Menuju konten utama

Saat Kekeringan Datang, Data Warga Bisa Menjadi Solusi Krisis

Menghadapi krisis air dan El Nino, pemantauan mata air berbasis komunitas menjadi kunci penting penyelamatan sumber air demi mencegah dampak kekeringan.

Saat Kekeringan Datang, Data Warga Bisa Menjadi Solusi Krisis
Header Perspektif Saat Kekeringan Datang, Data Warga Adalah Solusi. tirto.id/Parkodi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mulai pertengahan Juli 2026, di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah truk-truk tangki air bersih mulai bergerak dari satu desa ke desa lain. Sudah hampir sebulan truk-truk ini masuk ke sudut-sudut desa di delapan kecamatan. Hal ini terjadi karena sumur-sumur yang biasa jadi andalan warga sudah mengering dan sungai pun menyusut.

Kondisi ini bukan anomali. Grobogan, kata Kepala BPBD setempat, langganan kekeringan setiap kemarau.

Menurut BMKG, puncak krisis ini bahkan belum tiba karena diperkirakan baru mencapai titik terparahnya pada Agustus mendatang. Hal lain yang berbeda di tahun ini adalah El Niño, sebuah fenomena memanasnya suhu laut di Pasifik yang memicu curah hujan jauh di bawah normal. El Niño membuat kemarau kali ini diprediksi akan lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.

Maka pertanyaannya sudah bergeser. Bukan lagi soal apakah krisis air akan datang, melainkan mengapa kita selalu terkejut ketika ia tiba. Kekeringan ini bukanlah kejutan tetapi tamu tahunan yang kita sendiri belum pernah benar-benar siap menerimanya. Dan akar dari ketidaksiapan itu sederhana dan jarang diakui, yaitu karena kita tidak tahu apa yang kita miliki.

Hingga saat ini, tidak ada inventaris mata air yang komprehensif dan mutakhir di Indonesia. Data yang ada tersebar di berbagai instansi banyak yang usang atau sebagian besar tidak akurat. Akibatnya, ketika kemarau dan El Niño datang, kita tidak punya titik awal perbandingan. Kita tidak tahu mana mata air yang kritis, mana yang masih sehat, mana yang perlu diselamatkan lebih dulu.

Mata air sebenarnya adalah sumber air paling demokratis yang kita punya karena tidak butuh pompa, listrik, ataupun biaya langganan. Ia mengalir karena gravitasi dan karena tutupan hutan di atasnya masih berfungsi. Namun justru karena ia dianggap akan "selalu ada", kondisi mata air jarang sekali mendapat perhatian hingga suatu hari ia berhenti mengalir.

Warga Biasa Bisa Jadi Solusi

Di tengah kondisi ini, sebuah penelitian yang baru dilakukan di Pulau Jawa menawarkan harapan yang tidak terduga.

Dua peneliti di bidang hidrologi dan geografi dari Universitas Gadjah Mada menguji sistem pemantauan mata air berbasis komunitas di awal tahun ini. Hanya dengan 22 relawan warga, mereka berhasil memetakan 82 titik mata air di Pulau Jawa dalam kurun tiga bulan. Apa yang mereka lakukan membuktikan bahwa relawan tanpa latar belakang ilmiah pun mampu menghasilkan data mata air yang lengkap, bermakna, dan akurat. Bukan data asal-asalan, melainkan data yang benar-benar bisa dipakai untuk pengambilan keputusan restorasi.

Hasil penelitian ini menemukan bahwa mata air yang paling mudah dijangkau dan paling sering dipakai warga justru yang paling rentan rusak. Umbul dan genangan di tengah sawah dan permukiman menanggung tekanan terbesar dari aktivitas manusia, sementara mata air di celah batu yang tersembunyi di lereng hutan relatif aman karena jauh dari jangkauan.

Sebuah ironi yang seharusnya mengusik, bahwa hal paling berjasa bagi kehidupan justru seringkali terabaikan.

Prediksi kemarau di Jawa Barat

Petani berjalan di lahan sawah irigasi anak Sungai Cimulu yang mengering di Kampung Ciwasmandi, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). BMKG Jawa Barat memprediksi sebagian besar wilayah di Jabar mengalami musim kemarau lebih kering dibandingkan kondisi klimatologis normal pada 2026, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan mencakup sekitar 90 persen wilayah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nz

Pengumpulan data untuk penelitian tersebut dilakukan antara Maret hingga Mei 2026 menggunakan EpiCollect5, aplikasi survei lapangan berbasis ponsel yang dikembangkan oleh Imperial College London. Aplikasi ini dirancang khusus untuk memudahkan pengumpulan data di lapangan oleh siapa saja, termasuk warga tanpa latar belakang teknis. Dengan aplikasi ini, relawan cukup mengisi formulir digital langsung dari ponsel mereka, lengkap dengan foto, koordinat lokasi, dan catatan kondisi mata air secara real-time. Data yang terkumpul dari seluruh Pulau Jawa lantas tersimpan otomatis dalam format yang siap dianalisis.

Praktik ini membuktikan bahwa teknologi yang sederhana namun tepat sasaran bisa memberdayakan warga biasa menjadi jaringan pemantau lingkungan yang efektif.

Selama ini kita berasumsi bahwa pemantauan lingkungan yang bersinggungan dengan sumber air adalah urusan ahli hidrolog, geograf, atau pejabat dinas. Penelitian ini justru membuktikan bahwa asumsi tersebut keliru. Dengan alat yang tepat dan panduan yang sederhana, warga desa pun bisa menjadi garda terdepan pengumpul data air, dengan jangkauan yang lebih luas, lebih murah, dan respons lebih cepat dibanding sistem konvensional.

Model ini bukanlah hal baru. Ilmu pengetahuan yang dikerjakan oleh warga biasa sudah lama berjalan di bidang pengamatan burung, kualitas udara, hingga perubahan iklim. Indonesia, dengan modal sosial gotong royong yang kuat dan penetrasi internet yang terus meningkat, punya semua syarat untuk melakukan praktik riset dan pemantauan serupa dalam skala besar.

Buktinya adalah praktik riset di atas yang kemudian dinamai Gerakan Jaga Semesta, inisiatif pemantauan dan restorasi mata air yang digerakkan oleh jaringan relawan. Riset ini telah membuktikan bahwa kepedulian warga terhadap sumber air bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan.

Para relawannya bergerak dari satu mata air ke mata air lain, memantau kondisi, mendokumentasikan perubahan, dan mendorong upaya pemulihan. Inisiatif seperti inilah yang memberi tubuh pada gagasan bahwa pengelolaan air bukan hanya urusan negara.

Kepedulian adalah Hulu dari Setiap Aksi

Temuan paling menarik dari penelitian tersebut bukan hanya soal data, melainkan soal manusia. Warga yang merasakan secara langsung bahwa mata air di dekat mereka penting, yang tahu bahwa debit air naik atau turun di sepanjang tahun menghidupi keluarga mereka, ternyata jauh lebih termotivasi untuk terlibat dalam pemulihan. Sebaliknya, mereka yang tidak punya ikatan emosional dengan sumber airnya akan cenderung pasif.

Oleh karena itu, bencana pun bisa menjadi titik balik. Ketika sumur mengering dan truk air harus didatangkan, warga merasakan sendiri betapa berartinya mata air yang selama ini dianggap biasa. Rasa itu adalah benih yang bisa menumbuhkan semangat 'warga jaga warga' sehingga bergema menjadi aksi jangka panjang.

Dari sisi yang lain, ada jebakan yang juga perlu diwaspadai. Memobilisasi warga untuk memantau mata air bukan berarti negara boleh lepas tangan. Warga butuh lebih dari sekadar semangat. Mereka butuh pelatihan yang sederhana, aplikasi yang ramah pengguna, dan yang paling penting adalah jaminan bahwa data mereka benar-benar akan digunakan.

Terlalu banyak program partisipasi warga yang gagal bukan karena warganya apatis, melainkan karena laporannya masuk ke folder arsip dan tidak pernah ditindaklanjuti. Ketika warga melaporkan mata air mengering dan tidak ada respons, antusiasme mereka padam. Untuk itu, arus balik informasi adalah kuncinya.

Laporan warga harus terhubung ke sistem peringatan dini, ke anggaran restorasi hingga ke kebijakan tata lahan. Tanpa itu, pemantauan berbasis komunitas hanya menjadi ilusi partisipasi.

Krisis air di Grobogan dan daerah-daerah lain hari ini adalah cermin dari apa yang akan terjadi di ratusan wilayah lain jika kita tidak berubah. Sehingga, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian serius.

Perkembangan musim kemarau 2026 di Indonesia

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melintas di depan layar peta prediksi curah hujan saat akan konferensi pers tentang perkembangan iklim dan pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 di Indonesia di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (10/6/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz

Pertama, pemerintah daerah perlu menjadikan pemantauan mata air berbasis komunitas sebagai program resmi, bukan proyek percontohan yang hidup-mati bergantung pada satu periode anggaran. Kemudian datanya harus diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang dan peta risiko bencana kekeringan.

Kedua, perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil perlu mereplikasi model penelitian ini ke luar Jawa. Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan, titik-titik yang sama-sama rentan terhadap kekeringan, namun data mata airnya jauh lebih minim.

Ketiga, kita sebagai warga bisa mulai dari hal paling sederhana, yaitu mengenali mata air terdekat di sekitar tempat tinggal. Foto kondisinya, catat apakah debit airnya berkurang, ceritakan ke tetangga dan laporkan ke perangkat desa.

Kita adalah pewaris sekaligus penjaga. Setiap aksi yang kita lakukan hari ini adalah surat wasiat untuk generasi yang belum pernah merasakan kekeringan, dan semoga tidak pernah perlu merasakannya.

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Pedesaan, IPB University dan konsultan komunikasi lingkungan

Baca juga artikel terkait KEKERINGAN AIR atau tulisan lainnya dari Desytha Dwiutami

tirto.id - Perspektif
Penulis: Desytha Dwiutami