Menuju konten utama

Sampah Digital Diam-Diam Membebani Pikiran dan Bumi Kita

Menyimpan 1 GB data di cloud menghasilkan sekitar 0,04 kg CO2 per tahun atau 40 gram CO2/GB dalam setahun.

Sampah Digital Diam-Diam Membebani Pikiran dan Bumi Kita
Header Perspektif Muhamad Akmal Musthofa. tirto.id/Parkodi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bayangkan sebuah lemari yang terus diisi, tetapi tidak pernah dibuka kembali. Tumpukan demi tumpukan pakaian lama, dokumen usang, hingga barang-barang tak berguna memenuhi ruang, sampai-sampai kita lupa apa saja yang ada di dalamnya.

Gambaran di atas serupa dengan yang terjadi di ruang digital kita. Setiap hari, kita menyimpan berkas demi berkas tanpa sadar: dari tangkapan layar, video singkat, surel tak terbaca, hingga dokumen lama yang tak lagi dibuka. Semua itu mengendap tanpa disaring, membentuk apa yang kini disebut sebagai sampah digital.

Sampah digital atawa digital waste merujuk pada bagian dari data digital yang disimpan secara tidak perlu, tidak lagi memiliki fungsi produktif, dan tetap mengonsumsi sumber daya seperti energi dan ruang penyimpanan, sebagaimana dijelaskan Institute of Sustainability Studies (2025). Sama halnya dengan sampah fisik yang memiliki fenomena hoarding disorder, sampah digital mengalami nasib serupa yang jarang kita sadari.

Laporan International Data Corporation (IDC) menyebutkan, sekitar 80% dari data global adalah data tidak terstruktur yang umumnya tidak digunakan secara aktif dan cenderung hanya memenuhi ruang penyimpanan.

Budaya untuk menimbun data secara berlebihan tanpa alasan fungsional kini dikenal sebagai digital hoarding, suatu kebiasaan yang kian menjadi fenomena sosial seiring meningkatnya ketergantungan pada teknologi. Akumulasi penimbunan sampah digital ini membawa dua dampak utama: psikologis dan ekologis.

Dampak Psikologis

Dari sisi psikologis, menumpuk sampah digital menciptakan kesan bahwa kehilangan berkas berarti kehilangan informasi penting di masa depan. Tangkapan layar dan video singkat yang membuat storage penuh, surel tak terbaca dengan ratusan notifikasinya, hingga dokumen lama yang tak lagi dibuka menjadi sumber stres ringan yang berulang. Kita ambil contoh pada surel.

Harvard Business Review mencatat bahwa pekerja kantoran rata-rata menerima 121 surel per hari. Sementara itu, The Ladders melaporkan bahwa kotak masuk surel modern rata-rata memiliki sekitar 199 pesan yang belum dibaca. Banyaknya informasi ini membanjiri atensi dan menyebabkan digital fatigue, yakni kondisi kelelahan akibat paparan digital yang berlebihan.

Penelitian Stanford University (2018) menunjukkan, individu yang sering melakukan multitasking media cenderung memiliki kapasitas memori dan fokus lebih rendah dibandingkan yang lebih selektif terhadap informasi digital. Temuan ini membuktikan bahwa paparan data berlebihan, termasuk tumpukan sampah digital, dapat mengganggu fungsi kognitif dasar dan menurunkan kualitas kesejahteraan mental secara menyeluruh.

Dampak Ekologis

Di sisi lain, dampak ekologis dari tumpukan data yang tampak sepele ini juga tidak bisa diabaikan. Data yang tersimpan membutuhkan server (peladen), dan peladen membutuhkan listrik. Menurut International Energy Agency (IEA), pusat data dan jaringan transmisi menyumbang masing-masing sekitar 1-1,5% dari konsumsi listrik global.

Pendiri Greenie Web, Ian Chew, bahkan mengungkapkan bahwa sektor internet secara keseluruhan menyumbang sekitar 3,7% emisi karbon dioksida global. Jika kita kerucutkan pada data yang tersimpan di Cloud Storage saja, dampak emisi karbonnya masih tetap besar. Menyimpan 1 GB data di Cloud menghasilkan sekitar 0,04 kg CO2 per tahun atau 40 gram CO2/GB dalam setahun. Perhitungan ini dilakukan Greenly (2024) dengan menggunakan faktor emisi rata-rata untuk listrik di AS.

1 TB data yang disimpan akan menghasilkan kurang lebih 40 kg CO2 per tahun. Angka demikian tidak mustahil tercapai jika melihat makin maraknya penggunaan Cloud Storage oleh masyarakat saat ini. Maka, setiap foto, surel, atau dokumen yang kita simpan dan lupakan tetap memiliki jejak karbon yang tidak kecil.

Meski begitu, mungkin masih ada yang bertanya: “Apa gunanya menghapus 100 foto kalau data center tetap berjalan?” “Menghapus surel tidak akan menghentikan perubahan iklim, bukan?”

Pandangan tersebut valid ketika dilihat secara individual. Namun, pertanyaan demikian perlu dilihat dalam kerangka perubahan kolektif. Seperti halnya gerakan membawa botol minum sendiri atau tidak menggunakan kantong plastik, perubahan gaya hidup digital juga berkontribusi mengurangi konsumsi energi secara global.

Jika satu juta orang menghapus 1GB data, kira-kira setara dengan 250 foto, kita telah mengurangi sekitar 40 ton emisi karbon yang dihasilkan dari penyimpanan dan pengelolaan data tersebut. Ini bukan sekadar soal emisi, tetapi soal kebiasaan. Dengan mengubah gaya hidup digital, kita sedang menanamkan budaya baru: lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih berkelanjutan.

Berkaitan dengan Masalah Psikis

Meski kita sadar sampah digital menumpuk, menghapusnya sering kali terasa sulit. Alasannya kompleks dan berkaitan dengan psikologi manusia serta desain sistem teknologi saat ini.

Pertama, karena FOMO (Fear Of Missing Out) atau takut kehilangan informasi di masa depan. FOMO ini tak hanya terjadi di level individu, tetapi juga di instansi pemerintah. Di AS, laporan MeriTalk dan Actifio (2014) mencatat bahwa 40% aset data pemerintah disimpan di empat lokasi atau lebih, dan 1 dari 3 instansi menyimpan data tanpa mempertimbangkan urgensinya. Akibatnya, 31% anggaran penyimpanan dihabiskan untuk data non-primer, dengan potensi pemborosan USD 16,5 miliar dalam 10 tahun.

Di Indonesia, pola serupa tampak pada 2.700 pusat data pemerintah, yang menurut Kominfo (2023) hanya 3% memenuhi standar internasional. Masalah fragmentasi ini lebih sering dipicu oleh ego sektoral, bukan kebutuhan teknis.

Kedua, banyak dari kita menyimpan berkas karena alasan nostalgia digital. Bahkan menurut NOCD, sebuah platform terapi online, kecenderungan menyimpan foto atau berkas digital secara berlebihan bisa berkaitan dengan gejala gangguan kecemasan ringan.

Ketiga, sistem digital yang ada justru memanjakan kita. Kapasitas Cloud Storage besar, fitur backup (cadangan) otomatis, dan tidak adanya batasan penyimpanan membuat kita merasa tidak perlu memilah. Secara budaya, kita juga tidak diajarkan untuk bersih-bersih digital. Kita terbiasa menyimpan, bukan membuang.

Bersih-Bersih Digital

Konsep Digital Hygiene (kebersihan digital) belum masuk dalam literasi digital yang diajarkan di sekolah atau kampus. Untuk itu, solusi tidak bisa hanya diserahkan pada individu. Perubahan perlu terjadi di berbagai tingkat, mulai dari sistem hingga budaya. Kesadaran publik bisa dibangun melalui kampanye nasional seperti Hari Bersih-Bersih Digital (Digital Cleanup Day Indonesia).

Hingga kini, Indonesia masih belum familiar dengan hari tersebut. Padahal, secara global gerakan ini telah berkembang sejak dicetuskan oleh ilmuwan komputer asal Prancis, Kévin Guerin, pada masa pandemi 2019. Sejak 2020, Digital Cleanup Day diperingati setiap Sabtu ketiga di bulan Maret dan pada tahun 2023 melibatkan partisipasi dari 122 negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, kampanye ini sempat muncul dalam beberapa momentum, seperti World Cleanup Day Jawa Barat pada 17 September 2021 yang menyisipkan segmen “digital cleanup”, kolaborasi World Clean Up Day Indonesia dengan Let’s Do It Indonesia yang berjalan hingga 2023, serta kampanye #AksiAsri365 dari Chandra Asri Group pada Mei 2024 yang mendorong penghapusan surel dan file digital. Rangkaian inisiatif ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap isu sampah digital mulai tumbuh, namun masih bersifat sporadis dan belum menjadi budaya nasional.

Karena itu, penting untuk menyebarluaskan kampanye nasional ini, khususnya melalui media sosial dengan tagar seperti #KlikBersih dan #BebasSampahDigital sebagai simbol perubahan kolektif menuju gaya hidup digital yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Selain itu, teknologi seharusnya menjadi bagian dari solusi. McAfee—perusahaan perangkat lunak khusus keamanan siber—menyarankan penggunaan perangkat lunak pembersih digital untuk membantu menghapus berkas tak berguna, menjaga keamanan data, dan mempercepat kinerja perangkat.

Aplikasi berbasis AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) dapat dikembangkan untuk memindai, mengategorikan, dan merekomendasikan berkas mana yang bisa dihapus secara efisien. Meski teknologi ini memerlukan daya komputasi, penggunaannya yang tepat justru dapat mengurangi beban penyimpanan jangka panjang dan konsumsi energi.

Dengan kata lain, teknologi tidak harus memperbesar masalah; ia bisa diarahkan untuk menguranginya, selama digunakan dengan kesadaran dan kendali. Tidak kalah penting, integrasi Digital Hygiene dalam kurikulum pendidikan juga menjadi langkah strategis. Seperti kita diajari cara membuang sampah fisik sejak kecil, kebiasaan memilah berkas digital juga perlu ditanamkan sedini mungkin.

Pergeseran Nilai

Dampak positif dari Digital Decluttering terasa nyata di berbagai lapisan. Di tingkat individu, kebiasaan memilah dan membersihkan sampah digital dapat mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas. Di tingkat sistem, berkurangnya beban pada peladen dapat menghemat konsumsi energi dan memperpanjang usia perangkat keras, yang pada akhirnya turut mengurangi limbah elektronik.

Dari perspektif budaya, Digital Decluttering mencerminkan pergeseran nilai: dari kebiasaan menimbun menjadi kebiasaan memilih secara sadar. Pergeseran dari digital hoarder menjadi digital minimalist bukan hanya soal estetika di permukaan, tetapi juga soal keberanian untuk memilih, memilah, dan melepaskan.

Menghapus sampah digital mungkin terlihat sepele, tetapi di balik setiap klik “hapus” tersimpan keputusan yang lebih besar: memilih apa yang layak disimpan, dan berani melepaskan sisanya. Sampah digital memang tidak berbobot secara fisik, tetapi keberadaannya bisa memberatkan pikiran, dan membebani bumi. Membersihkan ruang digital bukan hanya tindakan teknis, melainkan latihan mental dan ekologis.

Mari mulai dari satu berkas, satu langkah, satu kebiasaan. Dalam dunia yang semakin padat oleh informasi, Digital Decluttering adalah bentuk keberanian baru: berani memilih, memilah, dan melepaskan demi pikiran yang lebih jernih dan lingkungan yang lebih bersih.

Jadi, apa sampah digital pertama yang ingin kamu hapus hari ini?

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Desain Interior Institut Teknologi Bandung, penerima Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) 2024/2025. Tirto.id bekerja sama dengan Djarum Foundation menayangkan 16 Finalis Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2024/2025. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.

Baca juga artikel terkait BESWAN DJARUM atau tulisan lainnya dari Muhamad Akmal Musthofa

tirto.id - Perspektif
Penulis: Muhamad Akmal Musthofa
Editor: Zulkifli Songyanan