Menuju konten utama

Pengertian Sosiologi Menurut Max Weber

Mengetahui pengertian Sosiologi menurut Max Weber, satu tokoh awal Sosiologi modern.

Pengertian Sosiologi Menurut Max Weber
Ilustrasi Sosiologi. foto/IStockphoto

tirto.id - Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tata hidup masyarakat luas. Interaksi sosial dalam masyarakat, juga sebab-musabab sebuah fenomena sosial terjadi, merupakan objek kajian sosiologi.

Max Weber, yang merupakan salah satu tokoh awal Sosiologi modern, menjelaskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha memahami tindakan sosial yang terjadi dalam masyarakat untuk mencari penjelasan bagaimana tindakan tersebut berjalan dan efeknya bagi masyarakat luas.

Sosiologi berkembang dan mulai terkenal pada abad-19. Tepatnya pada 1830-an, ilmuwan sosial berkebangsaan Prancis, Auguste Comte, menerbitkan buku berjudul Cours De Philosophie Positive.

Melalui buku tersebut, Auguste Comte memperkenalkan istilah sosiologi. Kata sosiologi berasal dari dua kata latin, yakni socios yang berarti masyarakat dan logos yang berarti ilmu.

Auguste Comte seringkali disebut sebagai bapak sosiologi karena memperkenalkan istilah sosiologi. Namun, ilmu sosiologi tidak hanya dibentuk dari pemikiran Comte sendiri.

Ada beberapa nama tokoh sosiologi pada awal perkembangannya yang ikut membentuk dasar ilmu sosiologi, misalnya Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber. Tokoh-tokoh sosiologi ini yang sering disebut sebagai peletak dasar ilmu sosiologi.

Max Weber dan Sosiologi

Maximilian Weber, atau dikenal dengan Max Weber, merupakan seorang tokoh perkembangan ilmu sosiologi. Pemikirannya tentang sosiologi ikut membentuk ilmu sosiologi menjadi seperti sekarang ini.

Dilahirkan di Erfrut Jerman pada 21 April 1864, Weber kemudian tumbuh menjadi salah-satu peletak dasar ilmu sosiologi. Salah satu pemikiran terkenal Weber adalah hubungan agama dengan tata kehidupan masyarakat.

Salah satu buku Weber yang fenomenal adalah Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (1905). Dalam buku tersebut Weber berpendapat bahwa etos kerja kaum protestan di Inggris berperan besar dalam perkembangan kapitalisme.

Argumen Weber tersebut disebut dipengaruhi oleh Ibunya yang seorang penganut Protestan Calvinis. Sifat khas kaum Calvinis adalah giat bekerja.

Bagi kaum Calvinis bekerja giat dan menyimpan hasil kerjanya (menimbun kekayaan) adalah bentuk ibadah.

Sifat tersebut yang menjadi dasar argumen Weber bahwa etos kerja Calvinis membuka jalan bagi sistem kapitalisme modern Eropa untuk berkembang.

Hal tersebut diperkuat dengan penemuan Weber bahwa banyak pemilik modal di Inggris adalah penganut Calvinis.

Agama dan perannya dalam pembentukan tata kehidupan masyarakat memang menjadi salah satu minat Weber.

Infografik SC Max Weber

Infografik SC Max Weber. tirto.id/Mzteg

Selain Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Weber juga menulis buku The Religion of China: Confucianism and Taoism (1951), Ancient Judaism (1952), dan The Religion of India: the Sociology of Hinduism and Buddhism (1958).

Akan tetapi hubungan agama dan masyarakat bukan satu-satunya sumbangan Weber dalam ilmu sosiologi. Dinukil dari Modul Pelatihan Guru: Mata Pelajaran Sosiologi SMA (2016) terbitan Kemendikbud, Weber memahami sosiologi sebagai ilmu yang menitikberatkan pada penjelasan sebab-akibat sebuah fenomena sosial dapat terjadi.

Hal tersebut membuat penelitian sosiologi yang dilakukan Weber erat dengan bidang ilmu sejarah.

Seperti argumennya dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, dalam buku tersebut Weber berusaha mencari sebab perubahan sosial masyarkat Eropa yang bergerak menuju kapitalisme.

Untuk mencari hubungan kaum Calvinis dan kapitalisme, ia meneliti sejarah perkembangan kaum Calvinis untuk mencari hubungan dengan perkembangan kapitalisme modern.

Bagi Weber, sosiologi betugas untuk mengisi ruang kosong dalam studi sejarah. Bila sejarah berusaha mencari penjelasan atas sebuah peristiwa penting dalam peradaban sebuah masyarkat, sosiologi bagi Weber mengisi ruang kosong berupa penjelasan hubungan peristiwa tersebut dengan perubahan sosial yang terjadi.

Kedekatan Weber dengan sejarah dipengaruhi oleh perkembangan filsafat Historisisme di Jerman.

Weber tentang Kelas dan Status Sosial

Sumbangan lain Max Weber dalam ilmu sosiologi adalah pendefinisian istilah kelas dan status sosial. Kelas dan status sosial tidak dapat dipisahkan dari sosiologi, dua hal tersebut menjadi salah satu objek penting penelitian sosiologi.

Kelas sosial dirumuskan Weber sebagai sekumpulan orang yang meiliki taraf ekonomi yang serupa. Orang-orang yang diklasifikasikan dalam sebuah kelas tidak terkait satu sama lain.

Sebuah kelas sosial, menurut Weber, dapat dilihat dari hal-hal seperti kekayaan, pendapatan, atau pekerjaan sekumpulan orang tersebut.

Sifat kelas sosial yang tidak terkait tersebut berbeda dengan sifat status sosial yang dijelaskan Weber sebagai sebuah komunitas orang yang memiliki dominasi di sebuah masyarakat. Orang-orang yang masuk dalam status sosial yang sama umumnya terkait satu sama lain.

Status sosial yang dimaksudkan Weber misalnya seperti bangsawan. Bangsawan memiliki dominasi dalam masyarakat dan mereka berkaitan satu sama lain.

Weber tentang Tindakan Sosial

Bagi Weber, objek utama sosiologi adalah tindakan sosial yang terjadi di masyarakat. Tindakan sosial merupakan semua tindakan manusia yang memiliki makna subyektif di baliknya.

Dilansir dari buku Glosari Teori Sosial (2011) yang ditulis M. Taufiq Rahman, Weber memberikan tiga karakteristik untuk menyebut sebuah tindakan dapat disebut tindakan sosial, yaitu:

1. Perilaku tersebut mempunyai makna subjektif.

2. Perilaku tersebut memengaruhi perilaku-perilaku orang lain.

3. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh perilaku-perilaku orang lain.

Orasi tentang kemerdekaan yang dilakukan Soekarno pada masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia dapat dijadikan contoh.

Soekarno punya maksud dan tujuan melakukan orasi, yaitu menghimpun massa. Orang yang mendengarkan orasi tersebut terpengaruh dengan tindakan Soekarno tersebut dan bergabung dengan gerakan kemerdekaan.

Dalam melakukan orasi, Soekarno mempunyai tokoh yang dijadikan inspirasi untuk melakukan hal tersebut.

Weber membagi tindakan sosial dalam empat jenis berbeda, yaitu:

- Tindakan rasional/tindakan instrumental

Tindakan rasional instrumental dijelaskan Weber sebagai setiap tindakan sosial yang tujuan dan cara mencapainya melalui pertimbangan yang rasional.

- Tindakan berorientasi nilai

Tindakan berorientasi nilai berkaitan dengan norma, etika, agama, dan nilai lain yang dianut sebuah masyarakat. Tindakan yang berorientasi nilai dilakukan tidak hanya melalui pertimbangan rasional. Misalnya, kaum Calvinis yang bekerja keras tidak hanya untuk mendapatkan uang tetapi juga untuk masuk surga.

- Tindakan tradisional

Tindakan tradisional dijelaskan Weber sebagai tindakan yang berakar dari tradisi sebuah masyarakat. Dalam melakukan tindakan tersebut, orang melakukannya karena sudah jadi kebiasaan dan tidak mempertimbangkan tujuan dan cara untuk mencapainya.

Contohnya adalah upacara keagamaan yang dilakukan karena sudah terbiasa melakukannya, cara untuk melakukan upacara juga sudah diatur dan tak perlu dipikirkan ulang.

- Tindakan Afektif

Tindakan Afektif didefinisikan Weber sebagai tindakan yang dilakukan sebagai reaksi terhadap emosi yang dirasakan seseorang. Tindakan ini bersifat refleks.

Misalnya adalah orang yang menangis setelah mengetahui cerita korban perang. Tangisan tersebut merupakan reaksi atas rasa simpati yang dimiliki seseorang.

Pembagian jenis tindakan sosial tersebut dilakukan Weber dengan menggunakan teori rasionalitas. Weber menguji apakah tindakan-tindakan yang dilakukan manusia selalu menggunakan dasar pertimbangan yang matang dan dilakukan dengan sadar (rasionalitas) atau tidak.

Menurut Weber, tindakan rasional intrumental dan tindakan berorientasi nilai menggunakan rasionalitas dalam melakukannya. Sedangkan tindakan tradisional dan afektif tidak menggunakan rasionalitas.

Baca juga artikel terkait SOSIOLOGI atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Yandri Daniel Damaledo