Negara Israel Nyaris Didirikan di Uganda

Theodor Herzl saat perjalanannya ke Mesir, 1903. FOTO/Walter Anton/Wikimedia Commons
Oleh: Tony Firman - 4 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Bapak Zionisme modern Theodor Herzl pernah mengusulkan agar orang-orang Yahudi di Eropa menetap dan bermukim di wilayah Uganda, Afrika Timur yang kini masuk bagian dari Kenya.
Sejak jurnalis berdarah Yahudi kelahiran Hungaria, Theodor Herzl menyebarkan pamflet berjudul Der Judenstaat (Negara Yahudi) pada tahun 1896, bayangan akan sebuah negara Yahudi merdeka seketika merebak.

Herlz tak sedang membual, ia benar-benar menghimpun setiap orang Yahudi Eropa yang merasa tersisih, dikucilkan, dan mengalami diskriminasi. Pada abad ke 20, Herlz ingin sebuah negara Yahudi berdiri di sebuah tanah yang diyakini memiliki ikatan sejarah dan budaya Yahudi terkuat.

Sejak peluncuran pamflet tersebut, Theodor Herzl menjadi ketua dalam gerakan politik Organisasi Zionis. Mereka mengadakan Kongres Zionis Pertama pada 29 Agustus 1897. Dikutip dari Jewish Virtual Library, kongres Zionis Pertama disebut Herzl sebagai sebuah parlemen simbolis bagi mereka yang bersimpati pada pelaksanaan tujuan-tujuan politik Zionis. Awalnya kongres tersebut diadakan di Kota Munich, tapi kenyataannya mendapat tentangan dari oposisi Yahudi lainnya.

Baca juga: Zionisme ala Muslim di Pakistan

Aula konser Casino Muncipal di kota Basel, Swiss kemudian dipilih menjadi tempat penyelenggaraan kongres perdana pada 29-30 Agustus 1897. Soal delegasi yang hadir, terdapat perselisihan jumlah dan ditarik kisaran 200 orang dari 17 negara hadir dalam kongres tersebut. Di kongres pertama ini, perempuan yang berpartisipasi juga tidak diberi hak suara.

Mereka merumuskan Program Basel, yang mengandung 4 butir manifesto dasar-dasar Zionisme dan pengesahan Organisasi Zionis itu sendiri. Salah satu misi gerakan ini adalah mendirikan sebuah rumah bagi orang-orang Yahudi di Eretz Israel (Tanah Israel). Hatikvah yang liriknya ditulis oleh Naftali Herz Imber ditetapkan sebagai lagi nasional kebangsaan sejak 1878.

Kongres Zionis Kedua dan berikutnya terus dilaksanakan. Herlz sendiri masih menjadi ketua Organisasi Zionis dan giat melakukan lobi-lobi politik bersama anggota Zionis lainnya untuk menggalang dana dan dukungan merealisasikan migrasi ke tanah Palestina, termasuk mempersiapkan banyak hal untuk tercapainya sebuah negara Yahudi.

Hingga pada tanggal 26 Agustus 1903 saat Kongres Zionis Keenam di Basel diselenggarakan, Herzl mengusulkan Afrika Timur sebagai tempat yang aman untuk orang-orang Yahudi bermukim. Wilayah itu dulu merupakan teritori Uganda yang kini sudah masuk menjadi bagian dari Kenya. Usulan skema ini bergulir menjadi sebuah kontroversi dalam internal Organisasi Zionis sendiri.

Baca juga: Kisah Muslim yang Menyelamatkan Yahudi dari Holocaust

Skema Uganda mengejutkan dan kontroversial. Proposal itu segera disalahpahami sebagai sebuah upaya untuk mengubur impian orang-orang Yahudi mendirikan negara Zionis di wilayah Timur Tengah. Gilanya lagi, ide ini terlontar dari mulut seorang pelopor gerakan Zionisme modern.

Herzl dalam kongres itu meminta hadirin mempertimbangkan opsi Uganda secara serius. Sementara debat terus berlanjut hingga Zionis Rusia melakukan demonstrasi menentang skema ini, pemungutan suara dalam internal kongres menghasilkan 295 suara delegasi yang mendukung skema Yahudi mendiami Uganda; 178 menentang dan 98 lainnya golput.

Pada peralihan ke abad ke-20, kekerasan terhadap komunitas Yahudi Eropa tengah merebak. Salah satunya adalah serangan terhadap Komunitas Yahudi Kishinev pada 6 April 1903. Serangan ini makin menguatkan gelombang pandangan akan perlunya negara Israel modern untuk menghadapi gelombang anti-semit.

Baca juga: Kala Yahudi Polandia Dikirim ke Kamp Neraka Belzec

Menurut Alona Ferber dari Center for Religion and Geopolitics, sebenarnya gagasan tentang pemukiman Yahudi di Uganda bukanlah murni tercetus dari ide awal Theodor Herzl sendiri. Usulan ini dapat dilacak hingga ke sebuah pertemuan pada tahun 1902 antara Herzl dan Joseph Chamberlain, menteri urusan kolonial Inggris.

Herzl kala itu mencoba meyakinkan Chamberlain untuk mengizinkan adanya pemukiman Yahudi di Siprus atau daerah Sinai sebagai solusi sementara bagi orang-orang Yahudi. Ketika keduanya bertemu lagi pada April 1903, Chamberlain mengajukan proposal tentang pemukiman Yahudi di Afrika Timur, yang saat itu berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris.

Mulanya Herzl menolak usulan pemberian tanah seluas 15.500 kilometer persegi tersebut. Namun rencana bermukim di Sinai juga tak masuk akal dan tidak direstui Inggris. Selain itu Herz juga menjaga hubungan baik antara gerakan Zionis dengan Inggris yang dipandang bisa membantu memberikan solusi pemukiman.

Baca juga: Bayi-Bayi yang Hilang dan Nasib Pahit Yahudi di Yaman

Inggris segera membantu mengurus segala keperluan pembentukan pemukiman Yahudi di Afrika Timur. Surat yang dikirimkan pejabat protektorat Sir Clement Hil ke Chamberlain menyatakan bahwa daerah tersebut memiliki otonomi sendiri, meski masih di bawah kontrol Inggris, lengkap dengan seorang pejabat Yahudi sebagai kepala pemerintahan setempat.

Segala persiapan beserta surat-surat pendukung dan restu dari Inggris inilah yang kemudian dibawa Herzl ke Kongres Zionis Keenam sampai-sampai menimbulkan reaksi keras dari kubu penentang yang menganggap usul Herlz sangat berlawanan dengan dasar Zionisme.

Perpecahan tak terhindarkan. Organisasi Teritori Yahudi (ITO) lahir memisahkan diri dari Organisasi Zionis. Kelompok ini tumbuh dipimpin oleh Yahudi Inggris bernama Israel Zangwill. Mereka memiliki pandangan bahwa pemukiman Yahudi boleh berada di berbagai belahan dunia, tidak merujuk pada suatu tempat yang spesifik dan tak bisa diubah.





Peristiwa penembakan yang menewaskan Max Nordau, wakil presiden Organisasi Yahudi sekaligus orang kepercayaan Theodor Herzl merupakan aksi perlawanan berdarah yang paling diingat dari penentangan proposal Uganda. Dalam sebuah perayaan Hanukkah di Paris pada 19 Desember 1903, seorang pemuda bernama Zelig Louban menembak Nordau sambil berteriak “Matilah kau Nordau, Afrika Timur.”

Kelanjutan rencana kepindahan orang-orang Yahudi Zionis ke Afrika Timur akhirnya ditolak dalam Kongres Zionis Ketujuh pada 1905. Organisasi Zionis menegaskan kembali komitmen mereka untuk mendirikan sebuah tanah air Yahudi di wilayah Palestina.

Baca juga: Kisah Yahudi-Belanda di Kamp Tahanan Jepang di Indonesia

Theodor Herzl sendiri sudah menghembuskan nafas pada tahun 1904 di usianya yang baru 44 tahun. Pria kelahiran Pest, Hungaria ini tak sempat melihat penolakan selanjutnya dari skema Uganda yang diajukannya, sekaligus melewatkan peristiwa kematian orang dekatnya, Max Nordau.

Sebenarnya ada banyak proposal yang diajukan untuk pendirian sebuah negara Yahudi pasca penghancuran Israel kuno. Selain di wilayah Afrika Timur, sebelum era bapak Zionis Theodor Herzl, Mordecai Manuel Noah pada tahun 1820 pernah mengusulkan wilayah Ararat yang kini masuk dalam bagian negara Turki untuk menjadi tanah air bangsa Yahudi, merujuk pada jurnal S. Joshua Kohn berjudul Mordecai Manuel Noah's Ararat Project and the Missionaries.

Sebuah wilayah di Uni Soviet juga pernah diajukan menjadi negara Yahudi, namun menguap seiring bubarnya Uni Soviet. Rencana Fugu untuk memindahkan Yahudi ke wilayah pendudukan Imperium Jepang juga pernah diusulkan. Madagaskar sempat diajukan di era Nazi Jerman sebagai tempat penampungan paksa orang Yahudi Eropa.

Pada September 1917, dokter Yahudi Rusia bernama M.L. Rothstein pernah mengusulkan sebelah timur Semenanjung Arab, tepatnya di Al-Hasa, menjadi tempat bangsa Yahudi bermukim. Sederet nama lainnya di berbagai belahan bumi pernah diajukan, namun tak pernah benar-benar terealisasi. Palestina dianggap masih ideal sebagai tanah air sesuai dengan cita-cita awal Organisasi Zionis.

Baca juga: Rezim Pengetahuan Zionis di Balik Pendirian Negara Israel

Melalui Deklarasi Balfour I yang berisikan surat Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour kepada Organisasi Zionis pada November 1917, untuk pertama kalinya Inggris merestui orang-orang Yahudi di Eropa untuk bermukim di wilayah Palestina. Secara resmi pemerintah Britania Raya mendukung rencana Zionis mendirikan tanah air di Palestina.

Inggris sendiri berani memberi jalan pulang bagi gerakan Zionis mengingat Perjanjian Sykes-Picot telah diteken oleh pemerintah Inggris, Perancis dan juga Kekaisaran Rusia pada 1916. Perjanjian ini membahas pembagian wilayah di Asia Barat termasuk juga nasib wilayah Palestina dan sekitarnya, mengingat keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani sudah di depan mata.

Baca juga artikel terkait YAHUDI atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight