tirto.id - Keanekaragaman di Tanah Air tidak hanya melingkupi persoalan sumber daya, tapi juga sosial, hingga kebudayaan. Dari Sabang sampai Merauke, ratusan bahasa daerah tersebar dan dituturkan oleh berbagai suku yang beragam.
Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kini terdapat 718 bahasa daerah yang ada di wilayah Indonesia. Jumlah bahasa daerah paling banyak ada di wilayah timur Indonesia. Sayang, tak semua bahasa daerah masih eksis, bahkan lestari.
Kajian vitalitas terhadap 87 bahasa daerah yang dilakukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) tahun 2024 mengungkap, sebanyak tiga bahasa mengalami kemunduran, 29 bahasa daerah terancam punah, delapan bahasa berstatus kritis, dan lima lainnya bahkan punah.
Punah berarti tidak ada lagi penuturnya, kritis artinya penuturnya hanya kelompok masyarakat berusia 40 tahun ke atas, dan terancam punah berarti mayoritas penutur berusia 20 tahun ke atas dan generasi tua tidak berbicara kepada anak-anak atau di antara mereka sendiri.
Dari puluhan bahasa daerah yang dikaji, hanya ada 18 bahasa daerah yang berstatus aman, alias masih digunakan oleh semua anak dan semua orang dalam etnik tersebut. Sementara 31 bahasa daerah lainnya masuk kategori rentan.
Ancaman keberagaman bahasa ini tak cuman terjadi di Indonesia. Secara global, The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), menaksir setidaknya 40 persen dari 7.000 bahasa, yang diperkirakan dituturkan di dunia, terancam punah. Hitungan kasarnya, setiap dua minggu rerata satu bahasa bahkan dilaporkan punah dan merenggut warisan budaya dan intelektual masyarakat.
Semakin muda, tampaknya penutur bahasa daerah memang semakin berkurang. Persentase pengguna bahasa daerah di kalangan generasi Pre Boomer, yang lahir tahun 1945 dan sebelumnya misalnya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 85,24 persen.
Sementara generasi Post Gen Z alias Gen Alfa, yang lahir tahun 2013 dan seterusnya hanya di level 61,7 persen. Proporsi itu mencakup mereka-mereka yang menggunakan bahasa daerah antartetangga atau kerabat. Tren yang sama juga dijumpai pada pengguna bahasa daerah di lingkungan keluarga.
Ketika persentase generasi Pre Boomer yang pakai bahasa daerah ketika berkomunikasi dengan keluarga mencapai 87,13 persen, proporsi Gen Z (lahir 1997 - 2012) hanya 72,21 persen dan Post Gen Z lebih tipis lagi, yakni sebesar 62,94 persen.
Peneliti Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad) Riki Nawawi berpendapat, semakin lunturnya penutur bahasa daerah dari generasi muda terjadi lantaran banyak orang tua terutama pasangan muda, guru/ustaz, dan teknokrat kurang paham akan peran penting bahasa daerah dalam bingkai keluarga, bangsa, dan agama.
“Keluarga kurang militan dalam mengenalkan bahasa dan budaya daerah, jumlah guru bahasa daerah pada lembaga pendidikan formal (sekolah/pesantren) sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Beberapa guru bahasa daerah ada yang kurang kreatif, malas membaca buku, dan tidak berbahasa daerah dalam aktivitas sehari-harinya,” ujar Riki saat berbincang dengan jurnalis Tirto, Kamis (30/10/2025).
Riki menambahkan dalam konteks budaya Sunda, figur Orang Sunda yang inspiratif dan berprestasi tidak banyak yang muncul dalam beberapa bidang strategis.
Kembali ke data BPS, jika dibedah secara wilayah, provinsi dengan penutur bahasa daerah di lingkungan keluarga terbanyak tercatat berada di Provinsi Jawa Tengah. Persentase penduduk di atas 2 tahun yang menggunakan bahasa daerah di provinsi tersebut mencapai 96,25 persen.
Sementara persentase paling rendah pengguna bahasa daerah di lingkungan keluarga tercatat di DKI Jakarta, dengan proporsi hanya 4,22 persen. Wilayah ini juga menjadi rekor provinsi dengan penutur bahasa daerah di lingkungan tetangga atau kerabat yang paling rendah.
Tidak Terbiasa Sejak Kecil Jadi Faktor Kunci
Data soal kerentanan bahasa daerah ini memang bukan hanya angka-angka tanpa realita. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), seorang penulis sekaligus pengajar bahasa, Ilda Karwayu, bercerita soal adanya pergeseran bahasa ibu, dari yang tadinya Bahasa Sasak, menjadi Bahasa Indonesia.
Menurut dia, di era tahun 1990-2000 awal, para orangtua masih menjadikan Bahasa Sasak, bahasa daerah Lombok, sebagai bahasa ibu bagi anak-anak mereka. Generasi muda ini lantas mengenal bahasa Indonesia di sekolah negeri lantaran para guru Berbahasa Indonesia di sekolah.
Kemudian, memasuki periode tahun 2010-an, Ilda mendapati bahasa ibu yang ditentukan ke anak-anak adalah Bahasa Indonesia. Sementara Bahasa Sasak cuma dituturkan para orangtua baru seperti generasi dia serta tetua-tetua.
“Berkaca dari fenomena di tempatku tinggal adalah, mengapa terjadi pergeseran dalam menentukan bahasa ibu itu? apakah jangan-jangan, sebagian keturunan ndak menganggap itu penting. Setiap komunitas atau suku tampaknya punya kadar ‘rasa memiliki’ yang berbeda-beda terhadap bahasanya,” katanya kepada Tirto, Rabu (29/10/2025).
Penggunaan bahasa ibu semacam itu tentu berpengaruh dalam kebiasaan berbahasa daerah. Dengan tak ada perkenalan tentang bahasa daerah saat kecil, seseorang jadi cenderung tak menjadikan bahasa tersebut sebagai bagian dari dirinya.
Hal itu yang setidaknya juga terekam dalam survei terbaru Tirto bersama Jakpat. Hasil jajak pendapat terhadap 1.250 responden usia 16 - 45 tahun ini menemukan, sebagian besar atau sebanyak 53,85 persen mengaku tidak tertarik atau tidak menggunakan bahasa daerah lantaran tidak terbiasa sejak kecil.
Di sisi lain juga ada anggapan bahwa bahasa Indonesia atau bahasa asing lebih praktis, ketimbang bahasa daerah. Selain faktor internal dan personal tersebut, faktor komunitas atau sekitar juga turut berpengaruh.
Sebanyak 28,85 persen responden umpamanya, mengatakan mereka tak pakai bahasa daerah karena bahasa itu sudah tidak lagi dibutuhkan dan orang sekitar tidak ada yang menggunakannya.
Lingkungan yang tak mendukung penggunaan bahasa daerah ditambah lagi dengan penggunanya yang diwarnai ketakutan dan rasa tidak percaya diri dalam menuturkannya.
Dari jajak pendapat Tirto, ditemukan ada sekitar 15,38 persen responden yang tidak menggunakan bahasa daerah karena merasa tidak percaya diri atau takut salah ucap. Di lain sisi, mereka mengaku malu atau takut dianggap kuno ketika bertutur bahasa daerah (3,85 persen).
Meski demikian, persentase yang sama sekali tidak menggunakan bahasa daerah dalam jajak pendapat Tirto ini hanya sedikit, yakni sebanyak 4,16 persen atau 52 orang. Sementara sebanyak 83,92 persen mengaku masih aktif menggunakan bahasa daerah asalnya, baik untuk berkomunikasi di lingkungan keluarga, komunitas, maupun tetangga.
Sisanya yakni responden yang mengaku hanya memakai bahasa daerah secara pasif atau hanya bisa menyimak, di mana jumlahnya mencapai 11,92 persen. Sebagian besar responden yang mengaku masih pakai bahasa daerah itu mayoritas mengatakan mereka ingin menyesuaikan lingkungan yang kebanyakan masih berbahasa daerah.
Tak hanya itu, masyarakat menggunakan bahasa daerah lantaran ingin melestarikan atau menghormati budaya lokal dan menghormati orang lain atau orang yang lebih tua. Sebanyak 46,58 persen responden bahkan mengaku lebih nyaman berkomunikasi ketika menggunakan bahasa daerah.
Selain pilihan yang sudah disediakan, ada segelintir responden memilih opsi “lainnya”, dan mengatakan bahwa mereka masih menggunakan bahasa daerah karena itu merupakan bahasa adat dan bahasa ibunya. Seorang responden lain berceletuk, dia masih bertutur bahasa daerah karena “cinta terhadap budayanya”.
Mereka yang masih memakai bahasa daerah mengungkap “rumah” sebagai tempat paling nyaman untuk bertutur bahasa daerah, di mana persentasenya menyentuh 87,73 persen. Akan tetapi, tempat umum dan media sosial juga tak sedikit dipilih oleh responden, masing-masing sebesar 41,90 persen dan 25,79 persen.
Ketertarikan Belajar Bahasa Daerah Tinggi?
Di tengah keragaman bahasa daerah yang terancam, berita baiknya, banyak masyarakat yang menyatakan ketertarikan mempelajari bahasa daerah, baik bahasa daerah asal maupun bahasa daerah lainnya.
Menurut survei Tirto, jumlah responden yang sangat tertarik, tertarik, maupun cukup tertarik memperdalam bahasa daerah mencapai 95,76 persen. Mereka yang tidak tertarik atau tidak tertarik sama sekali mempelajari bahasa daerah hanya di level 4,24 persen.
Riki dari Unpad mengatakan, solusi efektif melestarikan bahasa daerah di level komunitas salah satunya adalah mengoptimalisasi pemakaian bahasa daerah di keluarga.
Dari segi pihak yang berwajib, menurut Riki, melestarikan bahasa daerah bisa dilakukan dengan memaksimalkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Bahasa Daerah di sekolah dan konsisten menyelenggarakan lomba bahasa daerah dengan hadiah yang fantastis.
Selain itu, meningkatkan eksistensi bahasa daerah seperti quote atau puisi di media sosial dan ruang publik juga bisa jadi opsi. Hal tersebut bisa dilakukan di sekolah, tempat ibadah, kantor, komplek, stadion, stasiun, halte, bandara, kafe, jalan raya , puskesmas, hingga rumah sakit.
“Mendorong para influencer untuk aktif mengkampanyekan pentingnya berbahasa daerah. Mengadakan kursus bahasa daerah untuk umum baik daring maupun luring,” ujar Riki.
Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad misalnya, sebelumnya sempat meluncurkan aplikasi Sunda Digi sebagai layanan digital mengenai literatur sunda.
Riki menjelaskan, aplikasi itu dibuat untuk menyelamatkan, mengumpulkan, mendigitalisasi, mengembangkan, dan menyebarluaskan (warisan dokumenter) data kebudayaan Sunda kepada masyarakat, khususnya generasi muda Sunda sebagai ahli waris kebudayaan.
“Selain aplikasi SundaDigi, Pusat Budaya Sunda Unpad sedang mengembangkan aplikasi Lopian yang diharapkan bisa menjadi mesin pencari tentang budaya Sunda. Juga mendukung pengembangan aplikasi Gapura, sebuah aplikasi literasi budaya Nusantara yang dikelola oleh Yayasan Pusat Studi Sunda,” lanjut Riki.
Dia sendiri saat ini sedang mengumpulkan tulisan-tulisan sastrawan dan budayawan, Abdullah Mustappa, untuk diterbitkan menjadi beberapa buku pada bulan November mendatang. Langkah-langkah seperti ini bisa dilakukan untuk menjaga bahasa daerah tetap lestari.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id





































