Menuju konten utama

Purbaya Minta Misbakhun Getok-Getok BI agar Tak Serap Likuiditas

Purbaya mengingatkan, keringnya likuiditas berisiko membuat pertumbuhan ekonomi stagnan di level 5 persen.

Purbaya Minta Misbakhun Getok-Getok BI agar Tak Serap Likuiditas
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) beserta jajaran memberikan keterangan kepada media dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi November 2025 di Jakarta, Kamis (20/11/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, untuk lebih aktif mengawasi Bank Indonesia (BI).

Ia meminta agar BI tidak menyerap likuiditas secara berlebihan dari perekonomian. Purbaya mengingatkan, jika hal itu tidak dilakukan, pertumbuhan ekonomi berisiko stagnan di level 5 persen—seperti pada era pemerintahan sebelumnya—dan target pertumbuhan 8 persen akan sulit tercapai.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya sebagai respons atas penurunan pertumbuhan uang beredar (M2) pasca-injeksi likuiditas fiskal pemerintah.

Ia mengungkapkan, setelah pemerintah mengguyurkan Rp200 triliun ke sistem, uang beredar sempat naik hingga 13 persen pada September, namun turun menjadi 7,8 persen dan kembali turun pada November.

"Jadi gini, ini kan kalau kebijakan moneter bukan fiskal, kenapa saya ikut campur? Karena Pak Misbakhun gak ngamatin BI. Pak Misbakhun gak getok-getok BI. Artinya, ini gak bisa kalau saya sendirian," kata Purbaya di acara Bimtek Golkar, dikutip Jumat (12/12/2025).

Menurutnya, penurunan itu terjadi karena likuiditas tersebut diserap kembali oleh bank sentral. "Ini saya naikin ke 13 persen, kenapa turun lagi? Karena uangnya diserap ke bank sentral. Bulan November juga lebih banyak diserapnya. Turun lagi. Kalau dibiarkan terus kita akan menghadapi pertumbuhan ekonomi sama dengan Pak Jokowi. Paling cuma 5 persen, lupakan (target) 8 persen," paparnya.

Purbaya menekankan bahwa fondasi perekonomian Indonesia saat ini bertumpu pada permintaan domestik, yang menyumbang 90 persen dari total perekonomian. Hal ini, menurutnya, menjadi buffer terhadap ketidakpastian global.

"Kini 90 persen ekonomi kita ini disumbang oleh domestic demand. Jadi, kalau global hancur-hancuran, selama saya bisa jaga 90 persen, harusnya kita aman," ujarnya.

Ia juga menjelaskan manfaat injeksi likuiditas yang dilakukan pemerintah ke perbankan. Kebijakan tersebut memicu penurunan bunga deposito dan bunga pinjaman.

Dengan demikian, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit ke sektor riil dan menjadi pengungkit perekonomian.

"Waktu saya gelontorin uang, dampaknya apa? Ini bunga-bunga, bunga deposito, turun pasti bunga pinjaman juga mulai turun. Bunga antar bank juga turun. Itu dampak dari pengelolaan uang di kebijakan fiskal dan moneter di perekonomian," jelas Purbaya.

Meski menyoroti masalah koordinasi, Purbaya menyebut telah ada komunikasi dengan BI. Kedua lembaga negara tersebut sepakat mendorong laju pertumbuhan yang lebih cepat ke depan.

"Tapi kami sudah diskusi dengan bank sentral kemarin kemudian sudah ada kesepakatan untuk mendorong laju ke pertumbuhan yang lebih cepat kemarin. Jadi, harusnya masa depan kita masih bisa terjaga," tuturnya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana