Menuju konten utama

Trump Ancam Jurnalis yang Beri Info Penyelamatan Pilot Militer

Trump mengancam akan menuntut jurnalis dan media yang membocorkan informasi soal misi penyelamatan pilot jet tempur yang jatuh di Iran.

Trump Ancam Jurnalis yang Beri Info Penyelamatan Pilot Militer
Presiden Donald Trump berbicara di Ruang Diplomatik Gedung Putih, Minggu, 27 Oktober 2019, di Washington. (Foto AP / Manuel Balce Ceneta)

tirto.id - Presiden AS Donald Trump mengancam akan menuntut media yang telah membocorkan informasi terkait penyelamatan pilot pesawat tempur AS F-15E Strike Eagle di wilayah Iran.

Tak hanya akan menuntut, Trump juga berjanji akan memenjarakan informan tersebut.

Trump menyatakan bahwa ia akan menuntut seorang jurnalis yang pertama kali melaporkan keberhasilan penyelamatan seorang pilot Amerika di Iran untuk mengungkap sumber informasi mereka.

"Kami tidak membicarakan yang pertama selama satu jam. Kemudian seseorang membocorkan sesuatu, yang, mudah-mudahan akan kami temukan pelakunya. Kami sedang berusaha keras untuk menemukan pelakunya," kata Trump dikutip Reuters (7/4/2026).

"Kami akan mendatangi perusahaan media yang merilisnya, dan kami akan mengatakan, 'keamanan nasional, berikan informasinya atau masuk penjara.'" ancamnya.

Sikap Trump ini terkait insiden jatuhnya pesawat tempur AS di wilayah Iran, di mana dua awak pesawat dilaporkan berhasil keluar dari pesawat sebelum pesawat tersebut ditembak jatuh.

Setelah kejadian, sejumlah media besar seperti The New York Times, CBS News, dan Axios melaporkan bahwa salah satu pilot berhasil diselamatkan oleh pasukan AS.

Menurut Trump, kebocoran informasi ini membahayakan operasi penyelamatan pilot kedua yang masih berlangsung saat itu, meskipun pada akhirnya pilot tersebut juga berhasil diselamatkan.

Pernyataan ini semakin mempertegas ketidakpuasan Trump terhadap pemberitaan media mengenai perang, yang menurutnya terlalu negatif terhadap pemerintah AS.

Kronologi Penyelamatan Pilot Pesawat Tempur AS di Iran

Berikut kronologi lengkap dikutip dari BBC (5/4/2026):

3 April 2026: Pesawat AS ditembak jatuh

Sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle milik AS dilaporkan ditembak jatuh di wilayah selatan Iran oleh sistem pertahanan udara Iran.

Lokasi pastinya belum jelas, namun disebut berada di provinsi seperti Khuzestan atau Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad.

Pesawat tersebut membawa dua awak (pilot dan perwira sistem senjata), dan keduanya berhasil melontarkan diri (eject) sebelum pesawat jatuh.

3-4 April 2026: Evakuasi awal dan situasi darurat

Salah satu awak berhasil lebih dulu diselamatkan oleh pasukan AS dalam operasi awal, meskipun terdapat risiko tinggi, bahkan helikopter penyelamat sempat terkena tembakan ringan.

Awak kedua masih hilang di wilayah pegunungan Iran dan menjadi target pencarian, baik oleh pasukan AS maupun pihak Iran yang bahkan menawarkan imbalan bagi warga untuk menemukannya.

4-5 April 2026: Bertahan di wilayah musuh

Awak kedua yang hilang diketahui bertahan lebih dari 24 jam di wilayah musuh. Ia bersembunyi di daerah pegunungan, mendaki hingga ketinggian sekitar 2.000 meter, serta menggunakan pelatihan survival militer seperti menyembunyikan parasut, mengaktifkan sinyal darurat, dan menjaga komunikasi terbatas.

Selama periode ini, posisinya terus dipantau oleh intelijen AS, termasuk bantuan dari Central Intelligence Agency (CIA).

5 April 2026: Operasi penyelamatan besar (CSAR)

Presiden Donald Trump memprioritaskan operasi penyelamatan dengan menghentikan operasi militer lain dan mengerahkan puluhan pasukan khusus serta banyak pesawat.

Operasi ini termasuk kategori Combat Search and Rescue (CSAR), yaitu misi militer paling berisiko yang dilakukan di wilayah musuh.

Untuk mendukung misi, AS juga melakukan operasi pengalihan informasi (deception), menyebarkan kabar bahwa korban sudah ditemukan guna mengelabui pihak Iran.

Pasukan AS masuk diam-diam ke wilayah Iran dengan dukungan militer udara besar-besaran. Beberapa pesawat dan helikopter digunakan untuk menjemput korban di lokasi terpencil.

Dilaporkan juga bahwa dua pesawat transport yang tidak bisa digunakan akhirnya dihancurkan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Setelah itu, tambahan pesawat dikirim untuk mengevakuasi tim dan korban.

Trump mengumumkan bahwa awak kedua berhasil diselamatkan dalam salah satu operasi paling berani dalam sejarah militer AS.

Meskipun selamat, ia dilaporkan mengalami luka serius. Setelah evakuasi, korban diterbangkan ke Kuwait untuk mendapatkan perawatan medis.

“Kami telah berhasil menyelamatkan awak pesawat/Perwira F-15 yang terluka parah dan sangat pemberani dari dalam pegunungan Iran. Militer Iran sedang melakukan pencarian besar-besaran dan sudah semakin mendekat,” tulis Trump di akun Truth Social @realDonaldTrump.

“Operasi kedua dilakukan setelah operasi pertama, di mana kami menyelamatkan pilot di siang hari bolong, yang juga tidak biasa, dengan durasi operasi selama tujuh jam di atas wilayah Iran. Ini merupakan contoh luar biasa dari keberanian dan keahlian semua pihak yang terlibat,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra