tirto.id - Berita perang Iran terbaru menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan lanjutan gencatan senjata di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026) dan Minggu (12/4/2026). Berikut sejumlah alasan di balik gagalnya perundingan.
Sebelumnya, pertemuan tersebut gagal setelah delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan meja perundingan. Hal ini dilakukan delegasi AS setelah lebih dari 20 jam negosiasi berjalan.
Vance lalu mengumumkan bahwa proses negosiasi telah gagal. Namun, ia menyebut hal ini merupakan pukulan yang lebih telak bagi Iran ketimbang AS.
"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat," katanya.
Seturut Reuters, Vance menyebut bahwa gagalnya negosiasi itu terjadi akibat kesepakatan tentang program nuklir yang tak disepakati kedua negara. Iran disebutnya tak sepakat dengan usulan yang dilayangkan AS terkait hal tersebut.
Di sisi lain, delegasi Iran mengklaim bahwa proses negosiasi akan terus berkesinambungan. Kontradiktif dengan AS, Iran mengklaim bahwa diskusi lanjutan akan lebih fokus pada pertukaran dokumen guna menunjang kesepakatan kedua negara.
"Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan," tulis keterangan Pemerintah Iran di akun X.
Meski begitu, pasca perundingan dinyatakan gagal, Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan bahwa pihaknya akan memblokade Selat Hormuz. Trump menyebut bahwa militernya akan mencegat semua kapal yang membayar biaya lintas Hormuz ke Iran.
5 Alasan AS-Iran Tidak Mencapai Kesepakatan di Pakistan
Program nuklir, sebagaimana yang diungkap JD Vance, memang diperkirakan jadi salah satu batu sandungan dalam tercapainya kesepakatan penghentian perang. Namun, hal itu bukan satu-satunya halangan yang melatarinya.
Seturut Times of India, berikut lima alasan AS dan Iran tidak mencapai kesepakatan di Pakistan untuk menghentikan perang yang pecah sejak 28 Februari lalu.
1. Program Nuklir Iran
Program nuklir Iran merupakan halangan terbesar dalam tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran. Kedua negara dilaporkan punya perspektif yang berkebalikan dalam hal ini.AS, di satu sisi, ingin agar Iran tidak pernah mengejar kemampuan memproduksi senjata nuklir. Meskipun Teheran telah mengungkapkan bahwa mereka tak pernah mengejar senjata nuklir, namun AS menuntut kontrol dan pengawasan yang ketat terkait hal ini.
Washington dilaporkan mengusulkan diterapkannya pembatasan yang ketat bagi Iran dalam pengayaan uranium dan alat-alat terkait. Hal ini ditolak Iran karena dirasa sebagai pembatasan berlebihan terhadap hak kedaulatannya.
2. Keringanan Sanksi dan Aset yang Dibekukan
Iran masuk meja perundingan dengan membawa usulan agar sanksi ekonomi terhadap mereka dapat dicabut. Selain itu, Teheran juga menginginkan agar aset beku mereka dapat kembali dicairkan.Teheran disebut memiliki aset beku di sejumlah negara, termasuk Qatar. Mereka ingin agar akses terhadap aset tersebut dalam kembali didapatkan. Namun, pejabat AS membantah bahwa Washington menyetujui persyaratan tersebut.
3. Kontrol Selat Hormuz
Kendali atas Selat Hormuz juga jadi batu sandungan dalam tercapainya kesepakatan AS-Iran. Teheran bersikeras untuk mempertahankan kontrol penuh atas selat tersebut.Dalam perang sejak 28 Februari, jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia itu telah secara efektif menaikkan harga minyak. Iran menutup jalur sempit tersebut dan berupaya untuk menerapkan biaya lintas bagi kapal tanker yang hendak melewatinya.
Akan tetapi, AS menolak hal tersebut. Washington bersikeras agar wilayah perairan Iran itu dapat diakses secara bebas.
4. Cakupan Gencatan Senjata
Teheran menginginkan agar kesepakatan penghentian perang termasuk pada pemberian kompensasi kerusakan ke Iran dan cakupan kesepakatan gencatan senjata yang meluas hingga Lebanon.Akan tetapi, fokus AS dalam kesepakatan ini dilaporkan lebih terbatas hanya pada pembatasan nuklir dan jalur distribusi Selat Hormuz. Perbedaan ini nampak jadi salah satu hambatan yang muncul dalam perundingan.
5. Hilangnya Kepercayaan
Proses negosiasi yang berlangsung di Pakistan digambarkan Iran penuh dengan rasa tidak percaya. Hal ini meningkatkan ketegangan dan menyulitkan tercapainya kesepakatan.Sebelumnya, Iran dan AS telah dua kali melakukan perundingan sejak April 2025 hingga Februari 2026. Dalam kedua negosiasi itu gagal mencapai kesepakatan dan AS memutuskan untuk melakukan serangan ke Iran.
Situasi tersebut juga terjadi dalam pecahnya perang pada 28 Februari lalu. Washington dan Teheran tengah berunding ketika Trump memutuskan untuk membom Teheran dan membunuh pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























