tirto.id - Serma Christian Namo adalah ayah dari almarhum Prada Lucky, tentara yang meninggal diduga dianiaya para seniornya.
Sebagaimana anaknya, Christian juga merupakan seorang tentara. Ia berdinas di Kodim 1627 Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sosoknya viral usai terlihat tidak dapat menahan kemarahan atas insiden yang dialami putranya itu. Dalam keadaan yang meluap-luap, Serma Christian sempat terekam kamera tengah mengungkapkan kekecewaan atas penanganan jenazah almarhum Prada Lucky yang ia nilai tidak tanggap.
Pasca meninggalnya Prada Lucky, jenazah almarhum diterbangkan pulang kembali ke Kota Kupang. Sesampainya di kampung halaman, jenazah sempat dibawa pihak keluarga ke Rumah Sakit Tentara Wira Sakti Kupang.
Sedianya, pihak keluarga datang ke rumah sakit tersebut hendak meminta proses autopsi jenazah Prada Lucky. Namun, begitu sampai di lokasi, pihak rumah sakit tidak dapat memproses autopsi jenazah Prada Lucky dikarenakan ketiadaan dokter forensik.
Hal ini sempat membuat Serma Christian naik pitam. Didorong rasa ingin mendapat keadilan atas meninggalnya sang anak, Serma Christian meluapkan emosinya ke pihak rumah sakit, TNI, juga negara.
Belakangan, Serma Christian mengklarifikasi ucapannya di rumah sakit yang kemudian viral itu, menyebut ia tak bermaksud menjelek-jelekkan institusi mana pun.
Profil Serma Christian Namo & Klarifikasi terkait Bakar Bendera
Di Kodim 1627 Rote Ndao, Sersan Mayor Christian Namo merupakan prajurit berpangkat bintara tinggi. Ia tercatat tengah menjabat sebagai Plt Danramil 1627-02 Pantai Varu, Rote Ndao.
Selama kariernya di militer, Serma Christian Namo pernah ditugaskan di berbagai tempat, termasuk dalam Operasi Darurat Militer di Aceh pada 2003.
Dalam video yang viral di internet, Christian menyatakan bahwa dirinya telah berdinas selama lebih dari 30 tahun sebagai anggota TNI.
Selama lebih dari 30 tahun tersebut, katanya, Christian menapaki jenjang karier prajurit TNI dari bawah, sebagaimana almarhum anaknya.
"Saya 31 tahun [jadi tentara] dari Prada, anak saya juga [memulai karier dari] Prada. Saya dinas 31 tahun, baru kali ini terjadi [peristiwa seperti ini] di diri saya," katanya di depan kamera.
Serma Christian tertangkap kamera tengah mengamuk ketika jenazah putranya tak dapat diautopsi oleh RST Wira Sakti Kupang.
Begitu mengetahui alasan tidak adanya dokter forensik di RS tersebut, Christian sontak meluapkan kekecewaannya kepada semua pihak pihak rumah sakit.
"Masak sudah tahu dari beberapa hari anak saya meninggal, dokter forensik tak ada?" cecar Serma Christian ke petugas RST.
Ia juga sempat meluapkan emosinya dan meminta keadilan atas kematian anaknya kepada negara.
"Kalau tidak ada keadilan [atas kematian anak saya], Indonesia bubar [saja]," teriaknya.
Sesaat setelahnya, Serma Christian kemudian buru-buru menyuruh anggota TNI lain untuk memikul peti jenazah putranya keluar RST Wira Sakti dan mencari rumah sakit lain yang dapat memproses autopsi pada jenazah putranya.
Namun, luapan emosi Serma Christian kemudian diklarifikasi. Ia menyatakan permohonan maaf kepada institusi TNI atas pernyataannya yang viral tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya tak bermaksud menghina TNI.
"Saya kerja untuk rakyat, untuk Merah Putih, 31 tahun jadi tentara," katanya.
"Tidak mungkin saya menghancurkan nama TNI," tambah dia.
Sementara itu, Komando Daerah Militer (Kodam) IX/Udayana menyatakan bahwa kemarahan Serma Christian Namo yang kemudian viral adalah hal yang wajar.
"Kalau ayah korban marah, itu wajar karena beliau adalah orang tua," kata Wakil Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Letnan Kolonel Infanteri Amir Syarifudin pada Jumat (9/8), dikutip dari ANTARA.
Menurut Amir Syarifudin, pihaknya mewajarkan luapan emosi yang meledak-ledak dari Serma Christian.
"Kita juga paham itu. Siapapun akan begitu," katanya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id





























