Menuju konten utama

Iran Akan Buka Hormuz selama Gencatan Senjata, Ini Syaratnya

Iran akan membuka Selat Hormuz selama gencatan senjata yang berlangsung 2 minggu, dengan syarat-syarat berikut ini.

Iran Akan Buka Hormuz selama Gencatan Senjata, Ini Syaratnya
Peta sinyal AIS dari kapal yang melintasi Selat Hormuz. foto/Dok. WIndward

tirto.id - Pemerintah Iran mengumumkan bahwa mereka akan membuka Selat Hormuz selama gencatan senjata dua minggu. Namun, hal ini tidak dilakukan secara cuma-cuma. Ada syarat yang harus dipenuhi agar jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat digunakan secara normal.

Sebagai bagian dari upaya membuka ruang perundingan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang, Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan setuju menghentikan serangan militer terhadap Iran dan menilai proposal berisi 10 poin yang diajukan Iran “dapat dikerjakan”.

Selain gencatan senjata, dalam periode ceasefire tersebut, Iran juga akan membuka Selat Hormuz untuk pelayaran global.

Artinya, selama dua minggu tersebut, kapal-kapal, terutama pengangkut minyak dan gas boleh kembali melintas dengan aman, dengan syarat telah berkoordinasi dengan militer Iran.

“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” bunyi pernyataan Seyed Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran di akun X nya.

Langkah pembukaan Selat Hormuz ini dinilai sangat penting karena Selat Hormuz adalah jalur utama perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia sempat terganggu sejak konflik berlangsung selama lima minggu terakhir.

Masa dua minggu ini akan digunakan untuk melanjutkan negosiasi yang dimediasi Pakistan, dengan harapan bisa mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen.

Meski begitu, masing-masing pihak tetap mencoba menunjukkan posisi kuat. Iran mengklaim bahwa AS telah menerima syarat-syaratnya, bahkan menyebutnya sebagai kemenangan diplomatik, sedangkan pihak AS menyatakan bahwa tekanan militer mereka yang membuat Iran mau berkompromi.

Israel Masih Serang Iran dan Lebanon dalam Periode Ceasefire

Meski telah diumumkan adanya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, situasi di lapangan ternyata masih jauh dari stabil.

Seorang pejabat keamanan mengungkapkan kepada The Times of Israel,Rabu (8/4/2026) bahwa Angkatan Udara Israel tetap melanjutkan serangan ke wilayah Iran. Hal ini seolah menunjukkan bahwa Israel tidak sepenuhnya terikat atau belum benar-benar ikut dalam kesepakatan tersebut.

Walaupun ada kesepakatan di tingkat diplomatik, implementasinya belum sepenuhnya dipatuhi semua pihak, termasuk Israel.

Di sisi lain, Iran juga dilaporkan masih meluncurkan beberapa gelombang rudal balistik ke arah Israel, bahkan setelah waktu gencatan senjata seharusnya mulai berlaku.

Situasi menjadi semakin kompleks karena konflik ini tidak hanya melibatkan dua negara. Perdana Menteri Pakistan sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata juga mencakup Lebanon, di mana kelompok Hizbullah berbasis. Namun hingga saat ini belum ada tanda bahwa Israel menghentikan operasinya terhadap Hizbullah di Lebanon.

Keterlibatan Hizbullah dalam konflik AS-Israel melawan Iran adalah karena kelompok bersenjata ini diketahui sebagai sekutu dari Iran. Hizbullah merasa perlu untuk ikut berperang ketika militer AS-Israel dalam awal operasinya berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Israel terus menggempur Lebanon dengan serangan-serangan yang tidak hanya menimbulkan korban nyawa, melainkan juga kepanikan hingga membuat masyarakat di sana memilih untuk mengungsi.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra