tirto.id - Perang Iran vs Amerika Serikat (AS) telah berlangsung selama 42 hari pada Jumat (10/4/2026). Dunia kini menanti hasil perundingan kedua negara di Islamabad pada akhir pekan ini, sementara ketegangan di Lebanon terus terjadi.
Seturut Al Jazeera, Lebanon baru saja mengumumkan hari berkabung pada Kamis (9/4/2026) setelah serangan brutal Israel ke negara tersebut telah membunuh setidaknya 200 orang dalam waktu satu hari. Serangan pada Rabu (8/4/2026) itu juga membuat lebih dari 1.000 orang di Lebanon terluka.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut bahwa serangan Israel merupakan pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Kesepakatan itu sebelumnya dipertentangkan oleh Iran dan Israel tentang apakah Lebanon termasuk dalam kesepakatan atau tidak.
Menurut Pezeshkian, negara asal kelompok bersenjata yang didukung Iran, Hizbullah, itu termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata. Ia juga mempertegas bahwa Teheran tidak akan meninggalkan Lebanon.
Lebanon diperkirakan akan jadi salah satu perkara yang dibahas dalam negosiasi lanjutan antara AS dan Iran di Islamabad. Perundingan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (11/4/2026) pagi.
Perundingan juga diperkirakan bakal digunakan Iran untuk mendorong pencabutan sanksi. Para analis menyebut Teheran mungkin menggunakan pengaruhnya di Selat Hormuz sebagai alat negosiasi.
Alex Vatanka dari Middle East Institute memprediksi Iran kini tengah mengincar pencabutan sanksi primer dan sekunder yang mereka dapatkan dari komunitas internasional. Pencabutan sanksi ini diharapkan dapat membuka investasi dan perdagangan asing bagi Iran.
"Mereka ingin menjadi negara normal," kata Vatanka, sembari menyebut Iran kemungkinan besar tak akan menjadikan Selat Hormuz sebagai pos pendapatan berkelanjutan.
Sementara itu, di Iran, publik Iran mengadakan demonstrasi nasional untuk menghormati mendiang Ali Khamenei dan Kamal Kharrazi. Keduanya adalah pemimpin tertinggi Iran dan Ketua Dewan Hubungan Luar Negeri Iran yang terbunuh dalam perang.
Ketika publik Iran melakukan demonstrasi nasional, pemimpin tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei merilis pernyataan publik terbarunya. Dalam keterangan tertulis, Mojtaba mengumumkan kemenangan Iran dalam perang melawan AS dan Israel.
Mojtaba masih tak terlihat di depan umum sejak ayahnya, Ali Khamenei, dibunuh dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Situasi Timur Tengah Belum Stabil
Tercapainya gencatan senjata pada Rabu lalu tak kunjung membuat kawasan Teluk sepenuhnya stabil. Serangan telah berkurang, namun negara-negara Teluk masih melaporkan adanya serangan ke wilayah mereka.
Arab Saudi menyatakan bahwa serangan Iran baru-baru ini telah menewaskan satu orang dan mengganggu rantai produksi minyak mereka. Media lokal Saudi mengutip pernyataan pejabat kementerian energi, bahwa serangan itu menargetkan fasilitas minyak dan gas, pabrik petrokimia, dan infrastruktur listrik di Riyadh, Yanbu, dan Provinsi Timur.
Dukungan diplomatik juga mulai dikerahkan ke wilayah Teluk secara umum. Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer telah mengunjungi Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi. Starmer dilaporkan juga bertemu dengan Presiden Uni Emirat Arab (UAE) Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Kunjungan itu dilakukan Starmer untuk mendorong tercapainya stabilitas di kawasan Teluk. Ia menyerukan dukungan global untuk mitra regional mereka itu.
Sementara itu, sekutu Inggris yang memulai perang, AS, dilaporkan tengah bersiap untuk melakukan negosiasi dengan Teheran di Islamabad. JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner akan jadi delegasi AS untuk agenda itu.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan bahwa Iran tidak boleh menerapkan tarif untuk pelayaran di Selat Hormuz. Trump menyebutnya sebagai hal yang tidak dapat diterima.
Dalam perkara lain, Trump juga dilaporkan telah menekan Israel untuk menahan operasi militer di Lebanon. Ia disebut telah meminta PM Israel Benjamin Netanyahu secara langsung untuk hal ini.
Tekanan Trump kepada Israel itu dilakukan meskipun sebelumnya Gedung Putih menolak anggapan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Teheran.
Tekanan untuk menurunkan eskalasi konflik di Lebanon juga tak hanya muncul dari Trump. Netanyahu kini dilaporkan tengah menghadapi tekanan serupa dari rakyatnya sendiri.
Publik di Israel utara disebut telah mengkritik langkah Netanyahu untuk menginvasi Lebanon. Mereka menyebut bahwa serangan ke Lebanon dilakukan tanpa tujuan akhir yang jelas.
Tekanan juga diungkap Ketua Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mendesak Israel untuk menarik ancaman area sekitar rumah sakit di Beirut, tempat ratusan pasien dirawat. Ancaman yang dimaksud Ketua WHO itu, dikeluarkan Israel baru-baru ini kepada penduduk pinggiran selatan Beirut. Israel berencana menyerang markas Hizbullah di sana dan serangan akan segera terjadi.
Ancaman Israel ini seiring gencarnya invasi darat ke wilayah Lebanon. Pasukan Israel terus mendesak masuk wilayah Lebanon dan drone masih terus berterbangan.
Ancaman itu juga dikeluarkan Israel meskipun situasi di Lebanon semakin mengkhawatirkan. Fasilitas medis di Lebanon kini jadi tempat bernaung ratusan pasien dan tempat berlindung ribuan pengungsi sehingga meningkatkan kekhawatiran krisis kemanusiaan.
Meskipun tekanan menerpa Netanyahu, PM Israel itu merilis pernyataan bahwa Iran akan terus menyerang Hizbullah "di mana pun diperlukan". Ia menyebut akan terus melakukan serangan "dengan kekuatan, ketepatan, dan tekad".
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























