23 Oktober 1973

Perang Yom Kippur: Bukti Sulitnya Mendamaikan Arab-Israel

Ilustrasi perang Yom Kippur. tirto.id/Gery
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 23 Oktober 2017
Dibaca Normal 4 menit
Momen yang membuktikan Timur Tengah adalah kawasan yang mudah bergolak dan sulit didamaikan.
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) punya visi mulia: “menjaga perdamaian dan keamanan dunia”. Meski netralitasnya diragukan oleh dunia yang sedang perang ideologi pada era 1950-1970-an, PBB selalu terdepan dalam upaya mendinginkan konflik bersenjata. Termasuk saat Mesir dan Suriah melancarkan operasi militer merebut kembali Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel lewat Perang Enam Hari.

Upayanya tergolong tidak mudah, karena di Perang Yom Kippur ini masing-masing pihak emoh berdamai, terutama Israel.

Pada 6 Oktober 1973, hari tersuci kaum Yahudi untuk merayakan Yom Kippur atau Hari Penebusan, pesawat tempur Mesir melintasi Terusan Suez pada pukul 2 dini hari untuk menuju Sinai. Pesawat-pesawat Suriah juga memulai serangan udara besar-besar terhadap pos Israel di Dataran Tinggi Golan secara bersamaan. Pasukan Mesir dikomandoi Presiden Anwar Sadat, sementara Suriah di bawah perintah Hafez al-Assad. Dua negara ini sudah menyatukan komando militer jauh-jauh hari.

Meski demikian, sejumlah sumber sejarah menyebut kedua pemimpin punya misi yang berbeda. Mengingat senjata Mesir kurang canggih dan tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan Sinai secara keseluruhan melalui operasi militer; hanya empat bulan setelah menduduki kursi kepresidenan, Sadat menawarkan kesepakatan damai kepada Israel jika mereka mau melepaskan Sinai. Golda Meir, Perdana Menteri Israel saat itu, menolaknya mentah-mentah.

Akhirnya, untuk mempersiapkan betul-betul sebelum berangkat ke medan perang, Sadat menjalin aliansi dengan Assad. Assad berkuasa di Suriah setelah memimpin kudeta pada tahun 1970, dan keikutsertaannya dalam perang dimaksudkan untuk membuktikan kekuatannya di hadapan warga Suriah.

Baca juga: 50 Tahun Perang 6 Hari dan Pendudukan Israel atas Palestina

“Assad mengatakan kepada saya bahwa sejak saat perebutan kekuasaan, ambisinya, mimpinya, adalah untuk membalas kekalahan tahun 1967 ketika Suriah kehilangan Golan ke Israel dan ketika Assad sendiri adalah menteri pertahanan," kata Patrick Seale, jurnalis Inggris dan penulis biografi Hafez al-Assad.

"Jadi saya pikir dia merasakan punya tanggung jawab pribadi untuk memulihkan tanah negaranya. Assad menganggap perang yang dia rencanakan itu sebagai perang pembebasan," lanjutnya, sebagaimana tertuang dalam catatan sejarah Al Jazeera. Sadat, di sisi lain, hanya mencari perang secukupnya sebab memusatkan pikiran pada proses perdamaian yang macet.

Di hari pertama perang, Mesir melancarkan Operasi Badr yang bertujuan merebut penyeberangan Terusan Suez dan penguasaan Bar Lev Line, dinding pertahanan yang dibangun Israel di tepi timur terusan. Mesir berhasil, dan penyeberangan legendaris ini terus dikenang Mesir tiap tahunnya (pada perayaan kesekian tanggal 6 Oktober 1982 di Kairo, Anwar Sadat dibunuh oleh jihadis Khalid Islambouli yang turut serta dalam parade militer).

Di medan perang sebelah utara, tiga divisi infanteri Suriah melintasi jalur gencatan senjata bernama Purple Line. Dalam kurun waktu dua jam mereka sukses merebut Mata Israel, sebutan untuk sebuah titik pandang penting Israel di atas ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, di area puncak Gunung Hermon. Israel mengalami kerugian cukup besar dan tentara Suriah sudah bergembira ria—merasa kemenangan seutuhnya sudah di depan mata.

Baca juga: Mesir dan Suriah Menjadi Satu dalam Republik Persatuan Arab

Namun mereka salah besar. Dalam waktu kurang dari 24 jam Israel memobilisasi dua divisi kendaraan lapis baja dan merebut kembali Mata Israel, bahkan bergerak lebih jauh ke dalam teritori Suriah. Dunia Arab panik dan mengirim unit tentara Irak, Arab Saudi, dan Yordania untuk membantu pertahanan Suriah. Sayang, Israel terlanjur merebut teritori Suriah secara signifikan, yakni hingga jarak 35 kilometer dari Damaskus.

AS dan Uni Soviet tak mau ketinggalan untuk mendukung kedua pihak. AS berada di belakang Israel, sementara Soviet membekingi negara-negara Arab. Mereka mengirimkan bantuan tank, artileri, dan lain sebagainya. Bantuan ini lebih menguntungkan Israel yang pada tanggal 16 Oktober, atau 10 hari usai perang dimulai, berhasil menembus jalur pertahanan Mesir yang cukup dekat dengan ibukota Kairo.

Sejak gelombang serangan balik tersebut, Israel berada di atas angin—kondisi yang pada akhirnya diklaim sebagai kemenangan Israel dalam segi militer (dalam segi politik, Mesir dan Suriah nantinya lebih diuntungkan).

Koalisi negara Arab merasa terdesak dan memutuskan untuk menggunakan taktik lain. Negara-negara penghasil minyak Arab, di bawah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), memutuskan untuk mengurangi produksi minyak mereka hingga lima persen.

Mereka mengultimatum akan “mempertahankan tingkat pengurangan yang sama setiap bulannya sampai tentara Israel ditarik sepenuhnya dari semua wilayah Arab yang diduduki pada Perang Juni 1967 (Perang Enam Hari) dan memulihkan hak-hak yang sah dari rakyat Palestina.”

Mereka juga memberlakukan embargo khusus kepada AS, yakni dengan menangguhkan pemberian pasokan minyak. Penurunan produksi dan pasokan menyebabkan kenaikan harga minyak dunia naik dan membuat AS mempertimbangkan kembali keterlibatannya di Perang Yom Kippur.

Baca juga: Israel Diperangi Negara-Negara Arab dan Menang

Jelang pertengahan Oktober, kedua belah pihak sudah kelelahan dan siap untuk gencatan senjata. Tentara Israel yang tewas diperkirakan berjumlah 2.600 sementara 8.800 luka-luka. Jumlah ini termasuk signifikan jika dibandingkan dengan total populasi Israel saat itu. Mesir dilaporkan kehilangan 7.700 pasukannya, sementara pasukan Suriah yang terenggut nyawanya kurang lebih 3.500 orang.

Pada 22 Oktober, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 338. Isinya menyerukan proses gencatan senjata sembari kembali menegaskan Resolusi 242 yang disahkan pada tahun 1967. Isi Resolusi 242 adalah permintaan kepada Israel untuk menarik diri dari wilayah yang didudukinya pada tahun 1967. Perang dijadwalkan berhenti pada pukul 06.52 waktu Timur Tengah.

Namun, Israel membandel. Keesokan harinya, mereka melakukan serangan seperti biasa. Kala itu mereka sukses melewati Kota Suez dan mencapai Pelabuhan Adabia. Tentara Mesir yang berjaga di sisi Timur Terusan Suez dikelilingi tentara Israel dari segala sisi. Komunikasi antara 35.000 pasukan dan markas utama otomatis terputus.

Di hari yang sama, Dewan Keamanan PBB kembali berkumpul untuk menegaskan perihal gencatan senjata dengan mengeluarkan Resolusi 339. Mereka juga mengerahkan pengamat ke garis depan. Gencatan senjata baru ini dijadwalkan berlaku efektif pada tanggal 24 Oktober, tepatnya pukul 7 pagi.

Tapi, sekali lagi, Israel melanggarnya. Mereka menargetkan kota besar seperti Ismailia atau Suez. Kata jurnalis senior Mesir Gamal El-Ghitani kepada Al Jazeera,"Mereka bertempur juga di ranah media, tapi di waktu yang bersamaan, mereka ingin mencapai kemenangan politik yang lebih besar dari yang sudah didapatkan sebelumnya.”

Baca juga: Negara Israel Nyaris Didirikan di Uganda

Pagi hari 26 Oktober, giliran Angkatan Darat Ketiga Mesir yang melanggar gencatan senjata. Mereka menerobos wilayah musuh, tetapi kemudian dipukul mundur oleh pasukan udara dan darat Israel.

Tapi tak semua tentara bandel. Di sisi Terusan Suez sebelah utara kedua belah pihak lebih santai dalam rangka menghormati gencatan senjata.

Dua hari setelahnya, pada 28 Oktober, pemimpin militer Israel dan Mesir bertemu untuk membahas gencatan senjata. Ini adalah pertemuan pertama antar perwakilan militer dari kedua negara dalam 25 tahun. Negosiasi ini juga berakhir tegang karena kondisi di lapangan belum bisa dikendalikan sepenuhnya.



AS kemudian memulai usaha diplomatik untuk menjamin kesepakatan antara Israel dan Mesir-Suriah, sampai-sampai menawarkan jutaan dolar agar kesepakatan benar-benar dihormati. AS mulai kepayahan sebab pasokan minyak yang turun membuat ekonomi nasional mereka bergejolak hebat.

Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger, terbang dari satu negara ke negara lain sejak 6 November dalam upaya menjadi perantara kesepakatan damai. Setelah beberapa bulan berusaha keras, Kissinger berhasil melakukan terobosan penting: Israel menyetujui sebuah kesepakatan pelepasan wilayah Suriah yang dianeksasi pada 28 Mei 1974. Kesepakatan ini akhirnya ditandatangani di Jenewa pada 5 Juni dan secara resmi mengakhiri rangkaian Perang Yom Kippur setelah berlangsung 243 hari.

Baca juga: Membunuh Anwar Sadat

Israel boleh mengklaim kemenangan militer dalam perang ini. Namun, secara politis Mesir dan Suriah lebih diuntungkan. Semenanjung Sinai kembali ke tangan Mesir. Sebagian Dataran Tinggi Golan kembali ke tangan Suriah—menandai perjuangan lebih lama lagi bagi Assad ke depannya. Untuk mengamankan situasi, zona penyangga didirikan PBB di perbatasan Israel-Mesir dan Israel-Suriah.

Perang Yom Kippur punya dampak cukup krusial bagi masa depan Timur Tengah. Perang ini membuka mata Sadat atas sebuah fakta penting bahwa Israel tak dapat dikalahkan secara militer. Bagi Sadat, dunia Arab harus mengendurkan ambisi melenyapkan Israel dengan jalan militer. Sadat kemudian menempuh jalan yang penuh resiko: berdamai dengan negara zionis tersebut.

Pada 19 November 1977, Sadat melawat ke Yerusalem untuk menemui Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Ini adalah kunjungan pertama dalam sejarah yang dilakukan pemimpin dunia Arab. Tahun berikutnya, diadakan negosiasi rahasia di Camp David antara Mesir-Israel yang dimediasi AS pada 17-29 September 1978. Kemudian perjanjian damai di antara dua negara itu betul-betul ditandatangani Sadat dan Begin di Gedung Putih pada 26 Maret 1979—sebuah perjanjian yang membuat Sadat terbunuh empat tahun sesudahnya.

Setelah menormalisasi hubungan dengan Israel, Mesir diusir dari Liga Arab, dan semua negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Kairo. Yordania lalu menyusul Mesir dengan menandatangani perjanjian damai pada tahun 1992.

Pada akhirnya hanya Mesir dan Yordania yang punya hubungan normal dengan negara Yahudi itu. Israel sendiri, sementara itu, meneruskan aneksasinya di Tepi Barat, Yerusalem Timur, Gaza, dan sebagian Dataran Tinggi Golan sampai hari ini.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight