Menuju konten utama
Mozaik

Petrodollar, Hegemoni AS Lewat Perdagangan Minyak Dunia

Hidup-mati AS di tangan dolar AS. Mereka membelanya mati-matian, meski harus menginvasi negara lain atau bahkan memantik perang besar-besaran.

Petrodollar, Hegemoni AS Lewat Perdagangan Minyak Dunia
Header Mozaik Petrodollar, Hegemoni Toksik AS di Perdagangan Minyak Dunia. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Henry Kissinger dan Pangeran Fahd bin Abdulaziz berjabat tangan sembari saling melempar senyum, tepat selepas keduanya menandatangani perjanjian ekonomi dan militer antara Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Kesepakatan itu diteken pada 8 Juni 1974 di Gedung Departemen Luar Negeri, Washington, D.C., Amerika Serikat. Kissinger menjabat Secretary of State setara Menteri Luar Negeri AS sekaligus Penasihat Keamanan Nasional, sementara Pangeran Fahd ketika itu berstatus Putra Mahkota Arab Saudi.

Itulah tonggak terbentuknya komisi kerja sama yang disebut United States-Saudi Arabian Joint Commission on Economic Cooperation. Salah satu poinnya perjanjiannya adalah penerapan sistem perdagangan minyak hanya menggunakan dolar AS, yang kemudian populer dengan sebutan petrodolar.

Ketika itu, banyak pihak tidak menyangka bahwa Arab Saudi dan AS bisa begitu mesra, mengingat sekira enam bulan sebelumnya mereka berdiri berseberangan di peperangan.

Minyak Jadi Senjata Politik Ekonomi

Tanggal 6 Oktober 1973, pasukan Mesir di bawah Presiden Anwar Sadat serta Suriah pimpinan Presiden Hafez al Assad memulai perang melawan Israel. Peristiwa itu belakangan dikenal sebagai Perang Yom Kippur.

Eskalasi Perang Yom Kippur kian meningkat pada pertengahan Oktober 1973. Israel, yang terdesak pada awal pertempuran, lantas mendapat bantuan logistik militer dari sekutu mereka, AS.

Tindakan AS memantik negara-negara Arab yang tergabung dalam organisasi eksportir minyak dunia (OAPEC) untuk melakukan pembalasan. Mereka berniat mengganggu stabilitas harga minyak dunia.

Negara-negara produsen minyak, termasuk Arab Saudi, mengawali aksinya dengan memangkas jumlah produksi. Mereka juga mengembargo pihak-pihak pendukung Israel.

Bahkan, setelah gencatan senjata pada 25 Oktober 1973, negara-negara Arab masih terus menggunakan minyak sebagai senjata politik paling ampuh untuk menekan negara Barat pendukung Israel.

Itu membuat harga minyak dunia meroket hingga empat kali lipat, hanya dalam kurun kurang dari setahun.

Dunia sontak dilanda krisis bahan bakar minyak. Di AS dan negara-negara Eropa, antrean kendaraan yang mengular di stasiun pengisian bahan bakar jadi pemandangan biasa.

Pabrik-pabrik dipaksa mengurangi jam operasional, yang tentu saja berpengaruh terhadap laju produksi. Sektor manufaktur dunia merosot. Kondisi itu tercatat sebagai kontraksi ekonomi terburuk sejak Perang Dunia II.

Krisis minyak baru mereda pada Maret 1974, selepas Kissinger berhasil menggelar perundingan damai antara Israel, Mesir, dan Suriah.

Sayangnya, meski produksi kembali berjalan normal dan embargo sudah dicabut, harga minyak dunia tetap tidak bisa kembali ke angka 3 dolar AS, seperti sebelum Perang Yom Kippur. Di sinilah titik ketika AS mulai melihat pentingnya menjerat transaksi minyak agar hanya menggunakan dolar AS

Petrodolar Lahir dari Krisis Energi

Ambisi Negeri Abang Sam menjadikan dolar AS sebagai jangkar ekonomi global sejatinya sudah dirancang sejak 1944, jelang berakhirnya Perang Dunia II.

Ketika itu, perwakilan 44 negara yang tergabung dalam The United Nations Monetary and Financial Conference bertemu di Bretton Woods, New Hampshire, AS. Mereka menyusun sistem moneter global yang baru, yang dinilai mampu menjamin stabilitas nilai tukar, mencegah devaluasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dengan berlakunya sistem perdagangan internasional yang disebut The Bretton Woods system itu, dolar AS menjadi mata uang perdagangan dunia yang dipatok berlandaskan emas, yakni 35 Dolar AS per ons emas.

Sempat berjalan seperempat abad, sistem Bretton Woods kemudian runtuh pada 1971 ketika Presiden Richard Nixon melepas dolar AS dari landasan emas. Harold James, dalam buku International Monetary Cooperation Since Bretton Woods, menjelaskan bahwa Nixon mengambil langkah tersebut karena terjadi krisis cadangan emas fisik di AS, ditambah defisit anggaran akibat Perang Vietnam serta program sosial domestik.

ilustrasi petrodolar

Ilustrasi petrodolar. FOTO/iStockphoto

Sejak 1971 dolar AS resmi menjadi mata uang fiat yang tidak memiliki jaminan nilai intrinsik emas. Kondisi ini membuat mata uang AS terancam jatuh. Belum lagi masalah embargo yang minyak dialami mereka pada 1973-1974, sebagai dampak Perang Yom Kippur.

Dihadang dua persoalan sekaligus justru malah memunculkan solusi bagi AS. Presiden Nixon mengutus Menteri Keuangan AS, William Simon, serta Menteri Luar Negeri, Henry Kissinger, untuk secara rahasia melobi Kerajaan Arab Saudi selaku produsen minyak mentah terbesar di jazirah Arab.

Kesepakatan antara AS dan Arab Saudi, sebagaimana disebut di awal artikel, akhirnya tercapai pada Juni 1974. Arab Saudi bersedia menjual minyak produksinya hanya menggunakan dolar AS. Mereka bahkan mau menginvestasikan surplus dolar AS yang dihasilkan dari penjualan minyak, dengan cara membeli Surat Utang AS (US Treasury Bonds).

Lalu, mengapa Arab Saudi rela menjabat tangan AS, padahal tak lama sebelumnya berkonfrontasi di palagan?

Kerajaan Arab Saudi tergiur oleh iming-iming jaminan keamanan penuh dari AS. Mereka juga dijanjikan bisa mengakses aneka persenjataan canggih milik AS. Pancingan dari Negeri Abang Sam mengena, terlebih karena mereka memang membutuhkan militer AS sebagai perlindungan terhadap pengaruh Uni Soviet serta stabilitas kawasan Asia Barat yang kerap bergolak.

Tak menunggu lama, langkah Arab Saudi diikuti oleh negara produsen minyak lainnya di jazirah Arab. Situasi ini membuat mata uang dolar AS menjadi pilihan utama sebagai cadangan devisa dunia.

Para Penentang Hegemoni Petrodolar

Melanggengkan hegemoni dengan sistem petrodolar tidak berjalan mulus begitu saja. Resistansi muncul dari beberapa pihak yang menilai sistem ini sejatinya lebih menguntungkan AS.

Perlawanan terhadap petrodolar pernah dilakukan oleh Irak di bawah Presiden Saddam Hussein.

Maret 2003, AS melancarkan operasi militer terhadap Irak dengan tudingan kepemilikan senjata pemusnah massal. Namun, itu dalih belaka. Negeri Abang Sam sejatinya hanya tak suka dengan keputusan Saddam mengubah mata uang transaksi minyak mereka dari dolar ke Euro.

Cerita selanjutnya bisa ditebak. Rezim Saddam jatuh. Rezim penggantinya kembali menganut petrodolar.

Upaya melepaskan diri dari sistem petrodolar juga sempat dilakukan pemimpin Libya, Muammar Gaddafi.

Tahun 2009, Gaddafi, yang berstatus Ketua Uni Afrika, mengusulkan agar kawasan itu menggunakan mata uang dinar emas untuk perdagangan, termasuk komoditas minyak.

Jika sistem dinar emas Pan-Afrika sampai terwujud, pendapatan ekspor minyak di kawasan Afrika dapat dikelola secara mandiri. Mereka tidak perlu bergantung kepada bank-bank di AS.

Brad Hoff, melalui tulisannya di Foreign Policy Journal, membeberkan salah satu bocoran pos-el Hillary Clinton dari Wikileaks, yang mengatakan bahwa Gaddafi sudah mengumpulkan hingga 143 ton emas dan perak untuk mewujudkan mata uang dinar emas Afrika.

Hanya dua tahun selepas Gaddafi mencetuskan idenya, pada 2011, pasukan NATO menginvasi Libya, yang saat itu tengah mengalami gejolak politik dalam negeri. Kekuasaan Gaddafi pun runtuh. Ia dibunuh. Sementara itu, sistem petrodolar kembali aman.

Belakangan, AS makin sering mengintervensi negara lain.

Awal 2026, di bawah rezim Donald Trump, mereka melancarkan operasi militer kilat untuk menculik presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Dalihnya kejahatan narkotika. Belakangan terungkap bahwa itu berkaitan dengan kebijakan Maduro, yang sudah cukup lama menggunakan mata uang Yuan—dan mata uang lain—untuk perdagangan minyak.

Belum kering darah kematian pasukan Venezuela, AS dan Israel kembali melancarkan serangan militer pada Februari 2026. Kali ini targetnya Iran. Dalihnya pelucutan senjata nuklir dan pergantian rezim di Teheran.

Nyatanya, faktornya sama: Iran menggunakan alternatif pembayaran lain selain dolar. Salah satunya Yuan, untuk transaksi dengan Cina.

HARGA mINYAK nAIK

harga minyak naik. foto/shutterstock

Kenapa AS Mati-matian Mempertahankan Petrodolar?

Penguatan nilai dolar sangat krusial bagi suatu negara. Bagi AS, selama ini, petrodolar adalah senjata ampuh untuk menjaga itu.

Karenanya, penurunan dominasi dolar AS dalam perdagangan global bakal membawa konsekuensi buruk terhadap ekonomi dalam negeri AS.

Nilai dolar AS akan anjlok jika permintaan dunia atas mata uang ini terus menurun. Imbasnya, AS bisa mengalami inflasi tinggi, biaya ekonomi membengkak, termasuk untuk produk impor dari negara lain.

Keruntuhan petrodolar juga dapat memicu peningkatan suku bunga. Pasalnya, selama ini negara-negara Arab terus membeli obligasi negara dalam skema Petrodollar Recycle.

Jika "kebiasaan" itu sampai terhenti, AS akan kehilangan investor utama surat utangnya. Akibatnya, demi menarik lebih banyak investor pengganti, bank sentral AS (The Fed) perlu menaikkan suku bunga. Efek berantai kenaikan suku bunga jelas memengaruhi bermacam beban cicilan masyarakat, seperti kredit rumah (properti), kredit kendaraan, serta pinjaman bank.

Ketakutan yang muncul dalam mimpi buruk Abang Sam itulah yang membuat mereka membabi buta mempertahankan dominasi dolarnya. Selaras dengan perkataan Scott Beyer dalam kolomnya di Independent Institute, bahwa perdagangan energi (minyak) global merupakan penopang kekuatan dolar AS. Maka itulah mereka tak segan menempuh berbagai cara, termasuk perang dan invasi militer.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Oryza Aditama

tirto.id - Mozaik
Penulis: Oryza Aditama
Editor: Fadli Nasrudin