tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kredit murah yang disediakan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) masih terbatas untuk industri manufaktur termasuk tekstil dan sepatu yang sudah berorientasi ekspor. Sementara untuk perusahaan-perusahaan manufaktur yang belum berorientasi ekspor belum bisa mendapatkan kredit murah dari LPEI.
Untuk perusahaan-perusahaan manufaktur yang belum berorientasi ekspor, sebenarnya bisa mendapatkan pinjaman murah dari pemerintah jika PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang nantinya akan diperuntukkan sebagai bank khusus pembiayaan UMKM sudah beroperasi di bawah Kementerian Keuangan.
"Jadi, yang pertama yang berorientasi ekspor dulu. Satu-satu nanti yang berorientasi ekspor. Kalau PNM saya ambil kan bisa, tapi sekarang masih belum," kata Purbaya, kepada awak media, di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Purbaya mengaku untuk saat ini pihaknya belum bisa berbuat banyak untuk perusahaan-perusahaan manufaktur yang belum berorientasi ekspor. Untuk mengatasi hambatan perusahaan-perusahaan manufaktur yang belum berorientasi ekspor saat ini hanya melalui Kanal Debottlenecking Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP).
"Nanti kami pikirkan cara lain. Anda pernah lihat di (Satgas) debottlenecking (proses pemecahan masalah industri)," tambahnya.
Sebelumnya, Purbaya berjanji untuk memberikan kredit murah kepada industri manufaktur melalui LPEI. Dus, produsen-produsen tekstil, sepatu maupun industri manufaktur lainnya bisa melakukan peremajaan mesin.
Hal ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan sektor swasta yang berkontribusi sekitar 90 persen terhadap perekonomian nasional.
"Nanti kami akan ketemu dengan industri tekstil, sepatu, dan lain-lain. Di mana mereka memerlukan dana lebih murah untuk peremajaan mesin-mesinnya," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBNKita, Selasa (5/5/2026).
"Jadi kita akan hidupkan betul-betul sektor swasta juga. Ekonomi bukan hanya didorong oleh pemerintah saja, nanti swasta akan hidup juga," ucapnya.
Purbaya mengaku menjalankan instruksi Presiden untuk mengintensifkan strategi pertumbuhan berbasis swasta. "Saya menjalankan perintah Bapak Presiden saja. Jadi jangan takut. Dengan (pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026) 5,61 persen tadi, banyak ekonom yang bilang kita mau rusak, pada kecele," katanya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





































