Menuju konten utama

Kisah TPST-3R Seminyak di Bali: Mengubah Sampah Menjadi Uang

Dari TPST-3R yang dikelola Ruditha, Desa Adat Seminyak bisa meraup Rp3 miliar dalam setahun untuk pengolahan sampah.

Kisah TPST-3R Seminyak di Bali: Mengubah Sampah Menjadi Uang
Proses mengolah botol plastik di TPST-3R Seminyak, Jumat (05/12/2025). Tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menjelang akhir Desember 2025, penutupan permanen Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Suwung di Denpasar sudah di depan mata. Diketahui, operasional TPA Suwung dihentikan sebagai tindak lanjut dari Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 921 Tahun 2025 tentang Penerapan Sanksi Administratif berupa Paksaan Pemerintah Penghentian Pengelolaan Sampah Sistem Pembuangan Terbuka pada TPA Sampah Regional Sarbagita Suwung.

Penutupan TPA Suwung mengakibatkan tanggung jawab untuk mengelola sampah beralih ke sumber, serta Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse Recycle (TPST-3R) menjadi perlu dioptimalkan. Sayangnya, menurut data Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, sebanyak 200 dari TPST-3R di Bali tidak berfungsi optimal dengan 3 di antaranya berada di Denpasar. Namun, tidak sedikit pula TPST-3R di Pulau Dewata yang mampu bergerak mengolah sampah di daerahnya.

Jauh di jantung Kabupaten Badung, tepatnya di Desa Adat Seminyak, terdapat sebuah TPST-3R yang sudah beroperasi selama berdekade lamanya. Tempat pengolahan sampah tersebut berdiri di lahan seluas 1.270 meter persegi dan kian eksis semenjak memainkan peran penting dari program Bali Beach Up yang diinisiasi oleh Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia).

Sebelum adanya TPST-3R pada 2003, kondisi miris tampak pada Desa Adat Seminyak. Pada bentangan pantai sepanjang 970 meter, terdapat banyak bangunan liar dan warung yang tidak tertata rapi, sampah-sampah yang dibuang liar, serta diperparah dengan akses menuju pantai yang sempit. Kondisi tersebut jelas berdampak negatif bagi citra Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.

“Awalnya saya ajak, saya satukan pedagang-pedagang. Pedagang itu terlalu banyak pada waktu itu. Kami dibantu juga oleh pemerintah untuk mengadakan penataan pasir, penghijauan, bertahap. Kami ingin menjaga kebersihan bersama-sama. Pada 2007, kami sudah dibantu semuanya,” terang I Komang Ruditha Hartawan (58), Ketua TPST-3R Desa Adat Seminyak, Jumat (5/12/2025).

Pada 2007 itulah TPST-3R Desa Adat Seminyak ikut serta dalam program Bali Beach Up untuk melakukan bersih-bersih di lima pantai sepanjang 9,7 kilometer, yakni Pantai Kuta, Pantai Seminyak, Pantai Legian, Pantai Kedonganan, dan Pantai Jimbaran. Selanjutnya, pada 2008, pantai-pantai tersebut mulai dijaga kebersihannya secara rutin. Bukan hanya dengan pengangkutan botol Polyethylene Terephthalate (PET), tetapi dengan adanya learning center mengenai pengelolaan sampah.

Ruditha juga bercerita, sebelum adanya TPST-3R, masyarakat sempat mengalami kebingungan untuk menentukan tempat pembuangan akhir sampah-sampah yang menumpuk di pantai. Sementara itu, pihak pengangkut sampah dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) tidak melalui jalur-jalur kecil. Oleh sebab itu, pihak Desa Adat Seminyak berinisiatif membuat jasa sampah.

“Ini upaya kemajuan, kami belajar. Namun, situasi pengolahan sampah saat ini, dari segi kapasitas, kita sudah overcapacity. Kalau saya bicara jujur, 12 truk cukup untuk menjangkau Seminyak, tetapi banyak permintaan di luar Seminyak. Kami sudah melayani sekarang sampai di Banjar Segara, Legian, dan Kerobokan Selatan. Jujur, sudah mulai kami bisa tangani,” jelas Ruditha.

TPST-3R Seminyak

I Komang Ruditha Hartawan (58), Ketua TPST-3R Desa Adat Seminyak, Jumat (05/11/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Banyaknya permintaan di luar Seminyak tersebut, ungkap Ruditha, disebabkan karena banyaknya industri pariwisata yang ada di Bali, terutama yang terletak di bagian selatan. Sebagai pengelola, Ruditha harus memutar otak untuk menjamin keberlangsungan tempat pengolahan sampah tersebut di tengah tingginya angka sampah di kawasan pariwisata. Salah satunya adalah dengan memberdayakan masyarakat lokal dan ibu-ibu rumah tangga.

“Sekarang (tenaga kerja), khususnya untuk di pengangkutan itu ada 56. Di pengupasan ada ibu-ibu yang menjadi freelance. Ada yang suaminya kerja di TPST-3R, sementara ibu-ibunya kerja di pengupasan. Mereka selesai masak, antar anaknya masuk sekolah, langsung kerja di sini,” ucapnya.

Selain ibu-ibu rumah tangga, TPST-3R Seminyak mengajak pula organisasi pemuda desa setempat, yakni Karang Taruna Desa, serta pihak ketiga yang peduli terhadap lingkungan. Keberadaan tenaga eksternal tersebut, menurut Ruditha, membantu kinerja TPST-3R Seminyak yang harus memilah dan menyortir sampah yang masuk ke tempat tersebut.

“Saya lebih senang karena sampah yang dikumpulkan akan lebih sedikit. Apalagi ada program bank sampah dari Pemerintah Daerah Badung. Mungkin sebagian dari sampah hasil pilahan tersebut mereka bawa ke program, seperti Recycle Me dari Coca Cola,” tuturnya.

Untuk saat ini, dari hasil pengolahan sampah di TPST-3R Seminyak, setiap harinya akan menghasilkan 6 hingga 7 truk untuk sampah residu yang harus dibuang ke TPA. Sampah residu tersebut terdiri atas pampers, tisu, serta jenis sampah lainnya yang tidak bisa diolah oleh TPST-3R Seminyak.

Meskipun demikian, pihaknya menilai incinerator belum begitu penting untuk sampah-sampah yang ada di daerah tersebut. Ruditha mengungkap, pihak TPST-3R Seminyak masih ingin mengutamakan pemilahan sampah yang datang agar residu yang dikirim ke TPA berkurang.

“Di kondisi sampah basah, susah. Apalagi musim sekarang ini, sampah hampir semua rata basah. Saya pernah juga berkomunikasi dengan pihak penyediaan incinerator. Sampah basah tentu perlu dikeringkan dan untuk dikeringkan, kami memerlukan lahan,” bebernya.

Mengangkut Sampah dari Hotel dan Restoran

Berdiri di tengah daerah pariwisata, TPST-3R Seminyak melayani 1.865 pelanggan dengan 700 pelanggan di antaranya berasal dari akomodasi pariwisata. Oleh sebab itu, mereka menjalin kerja sama dengan pihak akomodasi pariwisata yang memerlukan kompos. Ruditha mengatakan, TPST-3R Seminyak akan mengambil sampah organik, lalu mengembalikannya kembali ke akomodasi pariwisata setelah diolah menjadi kompos.

“Kami ada organik basah dan organik kering. Organik basah di sini malah kekurangan karena ada kelompok-kelompok ternak yang banyak ingin menampung, saya berikan gratis. Kelompok ternak itu, terutama yang di sekitar TPA Suwung, mereka yang terbanyak,” kata Ruditha.

Ruditha melihat fenomena sampah di kawasan tersebut berimbang dengan angka wisatawan yang masuk ke Bali. Saat musim penghujan, TPST-3R akan mendapatkan banyak kiriman sampah pepohonan yang berasal dari pemangkasan di akomodasi pariwisata. Namun, ketika high season (tingkat hunian akomodasi pariwisata yang tinggi), mereka akan mendapatkan kiriman sampah anorganik yang lebih tinggi.

“Karakteristik sampah di daerah pariwisata itu berbeda, tergantung dari tingkat hunian. Semakin tinggi tingkat hunian, sampah semakin besar. Apalagi di Desember, kerja ekstra,” ungkapnya.

Pada Desember tersebut, peningkatan sampah yang masuk ke TPST-3R Seminyak adalah 30 persen, khususnya sampah plastik. Namun, Ruditha mengakui, persentase peningkatan sampah yang masuk ke tempat pengolahannya tersebut akan mengikuti tren wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Lebih lanjut, Ruditha membandingkan kunjungan wisatawan di Desa Adat Seminyak sebelum dan setelah pandemi. Peningkatan kunjungan wisatawan di desa adat tersebut mencapai lebih dari 25 persen. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan konstan volume sampah yang masuk ke TPST-3R Seminyak.

“Kalau di rumah tangga, hari raya dia naik. Namun, persentase peningkatannya enggak begitu tajam. Mungkin 10 persen peningkatan saat hari raya,” kata dia.

TPST-3R Seminyak

I Komang Ruditha Hartawan (58), Ketua TPST-3R Desa Adat Seminyak, Jumat (05/11/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Meraup Untung dari Sampah

Seiring dengan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mengelola sampah, rupanya tren bisnis yang berhubungan dengan sampah juga meningkat pesat. Dari TPST-3R yang dikelola oleh Ruditha, Desa Adat Seminyak mampu meraup Rp3 miliar dalam satu tahun untuk pengolahan sampah-sampah. Setiap harinya, TPST-3R ini akan mengolah 179 meter kubik sampah.

“Pada keuntungan, pada dasarnya tetap untung kecil. Namun, kami tidak melihat itu karena tidak dituntut oleh Desa Adat untuk mencari untung. Kami lebih berorientasi kepada lingkungan. Buktinya saya bisa membeli mobil. Sebagian pengadaan mandiri, sebagian dibantu oleh pemda, dan sebagian dibantu oleh pihak ketiga,” ungkap Ruditha.

Untuk sampah anorganik, TPST-3R Seminyak mempunyai 31 item untuk dipilah. Ruditha mengungkap, sampah hasil pemilahan akan memiliki daya jual lebih tinggi daripada sampah yang tercampur. Misalnya, botol plastik memiliki harga jual Rp15.000 per 12 botol. Namun, harga tersebut bervariasi sesuai dengan warna botol, keberadaan tutup botol, dan adanya label pada botol.

Keberadaan tutup botol dan label tersebut berpengaruh kepada pengolahan botol plastik kembali menjadi bijih di pabrik. Sebagai contoh, untuk botol plastik berukuran 100 gram, bijih yang dihasilkan bisa memiliki berat kurang lebih 85 gram. Hal tersebut disebabkan karena terdapat penyusutan komponen pada plastik selama proses perubahan.

“Sekali kirim, minimal 10 ton dan tidak boleh kurang. Masing-masing ikat memiliki berat 200 kilogram untuk plastik PET. Kalau untuk kardus dan yang lainnya juga masih sekitar sini, harus ada minimal. Syukur, mungkin bulan ini menjadi bulan pertama kami bisa mengirim dua kali,” ucapnya.

Selain botol plastik, kaleng aluminium juga menjadi salah satu barang yang dikirimkan dari TPST-3R Seminyak ke pabrik pengolahan. Perbedaannya adalah, tempat pengelolaan sampah di Bali harus mengirimkan kaleng tersebut dalam keadaan utuh, tanpa dilakukan pressing terhadap kaleng.

“Menjual sampah mirip dengan money changer, terdapat rate-nya. Hari ini rate-nya sekian, minggu depan bisa rate-nya sekian. Sampah-sampah yang telah terkumpul ini akan dikirimkan ke berbagai tempat. Kalau botol plastik, ke Bekasi. Kalau kardus, ada di Situbondo. Besi dan kaleng, ada di Surabaya,” jelas Ruditha.

Keuntungan dari hasil menjual sampah-sampah yang telah dipilah di TPST-3R Seminyak, ungkap Ruditha, akan digunakan untuk gaji karyawan yang bekerja, bahan bakar minyak untuk truk pengangkut sampah, serta biaya pemeliharaan dari TPST-3R Seminyak agar tetap dapat beroperasi secara maksimal.

“Bali bertahan karena pariwisatanya, karena budayanya. Jadi, sekarang ini bagaimana kita menjadikan dan memperlakukan sampah dengan baik itu sebuah budaya, agar Bali bisa bertahan,” kata dia.

Baca juga artikel terkait SAMPAH atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Abdul Aziz