tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menghadapi tekanan isu pemakzulan usai mengancam akan menghancurkan Iran. Parlemen AS disebut makin menggalakkan seruan untuk memecat Trump dari jabatannya.
Sebelumnya, pada Selasa (7/4/2026), Trump membuat pernyataan di media sosial miliknya bahwa ia akan menghancurkan peradaban di Iran. Ia tak memberikan konteks tentang apa yang ia maksud penghancuran peradaban, dan hal itu membuat seruan pemakzulan Trump mencuat dari parlemen AS.
Seruan tersebut muncul karena Trump menyebut "seluruh peradaban akan mati malam ini". Pemilihan kata pada kalimat ancaman itu ramai dikritik.
Seturut CNBC, Anggota Kongres AS, Alexandria Ocasio-Cortez, menyebut kalimat itu sebagai ancaman genosida. Ia kemudian menyerukan "setiap individu dalam rantai komando" AS untuk "menolak perintah ilegal".
"Ini adalah ancaman genosida dan pantas untuk dipecat dari jabatannya. Kemampuan mental Presiden sedang runtuh dan tidak dapat dipercaya," kata Ocasio-Cortez.
Isu pemakzulan ini juga dilaporkan telah mencuat sebelum ancaman Trump pada Selasa. Sehari sebelumnya pada Senin (6/4/2026), Anggota Kongres AS John Larson telah mengajukan pasal-pasal pemakzulan dengan alasan “pengambilalihan kekuasaan perang kongres secara berulang-ulang dan melakukan pembunuhan, kejahatan perang, dan pembajakan.”
Akan tetapi, setelah Trump mengeluarkan ancaman terbarunya, seruan ini makin digalakkan, terutama oleh anggota Demokrat di parlemen. Salah satunya dari Anggota Kongres AS, Ro Khanna, yang menyerukan penggunaan pasal pemakzulan pada Amandemen ke-25 dalam sebuah video yang ia unggah di media sosial.
"Jika Kongres Amerika Serikat masih memiliki semangat, setiap anggota Kongres dan senator harus menyerukan pemecatan Trump hari ini berdasarkan Amandemen ke-25,” kata Khanna. "Dia mengancam kehancuran seluruh peradaban. Dia menyebut orang Iran sebagai binatang.”
Akan tetapi, meskipun seruan pemakzulan makin digaungkan di kongres oleh anggota Demokrat, pemakzulan Trump agaknya sulit terjadi. Hal ini dikarenakan Partai Republik mendominasi pada dua majelis AS dan tak ada pemberontakan terbuka para anggota partai itu terhadap pemerintahan Trump terkait Iran.
Terlebih, Washington dan Teheran telah mencapai gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (8/4/2026) pagi, beberapa jam setelah Trump mengungkapkan ancaman penghancuran peradaban.
Isi Ancaman Trump untuk Iran
Ancaman penghancuran peradaban dikeluarkan Trump pada Selasa melalui media sosial miliknya, Truth Social. Dalam ancaman itu, Trump secara eksplisit menyebut bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini".
"Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali," katanya.
Trump kemudian melanjutkan ancaman itu dengan retorika yang selalu ia pakai sepanjang perang. Ia menyebut bahwa ia "tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi".
Akan tetapi, setelah ancaman itu, Trump melanjutkannya dengan sinyal kemungkinan penghentian perang melalui dialog. Trump menyebut bahwa kesepakatan mungkin terjadi karena pemimpin Iran kini lebih tidak radikal.
"Namun, sekarang kita memiliki Perubahan Rezim yang Lengkap dan Total, di mana pikiran yang berbeda, lebih cerdas, dan kurang radikal berkuasa, mungkin sesuatu yang revolusioner dan luar biasa dapat terjadi, SIAPA TAHU?" katanya.
"Kita akan mengetahuinya malam ini, salah satu momen terpenting dalam sejarah dunia yang panjang dan kompleks. 47 tahun pemerasan, korupsi, dan kematian, akhirnya akan berakhir. Tuhan memberkati rakyat Iran yang hebat!" lanjutnya.
Ancaman tersebut jadi yang terbaru di antara ancaman-ancaman lain. Sebelumnya, Trump telah mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Ancaman terhadap fasilitas sipil tersebut diungkap Trump ketika memberikan ultimatum batas waktu mencapai kesepakatan. Penghancuran pembangkit listrik dan jembatan di Iran, kata Trump, akan dilakukan jika tak ada kesepakatan hingga Selasa malam waktu AS.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Hal ini tak pernah dilakukan sebelumnya!!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka–LIHAT SAJA!" tulis Trump, juga di Truth Social.
Namun, ketika tenggat waktu itu betulan terlewati, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata antara kedua pihak selama dua pekan. Selama periode tersebut, Selat Hormuz juga akan dibuka.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































