suara Partai Republik dalam pemilu sela pada November mendatang.

Sumber anonim Reuters yang diidentifikasi sebagai tiga pejabat Gedung Putih dan dua sumber lain yang mengetahui dinamika pemerintahan menyebut bahwa tekanan-tekanan itu kini berpotensi membuat kabinet Trump kembali dirombak. Posisi sejumlah pejabat kabinet, kata mereka, kini terancam dalam batas tertentu.

Terlebih, kata sumber tersebut, pidato Trump pada 1 April lalu tidak menunjukkan hasil yang diinginkan. Keputusan Trump untuk mengklaim kemenangan dan, di saat yang sama, memberikan sinyal masih akan terus berlangsungnya situasi ekonomi yang tak terkendali, disebut tak cukup memuaskan publik AS.

"Pidato tersebut tidak mencapai tujuan yang diharapkan," kata sumber Gedung Putih tersebut. "Para pemilih mentolerir pesan ideologis, tetapi mereka langsung merasakan dampak kenaikan harga bahan bakar."

Perang Iran juga telah membuat anak buah Trump terpecah. Tak semua pejabat yang Trump angkat mendukung keputusan Presiden AS itu terkait Iran.

Keretakan tersebut tercermin ketika Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Joe Kent mengundurkan diri pada 17 Maret lalu sebagai bentuk protes atas peperangan di Iran.

Kala itu Kent mengundurkan diri dan menyebut bahwa Iran "tidak menimbulkan ancaman langsung" bagi AS dalam surat pengunduran dirinya. Kent juga menuliskan bahwa AS telah "memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat".

Prediksi Pejabat AS yang Diganti Trump

Dari nama-nama yang menjabat kabinet Trump, terdapat dua nama yang disebut berpotensi dipecat dalam waktu dekat. Keduanya adalah Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard.

Menurut seorang pejabat senior Gedung Putih, Trump telah menunjukkan ketidakpuasannya kepada Gabbard dalam beberapa bulan terakhir. Trump bahkan disebut telah meminta pendapat orang-orang terdekatnya tentang pengganti Gabbard.

Gabbard merupakan kritikus intervensi AS di luar negeri. Pada 2025 lalu, jelang Perang 12 Hari antara Iran dan Israel, Gabbard disebut membuat Gedung Putih marah karena mengkritik "para penghasut elit politik" sebelum Trump memutuskan ikut serta dalam konflik tersebut.

Sementara itu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick disebut merupakan menteri yang tengah menghadapi tekanan pemecatan dari sekutu Trump yang berpengaruh. Hal ini imbas kasus penjahat seksual Jeffrey Epstein dan kebijakan sanksi impor.

Nama Lutnick muncul dalam dokumen Epstein yang dirilis pada 2026 lalu. Ia tercatat pernah makan bersama dengan penjahat seksual itu di pulau pribadi di Karibia pada 2012.

Lutnick telah membantah kedekatannya dengan pelaku kejahatan dan perdagangan seksual itu dan menyebut bahwa dirinya "hampir tidak ada hubungannya dengan" Epstein. Dalam pembelaannya, ia menyebut bahwa makan siang yang dipersoalkan terjadi hanya karena ia berada di kapal dekat pulau tersebut.

Sedangkan, kebijakan tarif global yang diluncurkan Lutnick juga dilaporkan telah membuat sekutu-sekutu Trump di luar negeri berupaya untuk mendorong pemecatan menteri tersebut sejak April 2025 lalu. Kebijakan Lutnick telah membingungkan para sekutu dan para ahli.

Meski begitu, Gedung Putih membantah isu pemecatan Gabbard dan Lutnick. Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle menyatakan bahwa Trump masih memberikan "kepercayaan penuh" kepada dua pejabat kabinet tersebut.

"Presiden telah mengumpulkan Kabinet yang paling berbakat dan berpengaruh yang pernah ada, dan mereka secara kolektif telah memberikan kemenangan bersejarah atas nama rakyat Amerika, mulai dari peran Direktur Gabbard dalam mengakhiri rezim narkoteror Maduro hingga peran Menteri Lutnick dalam mengamankan kesepakatan perdagangan dan investasi besar," tulis Ingle dalam sebuah surel ketika dimintai komentar.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar