tirto.id - Sabtu (30/8/2025) malam, suasana beberapa titik di Kediri, baik kota maupun kabupaten, diliputi keresahan. Aksi demonstrasi damai yang digelar di depan Mapolres Kediri Kota pada sore harinya berujung ricuh. Dari sana, kericuhan lalu menjalar ke beberapa titik.
Malam itu, Gedung DPRD Kota Kediri ludes dibakar massa. Sisi Kabupaten pun tak kalah mengenaskan. Gedung Pemkab Kediri yang bersisian dengan DPRD Kabupaten Kediri rusak parah dibakar dan dijarah massa yang tak diketahui asal-usulnya. Gedung Samsat Katang di seberang kompleks Pemkab Kediri pun jadi sasaran.
Toko-toko dan warung di sekitar titik kericuhan tutup lebih awal malam itu. Lampu-lampu juga dipadamkan. Atmosfer Kediri di malam itu benar-benar diliputi keresahan yang pekat.
Namun, semua itu lindap esok harinya. Sedari Minggu (31/8/2025) pagi, baskara merekah begitu cerah. Cuaca yang mendukung benar untuk pergelaran Puhrubuh Culture Carnival.
Puhrubuh Culture Carnival adalah “dunia” yang sangat berlainan dibandingkan Kediri pada Sabtu malam sebelumnya. Di Desa Puhrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri ini, orang-orang berkerumun bukan untuk rusuh, tapi bersenang-senang. Tak ada keresahan dan amarah menguar di atmosfer siang itu. Hanya canda, kegembiraan, dan antusiasme.
Di Minggu siang itu, saya turut berkerumun bersama Samsul di pertigaan batas Desa Puhrubuh-Sidomulyo. Saya dan Samsul baru bertemu dan berkenalan di saat itu. Mumpung libur, Samsul menyempatkan diri datang ke Puhrubuh ini untuk menyaksikan karnaval sound horeg.
“Biasanya sama anak lelaki saya, tapi hari ini katanya dia mau main layangan saja,” tutur Samsul.
Saat saya datang, peserta karnaval nomor 8 baru saja melintas. Sementara itu, peserta nomor 9 belum kelihatan di ujung jalan. Kerumunan penonton yang semula berdiri mulai duduk dan saling mengobrol sembari menunggu peserta berikutnya.
“Jaraknya terlalu jauh ini,” komentar Samsul.
Dia mengaku cukup sering menonton karnaval sound horeg. Bila ada kesempatan di sela pekerjaanya sebagai kuli bangunan, Samsul biasa mendatangi acara karnaval atau cek sound di desa-desa selingkupan Kediri.
“Saya sudah pernah nonton sampai ke Malang. Tidak selalu juga, tapi kalau memang kepingin nonton, saya berangkat,” akunya.
Di antara kerumunan, Samsul sempat membuka-buka Facebook dan mendapati kabar-kabar baru terkait kerusuhan yang terjadi semalam.
“Peh... pasti bingung ini orang-orang yang mau perpanjangan STNK,” katanya seraya menunjukkan foto Samsat Katang yang terbakar pada saya.
Fokus Samsul pada layar ponsel buyar ketika suara musik jedag-jedug terdengar di kejauhan. Seperti di orkestrasi, Samsul dan orang-orang di sekelilingnya serempak berdiri dan melongok-longok ke arah sumber suara. Sebuah truk pengangkut sound system Abil Audio dari peserta nomor 9 perlahan mendekat.

Makin dekat truk Abil Audio, makin menggelegar pula suara musik yang masuk telinga. Selain suara yang dihasilkan speaker-nya benar-benar bikin kuping pekak, frekuensi bass kuat yang dipancarkan dari delapan subwoofer-nya juga bikin badan ikut bergetar. Beberapa bagian rumah di pinggir jalan yang dilaluinya juga demikian.
Sensasi bergetar itu makin kuat kala truk Abil Audio berada tepat di depan kerumunan kami. Jujur saja, saya merasakan semacam entakan tidak nyaman menjalar ke dada. Efek gelegar suaranya masih cukup tertahankan dari jarak tempat saya berdiri. Namun, sensasi entakan di dada itu berada di level lain.
Sebaliknya, wajah-wajah di sekeliling saya makin antusias. Banyak dari mereka mengangkat ponselnya, lantas mulai memotret atau merekam video. Sebagian mulai maju mengulurkan saweran untuk beberapa penari. Banyak orang bahkan kemudian ikut melarutkan diri menari bersama para peserta karnaval nomor 9 itu.
Beginilah Acara Sound Horeg
Pernah menempuh jarak puluhan kilometer untuk memburu karnaval sound horeg, Samsul jelas orang berpengalaman dan berpengetahuan soal sound horeg. Sebagai orang kota yang agak berjarak dengan subkultur sound horeg, saya pun melempar beberapa pertanyaan awam kepadanya.
Selain itu, saya sendiri mendatangi tiga acara karnaval sound horeg di Kabupaten Kediri, yakni di Kecamatan Plosoklaten, Ngadiluwih, dan Semen. Semuanya diadakan pada Agustus. Di Bulan Kemerdekaan ini, acara sound horeg bisa sangat padat. Dalam satu hari, setidaknya empat atau lima desa mengadakan acara sound horeg secara bersamaan.
Berdasar pengamatan, acara-acara sound horeg biasanya digelar untuk menyertai peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia atau hajatan tahunan desa. Semua itu dibungkus dengan label “cultural festival” atau “cultural carnival”.
Acara karnaval sebenarnya bukan hal baru di desa-desa. Sejak lama, karnaval agustusan atau bersih desa sudah jadi semacam kegiatan rutin tahunan. Warga desa umumnya sudah familier bahwa karnaval bakal diisi dengan parade kostum, kendaraan hias, baris-berbaris, tarian massal, hingga atraksi kesenian jaranan khas Kediri.
Barulah beberapa tahun belakangan ini karnaval-karnaval desa memasukkan sound horeg dengan tarian-tarian khasnya. Jadi, ia pada dasarnya adalah bentuk baru dari tradisi karnaval yang sudah lama eksis.
Lazimnya, acara sound horeg dilaksanakan dua hari. Hari pertama diisi dengan acara yang disebut cek sound. Teknisnya: vendor-vendor sound yang disewa warga menjajarkan soundnya di lapangan desa atau bisa juga di jalan-jalan desa. Operator sound lalu menyetel musik-musik yang akan mereka perdengarkan saat karnaval besok sembari melakukan beberapa penyesuaian untuk dapat setelah suara dan efek yang pas.
Di sinilah, biasa terjadi apa yang disebut masyarakat sebagai battle sound. Secara informal, para vendor sound akan beradu suara dan unjuk gigi siapa yang lebih unggul.
Lalu, berlanjut dengan karnaval di hari berikutnya. Di hari kedua itu, bukan hanya truk sound saja yang beraksi, tapi juga komunitas pemuda-pemudi tingkat RT atau RW sebagai penari (lazim disebut dancer).

Menurut Samsul, komunitas pemuda itulah yang bersama-sama menyewa sound untuk berpartisipasi dalam karnaval desa.
“Sound itu disewa, biasanya per RT. Nanti yang jadi dancer juga dari RT itu,” tutur warga Desa Mondo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, itu.
Samsul menyebut bahwa segala informasi terkait karnaval sound horeg di Kediri—bahkan juga Blitar, Malang, dan daerah lain—didapatnya dari Facebook. Bahkan, kata dia, jadwal acara karnaval di antero Kediri sudah tersedia hingga Oktober 2025.
Dia pun turut mengikuti grup komunitas karnaval wilayah Kediri agar tak ketinggalan informasi.
“Di Facebook itu, malah lengkap informasinya, mulai dari tempat, waktu, sampai susunan acara. Saya ikut grup Info Karnaval Kediri. Infonya lengkap semua dari sana,” ujar Samsul, Minggu (31/8/2025).
Bagi Samsul, waktu terbaik menyaksikan karnaval sound horeg adalah selepas magrib hingga acara usai. Pasalnya, sound-sound terbesar dengan gimik videotron dan lighting pasti ditempatkan di urutan tengah hingga akhir. Urutan itu biasanya baru jalan dari sore hingga malam.
Meski begitu, menurutnya, karnaval-karnaval sound di Kediri masih terhitung biasa saja. Dia menyebut Pemkab Kediri mengizinkan vendor sound hanya boleh memakai maksimal delapan subwoofer. Sementara itu, di daerah Jatim bagian timur—seperti Malang, Jember, dan Banyuwangi, tidak ada pembatasan semacam itu.
“Kalau mau nonton sound yang besar-besar, memang harus ke Malang. Di sana, acara karnaval bisa digelar seharian, bahkan sampai malam sekali. Pokoknya los kalau di Malang,” tutur Samsul.
Inisiatif Datang dari Muda-Mudi Desa
Beranjak ke sudut lain rute karnaval sound horeg Desa Puhrubuh, saya bertemu dengan Nanda. Dia datang dari Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo, tak jauh dari Puhrubuh. Mulanya, dia datang bersama adik dan beberapa kawannya. Namun, mereka berpencar mencari sendiri tempat paling asyik menikmati karnaval.
“Semalam, saya juga ke Desa Bangle nonton cek sound,” katanya.
Pemuda yang bekerja sebagai kuli bangunan di Blitar ini mengaku sudah tahu karnaval sound horeg di Puhrubuh sejak setahun sebelumnya. Menurutnya, informasi semacam itu memang gampang menyebar dari mulut ke mulut. Seperti Samsul, jika sedang tak ada pekerjaan, dia dan kawan-kawannya biasa mendatangi karnaval sound horeg untuk cari hiburan.
Kali ini, selain cari hiburan, Nanda mengaku sengaja ke Puhrubuh untuk mengamati pelaksanaan acara karnaval ini. Kata Nanda, itu semacam persiapan lantaran dirinya bakal ikut karnaval di desanya sendiri pada akhir September.
“Tanggal 28 September nanti, Mas. Sampai tutup jalan nanti, yang ikut 32 sound,” kata Nanda.
Nanda bercerita bahwa inisiatif mengadakan acara sound horeg datang dari pemuda desa. Di Sukoanyar, kelompok-kelompok pemuda di tingkat RT-RW mulai mengumpulkan dana secara swadaya sejak awal tahun ini untuk bisa berpartisipasi dalam karnaval sound horeg.
Nanda menyebut pemuda-pemuda di desanya memang sangat antusias pada karnaval sound horeg. Di hari-hari mendekati acara seperti sekarang, mereka rutin latihan menari setiap malam. Mereka pun berani mendatangkan vendor-vendor sound yang namanya sudah sangat misuwur di Jawa Timur, meski harus siap merogoh kocek sangat dalam.
“Anak-anak muda ini pokoknya urusannya soal perform, dekorasi, dan kreatifnyalah. Nanti perizinan yang urus RT dan pemerintah desa,” kata Nanda.
Dari pengakuan Nanda, ada kebanggaan tersendiri ketika berpartisipasi dalam karnaval dan bisa mendatangkan vendor sound besar. Gengsi antara komunitas pun bermain di sini. Mereka berebut menjadi yang paling bisa mendatangkan vendor besar dengan jumlah subwoofer banyak.
Komunitas-komunitas juga bisa ribut perkara urutan jalan. Setiap komunitas, kata Nanda, berebut tampil di nomor-nomor akhir agar bisa menampilkan kemegahan videotron dan lighting dari vendor sound yang disewanya.
Sehari sebelumnya, saya blusukan ke karnaval sound horeg di Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten. Di sana, dari salah seorang panitia karnaval, saya mendapat keterangan serupa dengan cerita Nanda.
“Yang paling ingin mengadakan karnaval sound horeg itu pemuda. Mereka sendiri yang merencanakan sewa sound dan perform-nya bagaimana dari beberapa bulan sebelum acara,” demikian ungkap Samiadi, anggota panitia karnaval Desa Wonorejo Trisulo, Sabtu (30/8/2025).
Menurut Samiadi, perangkat desa hanya bertindak sebagai fasilitator saja. Konsep acara karnaval sound horeg dan kepanitiaan seluruhnya datang dari inisiatif kelompok-kelompok pemuda. Seperti halnya di Sukoanyar, persoalan perizinan acara keramaian juga akan dibantu oleh pemerintah desa.
Selain kelompok muda-mudi desa dengan sound horegnya, karnaval Wonorejo Trisulo juga didukung elemen kesenian lain yang hidup di desa. Kata Samiadi, karnaval ini adalah wadah bebas untuk mengekspresikan seni-budaya dan semua orang boleh tampil.
Memang, sebelum truk-truk sound horeg tampil, komunitas kesenian jaranan khas Kediri berangkat lebih dulu. Disusul kemudian, kelompok kesenian bantengan dari Mojokerto.
“Bantengan itu tadi undangan individu. Kebetulan ada warga sini yang tergabung dalam komunitas seni bantengan, jadi dia berpartisipasi dengan mengundang komunitasnya dari Mojokerto,” kata Samiadi.
Dari sebuah pentas hiburan tahunan di desa-desa, sound horeg kiwari jadi perbincangan publik yang lebih luas. Bersamaan dengan itu, berbeda dari suara Nanda dan Samiadi, sebagian masyarakat menganggapnya sebagai bentuk gangguan.
Jadi, mengapa pemuda desa seperti Nanda juga Samsul dan warga Wonorejo Trisulo bisa menumbuhkan loyalitas pada sound horeg sekalipun sebagian masyarakat menganggapnya mengganggu?
Dalam amatan Dosen Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Arief Sudrajat, acara sound horeg kini telah jadibagian dari ritus sosial untuk berbagi kebahagiaan dan memperlihatkan eksistensi komunitas.Ia jugatelah jadi ajang ritual simbolik status sosial.
Gengsi komunitas yang terbangun seperti cerita Nanda menandakan bahwa karnaval sound horeg bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga untuk menunjukkan kemampuan ekonomi dan jaringan sosial. Dalam masyarakat komunal, kata Arief, memperlihatkan kemampuan merayakan sesuatu adalah bagian dari pengakuan sosial.
“Sound horeg bukan hanya soal musik, tetapi juga soal status, pengakuan, dan kehormatan sosial. Inilah yang menjelaskan mengapa orang tetap mengadakan sound horeg meskipun tahu akan menimbulkan protes,” tutur Arief melalui aplikasi perpesanan, dikutip Selasa (9/9/2025).
Menurut Arief, loyalitas seseorang atau komunitas pada sound horeg juga bisa dipahami dari perspektif emotional community—komunitas yang terbentuk bukan hanya karena tujuan rasional, tetapi karena keterikatan emosional terhadap pengalaman bersama.
Dentuman bass yang mengentak dada, musik remix yang familirr, gerakan massa yang sinkron, dan euforia malam hari yang tersaji dalam acara sound horeg adalah wujud pengalaman tubuh dan afeksi kolektif. Semua itu menciptakan keterikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika fungsional semata.
“Mereka yang datang [ke acara sound horeg] bukan hanya menonton, tetapi menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar,” kata Arief.

Aturan Perkara Sound Horeg
Di Wonorejo Trisulo, saya juga bertemu dengan Sukarti. Perempuan paruh baya itu bercerita bahwa anak-anak muda yang jadi panitia sangat sigap mempersiapkan karnaval pertama ini. Sejak beberapa hari sebelum hari H karnaval, Sukarti mengamati anak-anak muda itu menyisir jalan yang bakal jadi rute karnaval.
Mereka, sebut Sukarti, memotong ranting-ranting pohon yang terlalu rimbun hingga melebar ke rute karnaval. Setidaknya, hal itu untuk meminimalisasi hal-hal yang tak diinginkan saat truk sound horeg melintas.
“Kemarin siang, anak-anak muda itu juga keliling ke rumah-rumah warga membantu memplester kaca-kaca jendela,” kata Sukarti, Sabtu (30/8/2025).
Sukarti bersyukur masyarakat desanya kompak perihal kegiatan karnaval sound horeg tahun ini.
Sementara itu, Samiadi mengatakan bahwa ini adalah acara karnaval sound horeg pertama yang diadakan di Wonorejo Trisulo. Oleh karena itu, semua panitia sangat bersemangat menyukseskan karnaval kali ini.
Samiadi menekankan bahwa panitia berupaya keras menjaga karnaval ini kondusif. Menurutnya, panitia tidak akan menoleransi anak-anak muda yang mbalelo atau bikin onar.
“Kami sudah dapat izin dari Polres Kediri dan Koramil. Ancamannya, kalau sampai ada yang bikin insiden atau tawuran, kami sudahi karnaval ini,” tutur Samiadi.
Panitia karnaval desa Wonorejo Trisulo, menurut Samiadi, juga berupaya mematuhi aturan pelaksanaan karnaval sound horeg yang berlaku di Kabupaten Kediri.
Pemkab Kediri sendiri telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 300.1.1/2218/418.40/2025 untuk mengatur rambu-rambu pelaksanaan karnaval sound horeg. Seturut pemberitaanBerita Jatim, surat edaran itu berlaku mulai Jumat (25/7/2025). Penerbitannya dimaksudkan sebagai tanggapan atas meningkatnya keluhan publik terkait gangguan dari sound system berdaya tinggi.

SE tersebut memuat sejumlah rambu yang harus dipatuhi penyelenggara karnaval sound horeg dan peserta. Di antaranya rute karnaval hanya boleh di jalan desa dan tidak boleh melewati jalan protokol.
Rambu berikutnya, penggunaan subwoofer ditetapkan maksimal 4 box double speaker atau 6 box single speaker. Sementara itu, batas kebisingan tidak boleh melebihi 70 desibel A (dB A).
SE tersebut juga membatasi dimensi sound yang digunakan. Lebarnya tak boleh melebihi 3 meter, sementara tinggi maksimalnya ditetapkan 3,5 meter dari permukaan tanah dan tidak boleh melampaui ketinggian kabel listrik yang melintang.
Karnaval sound horeg juga wajib berhenti paling lambat pukul 22.00 WIB. Selain itu, jika terdengar adzan atau terdapat situasi kedukaan di sekitar lokasi, suara harus segera dimatikan.
“Ini sudah ada aturannya. Jadi, panitia mengikuti sebelum jam 22.00 malam peserta harus sudah finish. Bila sudah jamnya, tapi karnavalnya belum finish, tetap harus berhenti,” kata Samiadi.
Meski berupaya mematuhi aturan yang telah ada, tak dipungkiri masih tetap ada beberapa pelanggaran yang terjadi. Yang paling mudah diamati adalah pelanggaran batas kebisingan.
Dengan menggunakan aplikasi Decibel X, saya mencoba mengukur beberapa peserta sound horeg di tempat-tempat yang saya datangi.
Hasilnya, beberapa sound horeg menghasilkan kekerasan suara mencapai lebih dari 100 dB A. Suara sound horeg paling keras ketika musik dimainkan yang tercatat di Decibel X adalah 115,7 dB A, sementara yang paling rendah adalah 95,8 dB A.
Sementara itu, tidak ada petugas kepolisian, TNI, maupun panitia yang menegur peserta atau vendor sound yang melanggar itu.
Hal-hal seperti itulah yang agaknya turut melanggengkan stigma negatif terhadap sound horeg. Di satu sisi, kemunculan sound horeg dapat dipahami sebagai sarana hiburan murah dan dianggap sebagai wadah ekspresi budaya rakyat kecil di perdesaan. Namun, tak bisa dipungkiri pula bahwa ia juga membawa potensi gangguan yang meresahkan warga.
Menurut Dosen Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Arief Sudrajat, tegangan antara dua nilai budaya yang saling berlawan seperti itu harus dipahami dan dikelola secara adil.
Arief menjelaskan bahwa penolakan terhadap sound horeg muncul dari logika moral kelas menengah yang mendasarkan kenyamanan sebagai norma tertinggi. Oleh karena itu, suara keras dianggap tidak sopan, mengganggu, dan melanggar ketertiban.
Sementara itu, masyarakat kelas bawah di perdesaan yang aksesnya terhadap sarana hiburan terbatas umumnya tidak mengenal norma tersebut.
“Namun, bagi masyarakat bawah, moralitas ini kerap terasa asing. Dalam logika mereka, suara keras dalam konteks hajatan, pesta, atau syukuran adalah hal yang wajar dan sah,” ujarnya.
Hal itulah yang semestinya dijembatani agar tidak menjurus pada ketidakadilan representasional—yakni ketika kelompok tertentu terus-menerus direduksi menjadi pengganggu dan tidak punya ruang untuk menjelaskan perspektifnya.
Menurut Arief, pengaturan sound horeg harus memastikan keadilan representasi semua pihak, bukan hanya melayani suara yang lebih nyaring di ruang formal. Sound horeg sebaiknya diatur dengan kerangka keadilan budaya (cultural justice). Artinya, pengaturan harus mempertimbangkan hak masyarakat untuk berekspresi dan merayakan kebudayaan lokal sekaligus hak warga untuk beristirahat dan menikmati ketenangan di ruang hunian.
“Keduanya harus seimbang. Tidak bisa hanya salah satu. Dalam konsep ‘horeg justice’, suara tidak dimusnahkan, tetapi dikelola, dinegosiasikan, dan diatur dalam kerangka sosial yang adil,” kata Arief.

Kembali ke Puhrubuh. Kian sore, kian ramai pula kerumunan penonton karnaval sound horeg ini. Tanpa saya sadari, pertigaan Puhrubuh-Sidomulyo tempat saya dan Samsul berada jadi makin sesak. Orang-orang tak lagi menggelar tikar dan duduk, tapi berdiri.
Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 17.30 ketika truk sound peserta nomor 11 melintas. Sound yang diusungnya tampak lebih “megah” dari peserta-peserta sebelumnya. Tak sekadar berhias penjor, ia juga membawa sistem lighting untuk memeriahkan musiknya. Ia bergerak, berputar, berkelap-kelip mengikuti irama dan tempo musik yang diperdengarkan.
Lagi-lagi, para penonton melarutkan dirinya menari bersama. Lalu, sayup-sayup terdengar suara tarhim dari masjid yang jaraknya tak sampai 500 meter dari rute karnaval. Itu artinya sebentar lagi magrib tiba dan adzan berkumandang.
Mendadak sontak, musik yang sedari tadi berdentum berhenti. Orang-orang celingak-celinguk.
“Sudah hampir adzan magrib. Istirahat dulu!” demikian operator musik mengumumkan dengan mikrofon dari atas truk.
Semua orang pun mafhum dan kemudian membubarkan diri. Saya lantas menghampiri Samsul untuk berpamitan.
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































