tirto.id - Dua kapal milik perusak milik Amerika Serikat (AS) dilaporkan memasuki Selat Hormuz saat delegasi AS dan Iran tengah berunding untuk damai di Islamabad, Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) waktu setempat. Dilansir dari Aljazeera, Minggu (12/4/2026), dua kapal tersebut antara lain kapal perusak rudal USS Frak E Petersen Jr dan USS Michael Murphy.
Dalam keterangan resmi Komando Pusat Amerika Serikat untuk operasi militer dan perencanaan strategis di Timur Tengah (Centcom) menyatakan bahwa dua kapal perang tersebut memasuki Selat Hormuz demi membersihkan sisa ranjau laut yang ditebar oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak aksi saling serang dengan AS pada 28 Februari 2026.
Panglima Centcom, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa kedua kapal tersebut sebagai unit pembebasan demi memuluskan jalur maritim yang menurutnya tersendar di Selat Hormuz. Menurutnya, dengan kehadiran dua kapal tersebut Selat Hormuz akan segera bisa dilalui secara bebas oleh kapal manapun.
“Hari ini, kita memulai proses pembentukan jalur pelayaran baru, dan kita akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong arus perdagangan yang bebas,” kata Brad Cooper, Sabtu (11/4/2026) sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera.
Meskipun dua kapal milik AS langsung memutar haluan dan tidak lagi mendekat atau berlabuh di sekitar Selat Hormuz, Juru Bicara Markas Besar Militer Iran Khatam Al Anbiya menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz hingga saat ini masih dipegang oleh IRGC. Mereka menegaskan IRGC tak segan untuk memberikan tindakan keras kepada pihak manapun yang mencoba melewati Selat Hormuz tanpa ada ijin dari Otoritas Iran.
“Inisiatif untuk pelayaran dan pergerakan kapal apa pun berada di tangan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran," tegas juru bicara tersebut.
Terpisah, sebagaimana dikutip Anadolu, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, membantah klaim Komando Pusat AS terkait masuknya dua kapal angkatan laut berbendera Paman Sam tersebut ke lintasan selat Hormuz.
Zolfaghari menegaskan bahwa angkatan laut IRGC memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak ada kapal yang melintas kecuali milik sipil dengan aturan dan standar tertentu.
“Kendali atas perlintasan dan navigasi setiap kapal berada di tangan angkatan bersenjata,” kata Zolfaghari.
Diketahui bahwa hingga kini, Iran dan AS gagal bersepakat untuk damai pasca aksi saling serang dengan menggunakan rudal sejak 28 Februari lalu. Salah satu pasal yang menyebabkan gagalnya perundingan adalah Iran tidak membuka informasi mengenai keberadaan ranjau laut di Selat Hormuz, walaupun Iran siap membuka jalur perdagangan tersebut untuk seluruh kapal.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id




























