tirto.id - Niat Presiden Prabowo Subianto untuk memasukkan Bahasa Portugis dalam kurikulum sekolah hingga pendidikan tinggi di Indonesia, nampaknya belum sejalan dengan minat masyarakat. Meski mayoritas masyarakat mengatakan tertarik belajar bahasa asing, hanya sekitar 5 persen yang mengatakan tertarik belajar Bahasa Portugis.
Hal itu tergambar dari survei yang Tirto lakukan bersama Jakpat, Selasa (28/10/2025). Dalam survei terhadap 1.250 orang responden itu, sebagian besar responden mengaku tertarik untuk mempelajari bahasa asing. Persentasenya bahkan menyentuh angka 96,48 persen. Artinya, responden yang merasa enggan belajar bahasa asing tak sampai 4 persen, dalam survei ini, hanya berjumlah 44 orang.
Berdasar survei ini juga minat terhadap bahasa asing juga tak pandang usia. Hampir di semua kelompok umur, minta belajar bahasa asing cenderung tinggi.
Namun ketika membahas apa bahasa yang ingin atau sedang dipelajari, Bahasa Portugis jauh kalah populer dibanding Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, Bahasa Arab, dan Bahasa Mandarin.
Bahasa Portugis, menurut Prabowo, menjadi penting dalam rangka menjaga hubungan bilateral Indonesia dengan Brasil. Keputusan menjadikan Bahasa Portugis sebagai prioritas disiplin pendidikan bahasa di Indonesia dia sampaikan kala menerima kunjungan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025).
Sementara bagi kebanyakan masyarakat, Bahasa Jerman, Bahasa Rusia, Bahasa Prancis, Bahasa Spanyol lebih menarik perhatian.
Menyoal alasan ingin belajar bahasa asing, jawaban populer yang muncul dipilih responden yakni agar bisa berkomunikasi dengan orang asli negara yang bersangkutan. Selain itu, para responden juga ingin menjadikan pembelajaran ini sebagai persiapan memasuki dunia kerja, atau bahkan sesederhana gemar dengan budaya atau hiburan dari negara penutur bahasa tersebut.
Terkait pemanfaatan bahasa asing untuk bisa berkomunikasi dengan orang asing dan untuk persiapan studi ke luar negeri juga disampaikan oleh Fanya (22). Mahasiswa tingkat akhir Teknik Lingkungan, Universitas Indonesia (UI). Dia mengatakan sedang memperispkan belajar Bahasa Jerman untuk mengejar mimpi S2 di Jerman yang tak asing dijuluki sebagai ‘Engine of Europe’.
“Aku kan kuliah sering ngobrol sama dosen, sama senior-senior, dan ada salah satu dosen aku yang kebetulan dia ngambil program Master sama Doktornya di Jerman. Nah, beliau cerita bahwa di sana itu bagus untuk jurusan aku, teknik lingkungan itu bagus banget untuk pengolahan airnya,” tutur Fanya mengisahkan keinginannya kepada Tirto, Selasa (28/10/2025).
Lebih dari kebutuhan bersekolah, Fanya merasa, belajar Bahasa Jerman nantinya juga bisa memudahkan dia berkomunikasi dan mengisi celah pengetahuan. Ia berkaca pada pengalamannya menjalani kerja praktik di sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Fanya mengaku, ia menjumpai kesulitan para pekerja di PLTU tersebut dalam memahami buku panduan alat manufaktur yang berasal dari Jerman. “Memang kebanyakan alat, kayak untuk penyaring udara, terus untuk yang pengolahan air juga biasanya dari Jerman. Jadi mereka kesulitan banget sama Bahasa Jerman,” ceritanya.
Itu mengapa bagi Fanya, belajar bahasa asing adalah sesuatu hal yang penting. Dalam konteks dunia kerja misalnya, ia mengatakan bahwa bahasa merupakan poin krusial pertama. Belum lagi jika suatu perusahaan tempat bekerja nanti bakal punya kerja sama dengan negara lain.
Hal yang sama turut dirasakan Kayla (21). Sebagai mahasiswa tingkat akhir Teknik Elektro, ia memandang penguasaan bahasa asing sebagai kebutuhan untuk berkembang. Hal itu dianggap bisa jadi modal untuk mengeksplorasi dunia kerja dan dunia pendidikan secara global.
Berbeda dengan Fanya yang sedang menekuni Bahasa Jerman, Kayla saat ini tengah rutin mengikuti kursus Bahasa Mandarin. Setelah sempat menjajal les Bahasa Mandarin selama satu tahun saat TK, Kayla mulai kembali intens belajar Bahasa Mandarin sejak Juli tahun lalu.
Awalnya, Kayla berniat ikut melamar acara kunjungan kampus ke perusahaan Tiongkok, Huawei. Dia ingin menambah "nilai jual" agar bisa lolos, di tengah meriahnya antusiasme kawan-kawannya untuk bergabung.
Selain demi kebutuhan kunjungan perusahaan, Kayla bilang, sejumlah industri di bidang yang ia geluti pun tumbuh subur di negara-negara penutur Bahasa Mandarin.
“Karena aku rasa di bidang aku ini, Electrical Engineering maupun Biomedical Engineering itu, industrinya cukup besar di negara-negara yang Berbahasa Mandarin. Sehingga aku kayak, 'oh kayaknya bisa dicoba juga nih.' Kalau misalkan gak apply untuk Huawei pun, aku bisa apply misal untuk S2 atau kerja di tempat lain. Karena sejujurnya aku emang tertarik banget untuk belajar bahasa asing yang baru. Gak tau kenapa itu kayak seru gitu bagi aku,” kata Kayla, ketika dihubungi jurnalis Tirto, Selasa (28/10/2025).
Di samping belajar bahasa asing secara formal, ia juga pernah belajar Bahasa Arab dan Korea secara mandiri lewat aplikasi belajar bahasa dan media hiburan seperti K-drama. Ke depan, Kayla cerita kalau ia tertarik belajar Bahasa Jepang, Jerman, dan Prancis.
Kebutuhan akan pendidikan bahasa asing juga mulai menjadi perhatian orang tua. Bahasa asing dirasa bisa menjadi fondasi yang penting bagi masa depan anak. Hal ini setidaknya diutarakan Almas (27).
Saat anak pertamanya masih bayi, Almas bilang, dia mulai membacakan buku-buku Berbahasa Inggris. Almas merasa otak anak-anak, khususnya sebelum berusia 5 tahun, lebih cepat menyerap apa yang diajarkan. Karena anak pertamanya kini sudah menjalani pra-PAUD, belajar Bahasa Inggris pun dilakukan lewat aktivitas sekolah dan tontonan YouTube Kids.
“Zaman sekarang kayak-nya penting banget ya ngajarin dari kecil, biar gak ketinggalan zaman kasarnya. Ada banget rencana ngikutin kursus Bahasa Inggris dari umur 3 atau 4 tahunan. Andaikan di sini ada sekolah kurikulum internasional, kayaknya akan kusekolahin di situ deh,” kata Almas yang kini berdomisili di Lamongan, Jawa Timur.
Paparan Hiburan Asing, Pintu Masuk Keinginan Belajar Bahasa
Melihat temuan ini, penulis sekaligus pengajar bahasa di Nusa Tenggara Barat (NTB) Ilda Karwayu, memandang bahwa ketertarikan mempelajari bahasa asing memang wajar adanya. Di tengah posisi bahasa asing yang masuk seiring berkembangnya internet, sekat kita terhadap bahasa jadi semakin tipis.
“Kita pelan-pelan tahu kalo kerja di luar negeri bisa dibayar pake mata uang asing, yang di mana rata-rata nilai tukarnya ke rupiah itu menggiurkan. Pun, akses pendidikan, berbagai teori atau pengetahuan babon ditulis, atau diterjemahkan secara luas, dalam bahasa asing –terutama Inggris sebagai lingua franca. Inilah yang kemudian menajamkan motivasi orang untuk belajar bahasa asing. Demi mencapai itu, mereka mesti cakap berkomunikasi, lisan-tulisan, kan?,” tutur Ilda kepada Tirto, Rabu (29/10/2025).
Hal itu sejalan dengan kebudayaan dan hiburan yang juga semakin populer sebagai efek dari internet. Menurut Ilda, dengan semakin rampingnya sekat antara masyarakat dan informasi, maka semakin mudah pula bagi mereka untuk menekuninya, termasuk mempelajari bahasa asing.
Apalagi, dunia hiburan kini juga bisa menjadi medium publik, baik untuk mempraktikkan bahasa asing, dan juga terpapar bahasa asing. Jajak pendapat Tirto juga sejalan, sebanyak 82,75 persen responden menyatakan mereka menggunakan dan terpapar bahasa asing saat menonton film, mendengar dan menyanyikan lagu, dan berselancar di media sosial. Ini menunjukkan media hiburan sebagai pintu gerbang masuk mempelajari bahasa asing yang efektif.
Lunturnya sekat untuk masuknya bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari juga tergambar dari temuan lain survei Tirto bersama Jakpat. Mayoritas responden mengaku penggunaan bahasa asing setidaknya sekali sebulan sebagai hal yang lumrah. Mereka antara membaca, atau berkomunikasi di sekolah ataupun dalam pekerjaan, mengaplikasikan bahasa asing.
Hanya sebagian kecil, sekitar tiga persen, responden yang mengaku tak menggunakan bahasa asing sama sekali dalam kesehariannya.
Kebanggan terhadap Bahasa Asing Tak Lampaui Bahasa Nasional?
Seiring dengan tingginya antusiasme terhadap bahasa asing, kebanggaan terhadap bahasa ini sepertinya tak melampaui penggunaan bahasa nasional dan bahasa daerah.
Menurut survei Tirto bersama Jakpat, sebagian besar responden atau sebanyak 59,70 persen mengatakan mereka merasa tidak lebih bangga ketika bertutur dalam bahasa asing, ketimbang Bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
Akan tetapi, jika diamati lebih detail, persentase responden yang merasa bangga tak terpaut jauh, yakni berkisar 40 persen. Ilda berpendapat, perasaan bangga yang muncul di kalangan masyarakat kemungkinan dipengaruhi oleh lingkaran pergaulan.
Sebagai guru bahasa, Ilda bilang bahwa ia sering dapat curhatan dari para murid yang malu praktik bicara bahasa asing karena dicemooh teman, yang pada akhirnya seperti perundungan verbal. Dari situlah Ilda menyadari respons sirkel sekitar bisa jadi salah satu faktor seberapa individu merasa nyaman bertutur dalam bahasa asing.
“Lanjut ke soal bangga atau tidak bangga, pertanyaan reflektifnya, 'kenapa mesti bangga, ya?' Apakah karena bisa cas-cis-cus atau karena bisa mengasup lebih banyak pengetahuan dari bahasa tersebut?” kata Ilda.
Dia menjelaskan kalau bahasa adalah medium. Oleh karenanya, mampu berbahasa berarti mampu mengonsumsi konten, artinya pengetahuan, kultur, atau hiburan, yang disajikan dengan bahasa tersebut. Jadi fokus utamanya adalah konten, bukan bahasa.
Ilda meyakini, sejatinya masyarakat Indonesia pasti mampu berbicara lebih dari satu bahasa, meski hanya menjadi penutur pasif. Jika bahasa ibunya adalah Bahasa Indonesia, barangkali ia mampu memahami satu bahasa daerah atau bahkan menuturkannya, begitu juga sebaliknya
Laporan Swiftkey mendukung pernyataan itu. Menurut riset mereka, Indonesia dinobatkan sebagai peringkat 3 negara dengan pengguna dwibahasa (bilingual) terbanyak. Temuan itu didasarkan pada analisis bahasa yang digunakan secara global di aplikasi Keyboard Swiftkey.
Menurut SwiftKey, posisi Indonesia sendiri melampaui Arab Saudi dan Swedia. Persentase Indonesia yang mencapai 57,3 persen berada tepat di belakang Mesir (68 persen) dan satu tingkat di bawah Israel (74,7 persen).
Negara Merah Putih kita ini, bahkan mencatatkan rekor sebagai negara penutur tiga bahasa (trilingual) terbanyak. Proporsi pengguna tiga bahasa di Indonesia menyentuh level 17,4 persen.
Adapun kombinasi bahasa yang paling sering dipakai warga Indonesia adalah campuran bahasa asing, bahasa nasional, dan bahasa daerah. Dalam konteks Indonesia yang paling umum: Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Jawa. SwiftKey melaporkan, sebanyak 27,5 persen populasi dunia berbicara 3 bahasa atau lebih.
Pakar Linguistik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Muhammad Rohmadi menjelaskan, ada banyak faktor yang menjadikan masyarakat Indonesia menjadi penutur trilingual atau multibahasa. Pertemuan antara budaya dan perkembangan teknologi dianggap menjadi pertimbangan paling dominan yang menyebabkan fenomena ini.
“Fenomena trilingual terjadi karena pertemuan budaya dari berbagai daerah dan perkembangan teknologi. Dengan perkembangan teknologi, kita bisa memasuki semua lini. Bahkan ketika kita tidak menguasai bahasa tersebut, kita bisa mencarinya di Google,” ujar Dosen Sosiopragmatik Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UNS tersebut, dikutip dari situs resmi UNS.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id





































