tirto.id - Gagalnya proses perundingan Iran dan Amerika Serikat (AS) soal gencatan senjata lanjutan, membuat Presiden AS Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz. Namun, blokade yang disebut Trump tampak kontradiktif dengan apa yang dijelaskan Pusat Komando AS (CENTCOM).
Dalam keterangannya pada Minggu (12/4/2026), Trump menyebut bahwa pemerintahannya akan memblokade kapal-kapal yang membayar tarif lintas Selat Hormuz ke Iran. Tarif itu disebut Trump sebagai “tol ilegal”.
“Siapa pun yang membayar tarif ilegal tidak akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” katanya, dikutip dari BBC.
Sebelumnya, Iran dilaporkan menerapkan biaya lintas kepada kapal tanker yang melintas Hormuz. Biaya ini disebut berkisar hingga USD2 juta dan dibayarkan dalam yuan.
Trump kemudian mengancam akan mencegat seluruh kapal yang membayar tarif lintas tersebut. Ia menyebut telah menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk melakukannya di perairan internasional.
“Angkatan Laut Amerika Serikat … akan memulai proses BLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz,” kata Trump, sembari menyebut bahwa blokade akan berlangsung dengan segera.
Akan tetapi, penjelasan Trump atas blokade ini tampak kontradiktif dengan penjelasan CENTCOM. Pusat komando militer AS itu menjelaskan operasi ini hanya akan menargetkan kapal yang pergi ke dan dari pelabuhan Iran.
Seturut Al Jazeera, kapal lain yang tak pergi ke dan dari pelabuhan Iran memiliki kebebasan navigasi untuk transit di selat tersebut. CENTCOM juga tak membahas apa yang disebut Trump sebagai “tol ilegal” dalam keterangannya.
Beda penjelasan antara Trump dan CENTCOM ini memicu ambiguitas bagi perjalanan laut via Hormuz. Para ahli juga mempertanyakan tentang apakah AS memiliki kewenangan untuk melakukan blokade.
Akan tetapi, meskipun masih menimbulkan pertanyaan, CENTCOM membuat pernyataan terbaru dan mengumumkan bahwa blokade efektif dilakukan mulai hari ini, Senin (13/4/2026).
CENTCOM Memulai Blokade Selat Hormuz Senin
Dalam keterangannya pada Senin dini hari, CENTCOM menyebut bahwa mereka akan menerapkan blokade Selat Hormuz mulai Senin pagi waktu AS atau Senin malam waktu Indonesia. Mereka menyebut hal ini telah sesuai dengan pernyataan Trump sebelumnya.
CENTCOM menyebut bahwa blokade akan diterapkan kepada “kapal semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran”. Mereka juga menegaskan bahwa operasi ini tidak menargetkan kapal yang transit di pelabuhan non-Iran di Hormuz.
Pusat komando militer AS itu juga menyebut bahwa blokade akan dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan informasi kepada awak kapal komersial.
“Informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum dimulainya blokade. Semua pelaut disarankan untuk memantau siaran Pemberitahuan kepada Pelaut dan menghubungi angkatan laut AS di saluran jembatan-ke-jembatan nomor 16 ketika beroperasi di pendekatan Teluk Oman dan Selat Hormuz,” tulis CENTCOM dalam rilis resmi.
Blokade ini merupakan perkembangan situasi terbaru dalam Perang Iran-AS yang pecah sejak 28 Februari lalu. Kedua negara tersebut sebelumnya telah bersepakat untuk melakukan gencatan senjata pada Rabu (8/4/2026).
Akan tetapi, perundingan antara Teheran dan Washington di Islamabad, Pakistan, hingga Minggu (12/4/2026) gagal mencapai kesepakatan. Iran menyebut perundingan berjalan dalam suasana tak saling percaya, sementara Trump menyebut gagalnya negosiasi terjadi karena kedua negara tak sepakat soal program nuklir Iran.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























