Menuju konten utama

Realisasi APBN Triwulan I/2025 Mengalami Defisit Rp104,2 T

Realisasi tersebut setara dengan 0,43 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi APBN Triwulan I/2025 Mengalami Defisit Rp104,2 T
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis (13/3/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, melaporkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan I 2025 mengalami defisit sebesar Rp104,2 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 0,43 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kinerja APBN triwulan I terjaga dengan baik. Tercermin dari defisit anggaran yang terkendali pada batas aman yaitu sebesar 104,2 triliun atau 0,43 persen dari PDB,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara virtual, Kamis (24/4/2025).

Dalam hal ini, defisit artinya pendapatan lebih kecil dibandingkan pengeluaran negara. Lalu, keseimbangan primer tercatat surplus Rp17,5 triliun. Posisi kas juga surplus Rp145,8 triliun dalam bentuk Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA).

“Kinerja pendapatan negara dan hibah sampai dengan Maret 2025 mencapai Rp516,1 triliun atau 17,2 persen dari target APBN,” lanjutnya.

Kemudian, pendapatan negara tercatat telah terkumpul Rp516,1 triliun atau 17,2 persen dari target APBN 2025. Pendapatan itu berasal dari pajak, bea cukai, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Untuk realisasi belanja negara, Sri Mulyani menyatakan telah mencapai Rp620,3 triliun atau 17,1 persen dari pagu APBN. Belanja negara ini terdiri dari belanja pemerintah pusat yakni belanja K/L dan belanja non K/L, serta transfer ke daerah.

Dia pun menuturkan bahwa stabilitas sistem keuangan (SSK) Indonesia tetap terjaga pada triwulan I-2025 di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global. Dia menyatakan ketidakpastian itu meningkat dipicu oleh dinamika tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

“Ketidakpastian tersebut terutama dipicu oleh dinamika terkait kebijakan tarif dari pemerintah Amerika Serikat dan memunculkan eskalasi perang dagang,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait DEFISIT APBN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi