tirto.id - Iran menuduh bahwa panggilan telepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance telah memengaruhi jalannya perundingan di Pakistan. Panggilan telepon itu disebut telah menggeser fokus negosiasi.
Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Seturut NDTV dan Times of India, pernyataan Araghchi itu ia sampaikan melalui unggahan X pada Minggu (12/4/2026).
"Panggilan Netanyahu kepada Vance selama pertemuan tersebut menggeser fokus dari negosiasi AS-Iran ke kepentingan Israel," kata Araghchi.
Araghchi merupakan salah satu delegasi Iran dalam perundingan perdamaian dengan Washington di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) dan Minggu (12/4). Selain dirinya, pejabat tinggi Iran yang jadi delegasi adalah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Dalam pernyataannya, Araghchi juga menyebut bahwa konferensi pers Vance sebelum kepergiannya dari Pakistan merupakan hal yang "tidak diperlukan". Ia mengatakan, Iran tetap berkomitmen dan siap menjaga kepentingan dan kedaulatan negaranya.
Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi maupun konfirmasi tentang panggilan telepon Netanyahu. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kegagalan tercapainya kesepakatan damai terjadi lantaran tak tak ada kata sepakat dalam perundingan terkait nuklir.
Menukil NDTV, Teheran menyebut bahwa Washington menginginkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz bagi kapal-kapalnya dan kapal sekutunya. Selain itu, AS juga disebut ingin menghentikan secara total program pengayaan uranium Iran dan memindahkan persediaan uranium yang telah ada di Iran.
JD Vance tak merinci usulan-usulan yang muncul dalam perundingan selama lebih dari 20 jam tersebut, namun ia menyebut dalam konferensi pers bahwa AS datang dengan "tawaran terakhir dan terbaik".
Perundingan Diwarnai Ketidakpercayaan
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyebut bahwa proses perundingan dilakukan dalam suasana saling tak percaya. Hal ini, katanya, mempersulit tercapainya kesepakatan.
"Pembicaraan ini terjadi setelah perang 40 hari dan dalam suasana ketidakpercayaan dan skeptisisme," katanya.
Baghaei juga menyebut bahwa proses perundingan masih akan berlanjut. Ia menyebut bahwa Iran berupaya agar perbedaan pandangan AS-Iran dapat terjembatani.
"Tentu saja, kita seharusnya tidak pernah berharap untuk mencapai kesepakatan dalam satu sesi [perundingan]. Kami akan terus berupaya untuk mendekatkan kedua pandangan Amerika dan Iran," tuturnya.
Pasca gagalnya kesepakatan damai, distribusi minyak dan harga energi kembali diliputi ketidakpastian. Tercapainya kesepakatan gencatan senjata sebelumnya menurunkan gejolak harga minyak mentah.
Sebelum gencatan senjata diumumkan, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di atas USD119 per barel pada 9 April. Gencatan senjata kemudian menurunkan lonjakan harga ke level USD95 per barel.
Akan tetapi, tak tercapainya kesepakatan pada Minggu telah membuat harga minyak kembali meningkat hingga lebih dari USD100 per barel.
Tidak tercapainya kesepakatan dalam perundingan di Islamabad juga meningkatkan kekhawatiran tentang keberlangsungan jeda gencatan senjata. Namun, kedua negara sejauh ini belum secara resmi menyatakan pengakhiran kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan tersebut.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































