tirto.id - Menjadikan kebun sebagai destinasi wisata sering kali dipandang terlampau sederhana: tanam komoditas yang estetik, rapikan alur jalan, pasang papan petunjuk, lalu duduk manis menunggu pengunjung berdatangan. Padahal, realitas di lapangan jauh lebih rumit.
Kebun dituntut untuk tetap produktif dengan jadwal tanam yang presisi. Pengunjung butuh kepastian tentang apa yang bisa dinikmati, sementara kelompok pengelola wajib menguasai pembagian kerja, penetapan harga, standar pelayanan, hingga strategi promosi yang konsisten.
Kerumitan tata kelola inilah yang tengah diurai di Desa Pesantren, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Memanfaatkan lahan seluas 1.000 meter persegi sebagai basis diversifikasi hortikultura, desa ini memproyeksikan empat komoditas utama: labu, selada, markisa, dan talas Pratama. Hingga pertengahan prosesnya, labu dan selada telah berhasil ditanam, sementara markisa dan talas Pratama masih berada dalam tahap persiapan lahan.
Lahan demplot ini jelas tidak dirancang sekadar menjadi ruang percontohan yang pasif. Berkolaborasi dengan Kelompok Tani Melati Sejahtera dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) SADESA, kebun ini secara bertahap diarahkan menjadi pintu masuk pengalaman agrowisata. Di sini, wisatawan tak cuma berfoto, tetapi juga mempelajari proses budidaya yang kelak terintegrasi dengan produk lokal serta rute jelajah desa.
Pendampingan dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Muria Kudus (UMK), dan Pemerintah Desa Pesantren pun menekankan perubahan pola kerja, bukan fisik semata. Faktualnya, fokus pendampingan mencakup penyusunan kalender tani, pencatatan bisnis, standar budidaya, perancangan rute dan paket wisata, hingga pengelolaan konten promosi.
Agrowisata Tak Cukup dengan Kebun yang Bagus
Tantangan terbesar bagi kelompok tani kerap kali tersembunyi di balik estetika foto promosi: kontinuitas produksi dan kedisiplinan tata kelola. Pengenalan kalender tani menjadi krusial agar fase tanam hingga panen tidak berjalan sporadis. Pembukuan usaha pun mulai dirintis untuk melacak alur biaya, berdampingan dengan penyelesaian SOP penanaman selada sebagai panduan teknis utama.
Meski begitu, fondasi sistem ini belum sepenuhnya kukuh. Pengolahan kompos masih dalam tahap persiapan, SOP Good Agricultural Practices (GAP) untuk komoditas unggulan belum rampung, standardisasi kemasan masih diproses, dan jejaring pasar luar daerah baru sebatas penjajakan awal. Kebun ini memang telah bergerak, tetapi ekosistem penopang produksi yang stabil belum sepenuhnya terbentuk.
Di titik inilah miskonsepsi agrowisata kerap terjadi. Agrowisata bukanlah sekadar memindahkan orang kota ke area persawahan.
Jika jadwal panen berantakan, mutu produk fluktuatif, dan aktivitas kebun gagal diterjemahkan menjadi pengalaman edukatif, kebun tersebut hanya akan berakhir sebagai latar foto yang mati. Demplot Desa Pesantren justru memposisikan kebun sebagai ruang produksi sekaligus ruang belajar. Melalui kalender tanam yang terstruktur, Pokdarwis dapat memetakan kapan fase penanaman, pemeliharaan, hingga panen yang menarik untuk dikemas ke dalam paket wisata. Keterkaitan antara ritme kebun dan jadwal kunjungan inilah yang memberi nyawa pada sebuah destinasi.
Dari Jalur Kebun ke Tiga Rancangan Paket
Di sisi lain, Pokdarwis SADESA memikul tugas merangkai potensi kebun, aliran sungai, dan pemandangan desa menjadi alur perjalanan yang rasional. Penataan rute kebun dan sungai serta pemetaan awal jalur wisata mulai digarap, walau masih membutuhkan pembenahan pada papan penunjuk arah, titik interpretasi, dan informasi edukatif.
Hasil pemetaan tersebut menelurkan tiga rancangan paket awal: edukasi kebun, jelajah desa dan sungai, serta paket kombo (bundling) kebun dan sungai. Namun, ketiganya belum siap dilempar ke pasar. Penetapan harga resmi, kepastian fasilitas, durasi, alur pelayanan, hingga SOP penyambutan tamu masih harus difinalisasi.
Formulasi identitas merek LARAS DESA juga mulai digagas sebagai payung pemasaran. Branding tentu tidak boleh berhenti sebagai sekadar logo atau slogan slogan bergengsi. Ia harus mewujud nyata dalam narasi yang konsisten, kepastian rute, ketersediaan produk lokal, serta standar layanan yang tidak tergantung pada siapa petugas yang sedang piket. Penggunaan kalender konten untuk media sosial pun mulai dibiasakan. Namun, formulir promosi hanyalah alat; keberadaannya baru bernilai jika dijalankan secara berkala.
Akselerasi promosi digital melalui situs web dan media sosial harus sejalan dengan kesiapan layanan di lapangan, bukan justru mendahuluinya.
"Kegiatan pengabdian dari tim UNNES sangat membantu kami dalam mengembangkan agrowisata Desa Pesantren. Sebelumnya sudah ada BUMDes Catra Kopi, dan kegiatan ini melengkapi potensi yang sudah ada dengan pengembangan paket wisata, pengelolaan potensi desa, serta promosi melalui media digital. Kami berharap agrowisata di Desa Pesantren nantinya dapat lebih berkembang dan dikenal luas," ungkap Sukirno, Kepala Desa Pesantren, kepada kami.
Yang Dikejar Bukan Sekadar Ramai Pengunjung
Kejujuran narasi rintisan ini terlihat dari kehati-hatiannya dalam membuat klaim keberhasilan. Hingga saat ini, belum ada data kuantitatif yang cukup untuk menyimpulkan bahwa program ini telah meningkatkan penjualan hasil tani, meroketkan angka kunjungan, atau mendongkrak pendapatan warga. Data produktivitas akhir, kalkulasi efisiensi pupuk, hingga volume transaksi wisata masih dalam proses pengumpulan.
Sikap skeptis dan pragmatis ini sangat krusial. Program pemberdayaan sering kali terjebak pada formalitas pencapaian: berapa kali pelatihan digelar, berapa dokumen yang tercetak, atau seberapa ramai foto kegiatan di media sosial. Padahal, indikator keberhasilan sejati terletak pada hal yang lebih substansial: apakah petani konsisten memakai kalender tani? Apakah pembukuan dicatat saban hari? Apakah SOP dijalankan secara mandiri tanpa harus terus-menerus disuapi pendamping?
Merujuk pada indikator tersebut, Desa Pesantren sejatinya masih berada pada fase pembentukan fondasi. Bagi kelompok tani, PR besarnya adalah merampungkan diversifikasi tanaman, mengoperasikan unit kompos, menyelesaikan SOP GAP, menyempurnakan kemasan, dan mengunci kemitraan pasar yang konkrit. Sedangkan bagi Pokdarwis, agenda utamanya meliputi pemantapan rute, penyelesaian kalkulasi harga paket, aktivasi kalender promosi, dan penyusunan program kerja tahunan yang realistis.
Ketika kedua elemen ini berkolaborasi secara presisi, sinergi antara sektor pertanian dan pariwisata baru terasa masuk akal. Komoditas tani tidak lagi sekadar mengejar tonase panen, tetapi berubah menjadi materi edukasi. Produk olahan tidak cuma berhenti di meja pameran pelatihan, melainkan masuk ke dalam komponen oleh-oleh. Jalur wisata pun tidak lagi sekadar menghubungkan titik geografis, melainkan mengajak wisatawan memahami cara sebuah desa bertahan hidup.
Desa Wisata Butuh Sistem, Bukan Sekadar Spot Foto
Pengalaman Desa Pesantren membuktikan bahwa membangun agrowisata berbasis komunitas adalah kerja merakit sistem, bukan membuat destinasi instan berbasis spot foto sementara. Kelompok tani berfokus menjaga kebun tetap hidup dan produktif, sedangkan Pokdarwis bertugas menerjemahkan dinamika kebun menjadi produk jasa yang bernilai ekonomi.
Pemerintah desa memegang peranan kunci dalam mengawal penataan ruang, harmonisasi antarkelompok, serta kepastian regulasi yang tak bisa diselesaikan oleh satu kelompok semata. Akademisi dan perguruan tinggi bisa datang memberikan fasilitasi, namun kepemilikan dan kendali atas sistem ini sepenuhnya harus digenggam oleh warga desa.
Ujian sesungguhnya justru baru dimulai ketika masa pendampingan berakhir. Apakah instrumen manajemen yang dibuat akan terus dipakai? Apakah rute wisata tetap dirawat? Apakah paket diperbarui mengikuti pergantian musim tani? Pertanyaan-pertanyaan pragmatis inilah yang menentukan apakah rintisan ini akan bertransformasi menjadi unit kemandirian ekonomi atau sekadar menjadi artefak proyek yang layu sebelum berkembang.
Pada akhirnya, proses mentransformasi demplot menjadi paket wisata yang berdaya saing bukanlah jalan pintas yang tuntas dalam satu musim tanam. Ia memerlukan napas panjang untuk mengubah kultur kerja, membangun kedisiplinan administratif, dan menyelaraskan ritme desa dengan ekspektasi wisatawan. Agrowisata yang berdaya tahan bukanlah yang paling cepat viral, melainkan yang dibangun di atas kesadaran kolektif warganya tentang apa yang ditanam, apa yang dijual, bagaimana melayaninya, dan siapa yang bertanggung jawab menjaga roda ekosistem itu tetap berputar.
*Artikel ini ditulis oleh Dr. Moh. Solehatul Mustofa, M.A. (Ketua Badan Optimalisasi Aset dan Bisnis (BOAB) Universitas Negeri Semarang), Prof. Dr. Amin Retnoningsih, M.Si (Profesor Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang), Dr. Hartati Sulistyo Rini, S.Sos., M.A. (Dosen Sosiologi FISIP Universitas Negeri Semarang), dan Dr. Erik Aditia Ismaya, S.Pd., M.A.(Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus).
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id































