Menuju konten utama

Rangkuman Perundingan Iran dan Amerika di Pakistan yang Gagal

Berikut ini rangkuman hasil perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran selama 21 jam di Pakistan yang tidak membuahkan hasil.

Rangkuman Perundingan Iran dan Amerika di Pakistan yang Gagal
Televisi pemerintah Pakistan menyiarkan pertemuan Wakil Presiden AS JD Vance dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di pusat media yang didirikan untuk meliput pembicaraan AS-Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. reuters/Muhammad Reza
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama sekitar 21 jam pada Sabtu, 11 April 2026 di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan apa pun atau gagal. Apa saja yang mereka bahas dalam perundingan tersebut?

Setelah sepakat untuk melakukan gencatan senjata atau ceasefire selama dua minggu, AS dan Iran melanjutkannya ke tahapan selanjutnya yakni perundingan perdamaian.

Kedua pihak bertemu di Islamabad pada akhir pekan lalu. Wakil Presiden JD Vance memimpin delegasi AS, sedangkan delegasi Iran dipimpin oleh Mohammad Bagher Qalibaf yang merupakan Ketua Parlemen Iran.

Meskipun kedua pihak terlibat dalam diskusi intensif dan disebut bernegosiasi dengan itikad baik, perbedaan mendasar membuat mereka tidak mampu mencapai titik temu.

"Dan kami pergi dari sini, dan kami pergi dari sini dengan proposal yang sangat sederhana, metode pemahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah Iran menerimanya," ujar Vance dikutip PBS, Minggu (12/4/2026).

Rangkuman Hasil Perundingan AS-Iran di Pakistan yang Gagal

Berikut rangkuman hasil perundingan gagal AS-Iran yang digelar di Pakistan:

1. Perbedaan pandangan tentang nuklir

Isu paling krusial dalam negosiasi ini adalah program nuklir Iran. Amerika Serikat menuntut komitmen tegas dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun kemampuan yang dapat mempercepat pembuatannya.

Namun, Iran menolak tuntutan tersebut, yang akhirnya menjadi penyebab utama kebuntuan. Perbedaan pandangan ini mencerminkan ketidakpercayaan mendalam antara kedua negara.

2. Red lines dari Iran

Iran datang ke meja perundingan dengan sejumlah red lines (garis merah) yang harus dipenuhi. Tuntutan tersebut mencakup kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS dan Israel, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian serangan Israel di wilayah seperti Lebanon.

Hal ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya fokus pada isu nuklir, namun juga ingin menyelesaikan dampak perang dan tekanan ekonomi yang dialaminya.

3. Gencatan senjata masih belum jelas

Sebelum bernegosiasi, AS dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu. Namun, hasil negosiasi yang buntu membuat masa depan gencatan senjata tersebut menjadi tidak jelas.

Tidak ada kepastian apakah kesepakatan penghentian sementara konflik ini akan diperpanjang atau justru berakhir dan memicu kembali eskalasi konflik.

4. Kapal AS tetap beroperasi di Selat Hormuz

Di tengah negosiasi, aktivitas militer tidak sepenuhnya berhenti. Amerika Serikat tetap melakukan operasi di Selat Hormuz, termasuk upaya pembersihan ranjau untuk menjaga jalur pelayaran.

Iran menyatakan kesiapan untuk membalas jika terjadi serangan baru. Kondisi ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan masih sangat tegang dan berpotensi memicu konflik lebih lanjut.

5. Perbedaan poin utama dalam proposal AS-Iran

AS membawa proposal 15 poin dengan fokus utama adalah pengendalian nuklir Iran dan juga dibukanya kembali Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran membawa 10 poin proposal yang berfokus pada penghentian perang secara permanen dan penguasaan Selat Hormuz.

Belum diketahui apakah setelah negosiasi pertama yang berakhir gagal ini akan ada negosiasi lain antara AS dan Iran. Namun, Wakil Presiden AS, JD Vance menyebutkan jika proposal 15 poin yang ia bawa adalah yang terakhir dan terbaik yang dapat mereka tawarkan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra