Menuju konten utama

Konstelasi Bahasa dan Tatanan Global

Ketika masuk ke ruang-ruang tersebut, bahasa Inggris tentu menjadi lebih layak jual, atau kalau dalam bahasa Jawa, lebih "kemedhol".

Konstelasi Bahasa dan Tatanan Global
Header Perspektif Dr Aprinus Salam. tirto.id/Ecun

tirto.id - Pemakaian bahasa itu tergantung dan bergantung pada penggunanya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pengguna bahasa adalah warga, atau dalam skala yang lebih besar, masyarakat. Seorang pengguna bahasa memakai, memanfaatkan, dan memaknai bahasa, biasanya, dalam cara, maksud, dan kepentingan yang berbeda.

Sebelum masuk ke ruang bagaimana warga memakai, memanfaatkan, dan memaknai bahasa dalam cara, maksud, dan kepentingan yang berbeda, persoalannya adalah siapakah warga itu? Siapakah masyarakat itu?

Kita tahu, warga atau masyarakat diatur dan dikelola oleh negara. Negara memiliki wewenang untuk mengatur dan mengelola masyarakat, dan di dalamnya ada warga. Persoalan berikutnya, apa dan siapa negara Indonesia?

Negara Indonesia adalah salah satu negara dari ratusan negara di dunia. Negara Indonesia perlu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan berbagai negara kuat. Indonesia mengikuti aturan main tatanan global.

Apa dan siapakah tatanan global? Tatanan global adalah suatu tata konstruksional yang membangun dan menggiring karakter bagaimana dunia ini diselenggarakan. Kekuasaan apa yang menentukan tata konstruksional tersebut? Ada dua kuasa. Pertama, bersifat ideologis-rasional. Kedua, yang bersifat fisik dan empirik (termasuk soal ekonomi dan teknologi).

Kuasa ideologis-rasional adalah nilai-nilai sosial, politik, ekonomi, hukum, dan budaya yang menjadi landasan berpikir dan bersikap dalam membentuk konstruksi tatanan global. Kalau melihat perjalanan panjang dunia, hal yang kemudian menjadi dominan adalah kapitalisme dan modernisme. Bisa saja nanti ada yang menyebutnya sebagai poskapitalisme dan posmodernisme.

Warna dasar dari kapitalisme adalah berbagai upaya pencapaian dan konsolidasi ekonomi, dengan mengeksplorasi material bumi, tentu dimaksudkan untuk kemakmuran manusia. Walaupun dalam pelaksanaan eksplorasinya menjadi berlebihan dan tidak memakmurkan dunia.

Dalam perkembangan lebih lanjut, kapitalisme mendapat dukungan penting dari ilmu-teknologis yang secara keseluruhan didukung oleh pengetahuan modern. Negara kuat identik dengan pemilikan terhadap situasi dan kondisi tersebut.

Kalau bersifat fisik dan empirik maka negara-negara seperti Amerika, Rusia, dan sejumlah negara di Eropa secara relatif memegang kendali. Indonesia secara relatif tentu “harus menyesuaikan” diri dengan berbagai kekuatan kekuasaan tersebut. Secara ekonomi dan politik, Indonesia bukan negara yang tangguh.

Itulah sebabnya, Indonesia masih terus berpacu untuk mengembangkan dirinya dalam berbagai sektor kehidupan. Bahkan boleh dikata, Indonesia dan masyarakatnya berjalan beriringan dengan kapitalisme dan modernisme.

Kemudian, logikanya bisa dibalik. Kuasa konstruksi global tersebutlah yang membentuk dan menentukan karakter negara. Negara mengendalikan dan mengkonstruksi masyarakat atau warga. Dalam situasi tersebut, kita bisa tahu dalam konteks apa warga memakai, memanfaatkan, dan memaknai penggunaan bahasanya.

Dalam ruang masyarakat Indonesia, terdapat bahasa lokal (biasanya bahasa Ibu), bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia, dan bahasa asing (terutama bahasa Inggris, tetapi tidak tertutup termasuk bahasa China, Prancis, Jepang, Korea, Arab, dan sebagainya). Kalau untuk komunikasi-komunikasi resmi, posisi dan kedudukan bahasa Indonesia mendapat legitimasi dari negara.

Dalam konstruksi dan tatanan global “yang resmi”, kemampuan dan penggunaan bahasa Inggris, tentu menjadi penting. Kesepakatan internasional menyebabkan bahasa Inggris masuk ke ruang-ruang ilmu pengetahuan, sosial dan kultural, dan secara spesifik masuk ke ruang-ruang ekonomi. Ketika masuk ke ruang-ruang tersebut, bahasa Inggris tentu menjadi lebih layak jual, atau kalau dalam bahasa Jawa, lebih "kemedhol".

Masyarakat dan negara Indonesia tidak mau ketinggalan berpacu menyesuaikan diri dalam konstruksi tatanan global tersebut. Indonesia terlihat ingin tampil modern. Pelajaran, pendidikan, kursus-kursus bahasa Inggris, atau bahasa internasional lainnya diikuti dan dipelajari secara lebih masif. Bahasa Inggris, dan beberapa bahasa asing lainnya masuk ke ruang-ruang komersial. Dalam perkembangannya, bahasa Inggris menjadi simbol kemajuan, modernitas, dan gaya hidup.

Akan tetapi, perkembangan dan kesadaran sosial, budaya, ekonomi, dan politik daerah-daerah di Indonesia tidak sama, bahkan sebagian bertentangan. Masyarakat di daerah seperti mengalami pengkotak-kotakan di satu sisi, dan kelas di sisi yang lain. Terdapat kotak-kotak yang tidak terlalu bersentuhan dan berkepentingan dengan makna-makna internasionalitas. Dalam konteks ini, bahasa lokal, atau bahasa Ibu, tetap hidup sebagai praktik berbahasa sehari-hari.

Praktik berbahasa sehari-hari tersebut terutama dimaksudkan bahasa lokal yang hidup dan eksis di tengah masyarakat. Saya mengambil contoh masyarakat Yogya. Selain urusan resmi, bahasa Jawa masih hidup di berbagai pelosok Yogya. Walaupun saya belum bisa mengatakan secara spesifik, kecenderungan itu tampaknya terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Ruang-ruang yang relatif privat dan emosional, secara relatif masih memanfaatkan bahasa lokal sebagai media ekspresi. Komunitas-komunitas berbahasa lokal masih memperlihatkan aktivitasnya dan terus bekerja untuk masuk ke ruang-ruang yang lebih publik.

Namun, perlu diperhitungkan ketika konstruksi kelas, terutama kelas menengah, sebagai konsekuensi konstruksi tatanan global, terus membesar. Cukup banyak masyarakat kelas menengah tidak memberdayakan bahasa lokal sebagai media komunikasinya, tetapi justru memilih bahasa Indonesia, atau sebagian yang lain bahasa asing.

Pilihan terhadap bahasa Indonesia karena menguatnya identitas ke Indonesiaan dibanding identitas kelokalan. Sementara itu, pilihan terhadap bahasa Inggris tidak dimaksudkan sebagai strategi identitas, tetapi terutama karena harus beradaptasi dengan membesarkan ruang-ruang pengetahuan dan ekonomi finansial. Dalam konteks kelas menengah tersebut, bahasa lokal seperti kehilangan urgensinya.

Dalam praktiknya, perkembangan lokalitas tidak harus, terutama, dikaitnya dengan pemakaian dan pemanfaatan bahasa verbal. Kontestasi di ruang verbal, bahasa lokal memang mendapat persaingan yang beragam. Masyarakat Indonesia, dan dalam hal ini masyarakat lokalnya, secara perlahan mengalami kebangkitan dekolonial dan demodern, dengan menghidupkan dan mengaktualkan simbol-simbol dan semiotika lokal.

Simbol dan semiotika lokal tersebut terutama dapat dilihat dari hadirnya sesuatu yang lokal di ruang-ruang publik modern. Hal tersebut dapat dilihat dari hadirnya sesuatu yang bersifat tradisi, seperti pakaian, berbagai karya seni. Bahkan, berbagai lomba yang berbau lokal juga semakin marak. Di ruang publik, banyak informasi dalam tiga bahasa, yakni bahasa nasional, bahasa internasional, dan bahasa lokal.

Namun, hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan adalah kekuatan dan kuasa media sosial. Memang, mungkin sudah ada aplikasi media sosial yang berbahasa lokalnya masing-masing. Namun, untuk konteks Indonesia, komunikasi media sosial masih didominasi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Kekuatan dan kuasa media sosial ini tentu perlu diperhitungkan, dan ke depan akan terus membesar, sehingga pemanfaatan bahasa lokal semakin kehilangan urgensi dan kepentingan.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa bagaimana pun pemanfaatan dan penggunaan ragam, sifat, dan bentuk bahasa selalu dalam kontestasi yang terus berproses. Ada kuasa konstruksi global di satu sisi, tetapi ada pula muncul kesadaran-kesadaran untuk mempertahankan identitasnya masing-masing. Apakah strategi identitas itu berbasis nasionalitas atau lokalitas, hal itu bergantung kesadaran lokal masyarakatnya masing-masing.

Baca juga artikel terkait INDEPTH atau tulisan lainnya dari Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.

tirto.id - Decode
Penulis: Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.
Editor: Farida Susanty