tirto.id - Lirik lagu "Genjer-Genjer" yang menggambarkan kritik sosial kerap dianggap identik dengan Gerakan 30 September (G30S). Simak artikel ini untuk mengetahui sejarah lagu, arti lirik, dan maknanya.
Lagu "Genjer-Genjer" sendiri merupakan karya seorang seniman asal Banyuwangi yang bernama Muhammad Arif. Hasil karyanya lekat dengan kehidupan masyarakat di Banyuwangi pada 1942-an silam.
Kedekatan lagu dengan kondisi masyarakat menjadikan lantunan ini digunakan sebagai bahan politik dalam gerakan G30S. Citra lagu kritik ini berubah menjadi negatif pasca peristiwa tahun 1965 tersebut.
Sejarah Lagu Genjer-Genjer
Muhammad Arif menciptakan lagu "Genjer-Genjer" dan artinya untuk menggambarkan situasi ketika masa pendudukan Jepang. Saat itu, masyarakat Banyuwangi merasakan kesengsaraan secara sosial maupun ekonomi.
Ruddy Eppata Cahyono dalam skripsinya (2010, hlm. 4) menyebutkan bahwa Muhammad Arif memanfaatkan kolonialisasi sebagai inspirasi penciptaan lagu. Secara khusus, pencipta lagu menulis liriknya pada 1942 silam.
Pada 1962, Bing Slamet dan Lilis Suryani menyanyikan ulang lagu “Genjer-Genjer”. Lagu ini menjadi salah satu lagu populer pada zamannya, bahkan pernah menjadi lagu politik gerakan G30S.
Kisah kesengsaraan yang sudah populer pada masanya ini akhirnya mendapatkan cap sebagai lagu gerakan G30S. Sejarah pemberian citra negatif terhadap lirik lagu “Genjer-Genjer” terlihat pasca G30S.
Pada masa tersebut, ada beberapa media yang sengaja menulis berita mengenai lirik lagu dalam sebuah kertas. Nyatanya, lirik yang menjadi bacaan tidak sesuai dengan apa yang ditulis Muhammad Arif.
Pada masa Orde Baru, yakni Pemerintahan Soeharto, lirik lagu “Genjer-Genjer” semakin mendapatkan citra negatif. Pada 1984, Pusat Produksi Film Negara (PPFN) membuat film dokumenter G30S.
Di dalam sinema tersebut, lagu “Genjer-Genjer” muncul saat para anggota gerakan G30S melakukan tari Harum Bunga. Selain lagu, tarian yang ada di film mendapatkan pandangan negatif dan dianggap tidak senonoh.
Film ini merupakan hasil produksi Pemerintahan Soeharto. Oleh sebab itu, nyanyian yang hanya terdapat dalam film tidak dapat dipastikan identik atau tidaknya dengan G30S.
Kendati demikian, film G30S kerap menjadi bahan pemutaran saat masa pemerintahan Soeharto. Setiap tahun, masyarakat menerima sudut pandang pemerintahan Orde Baru dalam melihat lirik lagu “Genjer-Genjer”.
Lirik Lagu Genjer-Genjer
Lirik lagu "Genjer-Genjer" ciptaan Muhammad Arif menggunakan bahasa Jawa. Lagu yang menyampaikan kritik sosial ini diisi dengan berbagai kondisi masyarakat Banyuwangi pada 1942-an.
Berikut lirik lagu "Genjer-Genjer" dan artinya.
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
(Genjer-genjer di petak sawah berhamparan)
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
(Genjer-genjer di petak sawah berhamparan)
Emake thulik teko-teko mbubuti genjer
(Ibu si bocah datang mencabut genjer)
Emake thulik teko-teko mbubuti genjer
(Ibu si bocah datang mencabut genjer)
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih
(Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat)
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih
(Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang)
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
(Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar)
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
(Genjer-genjer isuk-isuk dijual ke pasar)
Dijejer-jejer duintingi padha didhasar
(Ditata berjajar diikat pada digelar)
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
(Ditata berjajar diikat pada digelar)
Emake jebeng padha tuku nggawa welasan
(Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa belasan)
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
(Genjer-genjer sekarang akan diolah)
Apa Makna dari Lagu Genjer-Genjer?
Genjer dalam lirik lagu "Genjer-Genjer" karya Muhammad Arif bisa menjadi salah satu kata kunci maknanya. Untuk mengetahui makna tersebut, perhatikan sebagian lirik lagu di bawah ini.
Emake jebeng padha tuku nggawa welasan
(Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa belasan)
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
(Genjer-genjer sekarang akan diolah)
Pada dasanya, genjer merupakan salah satu makanan hewan ternak. Berdasarkan lirik di atas, kondisi masyarakat Banyuwangi cukup kesulitan sehingga genjer menjadi makanan manusia.
Kondisi masyarakat yang tidak baik mengharuskan mereka mengonsumsi makanan yang sebenarnya bukan untuk mereka. Berbeda dengan pandangan bahwa lagu ini identik dengan G30S, nyatanya lirik lagu "Genjer-Genjer" memperlihatkan masyarakat Banyuwangi yang kesulitan makan.
Ingin membaca lebih banyak artikel tentang lirik lagu nasional, internasional, maupun daerah? Pastikan untuk terus mengikuti informasi terbaru seputar lirik lagu di sini.
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Yandri Daniel Damaledo
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id






































