tirto.id - “Kemasan adalah papan iklan nyata bagi sebuah produk.”
Ungkapan tersebut sering kita dengar, dan memang ada benarnya. Kemasan dapat memengaruhi pertimbangan konsumen sesaat sebelum keputusan pembelian dibuat. Meski begitu, menyebut kemasan sebagai penentu utama keputusan konsumen tentu merupakan kiasan yang cenderung hiperbolis.
Carolyn Heneghan, dalam How Premium Packaging Can Unleash Shelf Appeal (2016), menguraikan pentingnya peran kemasan dalam menarik perhatian konsumen. Rata-rata pembeli, menurut kajian tersebut, menghabiskan waktu sekitar 27 detik sebelum menentukan pilihan. Karena itu, kemasan dapat membantu memperpendek waktu pertimbangan tersebut.
Ada istilah stopping power, yakni kemampuan sebuah kemasan untuk membuat calon pembeli berhenti sejenak dan memperhatikan produk di hadapannya. Kemasan yang menarik dapat membangun daya tarik tersebut. Karena itu, sebuah merek perlu memberikan perhatian pada kualitas sekaligus desain kemasan agar produknya mampu tampil menonjol di antara produk lain di rak pajang.
Kemasan dan Dampak Sampahnya bagi Lingkungan
Fungsi utama kemasan tentu melindungi produk dari kerusakan sekaligus menjaga kualitasnya. Namun, ada konsekuensi lain yang perlu dipertimbangkan. Seperti bahan lain yang digunakan dalam proses produksi, bahan pembuat kemasan juga dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan, terutama ketika kemasan tersebut menjadi sampah.
Di tempat pembuangan akhir, sampah kemasan menimbulkan berbagai persoalan. Proses penguraiannya dapat menghasilkan emisi berupa asap, debu, dan gas yang berpotensi mencemari udara. Penumpukan sampah juga mengganggu estetika lingkungan dan dapat menghambat masuknya sinar matahari ke lahan yang tertutup timbunan sampah. Selain itu, bau yang muncul dari proses pembusukan dapat mengganggu kenyamanan, sekaligus berkontribusi terhadap masalah kesehatan lingkungan.
Dampaknya tidak berhenti di udara. Tanah juga dapat mengalami penurunan kualitas akibat berbagai zat yang dilepaskan selama proses penguraian sampah. Sampah kemasan memiliki karakteristik penguraian yang berbeda-beda: ada yang mudah terurai, ada yang membutuhkan waktu sangat lama, dan ada pula yang praktis tidak terurai secara alami.
Material yang terlepas dari sampah dapat memengaruhi mikroorganisme di dalam tanah. Padahal, mikroorganisme tersebut berperan dalam pembentukan humus yang menjadi sumber unsur hara bagi tanaman. Penumpukan sampah juga dapat menghambat pertukaran oksigen dan memengaruhi drainase tanah.
Hal serupa terjadi pada lingkungan perairan. Bahan pencemar yang masuk ke sungai, situ, danau, hingga laut dapat menurunkan kualitas air. Air jadi berbau, dan ditempati bakteri virus, jamur, maupun parasit. Biota-biota air yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan, teracuni. Dalam keadaan lingkungan yang telah mengalami tekanan, sampah kemasan makin membebani keadaannya.
Dari berbagai material yang digunakan untuk membuat kemasan, plastik menjadi salah satu yang paling dominan. Karena itu, kemasan juga memiliki kontribusi besar terhadap timbulan sampah plastik dunia.
Veronika Samborska, dalam Packaging is the Source of 40% of the Planet’s Plastic Waste yang terbit pada 2024 dan mengutip data Our World in Data 2019, menyebut sekitar 40 persen sampah plastik dunia berasal dari kemasan. Kemasan juga menjadi salah satu sumber utama sampah plastik di tiga wilayah penghasil sampah plastik terbesar, yakni Amerika Serikat, Eropa, dan Cina.
Lamanya suatu material terurai menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika membicarakan dampak lingkungan dari kemasan. Selain plastik, material yang umum digunakan antara lain kertas, karton, kayu, logam, dan kaca. Masing-masing memiliki waktu penguraian yang berbeda.
Kertas membutuhkan waktu sekitar dua hingga enam minggu untuk terurai, sedangkan karton membutuhkan sekitar dua hingga lima bulan. Kayu dapat membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 tahun, bergantung pada jenis dan usia kayu serta kondisi lingkungan tempat material tersebut berada.
Plastik dapat membutuhkan waktu hingga 100–500 tahun untuk terurai. Bahkan dalam proses tersebut, plastik dapat berubah menjadi partikel yang lebih kecil berupa mikroplastik, bukan benar-benar hilang dari lingkungan. Logam, termasuk aluminium dan besi, juga membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mengalami penguraian, tergantung kondisi materialnya. Logam yang telah mengalami korosi dapat berubah lebih cepat dibandingkan material yang masih utuh dan tebal.
Sementara itu, kaca dikenal sebagai material yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Sejumlah sumber bahkan menyebut waktu penguraiannya dapat mencapai sekitar satu juta tahun atau lebih, karena kaca tidak mudah terurai secara alami.
Meski kaca memiliki waktu penguraian yang sangat panjang, plastik tetap menjadi perhatian besar karena penggunaannya yang luas sebagai bahan kemasan. Besarnya volume penggunaan tersebut membuat sampah kemasan plastik menjadi salah satu persoalan utama dalam pengelolaan sampah dan pencemaran lingkungan.
Konsumen Cerdas Memperhatikan Kemasan
Laura Parker, dalam tulisan The World’s Plastic Pollution Crisis, Explained yang dimuat National Geographic pada 2025, menjelaskan berbagai dampak pencemaran plastik terhadap lingkungan. Sebagian besar polusi plastik di laut, menurut tulisan tersebut, berasal dari daratan dan terbawa ke laut melalui aliran sungai.
Sesampainya di laut, sebagian sampah plastik tetap berada di wilayah pesisir, sementara sebagian lainnya terbawa arus dan menyebar lebih jauh. Paparan sinar matahari, angin, dan gelombang kemudian membuat sebagian plastik terpecah menjadi partikel yang lebih kecil, termasuk mikroplastik.
Mikroplastik telah ditemukan di berbagai lingkungan dan organisme. Peneliti juga telah mendeteksinya dalam tubuh manusia, termasuk darah dan tinja. Sejumlah penelitian mengaitkan paparan mikroplastik dengan berbagai kemungkinan dampak kesehatan, antara lain peradangan, gangguan sistem kekebalan, gangguan hormonal, kerusakan sel, dan masalah pernapasan. Namun, penelitian mengenai dampak jangka panjang mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih terus berkembang.
Pada hewan, pencemaran plastik juga telah menimbulkan persoalan serius. Berbagai jenis burung, ikan, mamalia laut, dan organisme lainnya dapat terluka atau mati setelah menelan atau terjerat sampah plastik. Sampah seperti cincin kemasan minuman, misalnya, dapat menjerat hewan laut dan menghambat pergerakannya.
Mikroplastik juga telah ditemukan pada lebih dari 100 spesies akuatik, termasuk ikan, udang, dan kerang yang dikonsumsi manusia.
Karena itu, mengurangi dampak lingkungan dari kemasan tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah yang sudah masuk ke laut. Upaya tersebut juga perlu dimulai dari perilaku kita ketika membeli dan menggunakan produk.
Langkah pertama adalah mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, termasuk plastik. Tas belanja, wadah makanan dan minuman, serta berbagai tempat penyimpanan dapat diganti dengan produk yang dapat digunakan berulang kali.
Kedua, jika penggunaan kemasan sekali pakai tidak dapat dihindari, manfaatkan kembali selama masih memungkinkan. Kantong belanja dan kemasan makanan atau minuman dapat dikumpulkan untuk didaur ulang atau digunakan untuk kebutuhan lain, termasuk kegiatan kerajinan dan seni.
Ketiga, mengubah kebiasaan berbelanja. Pembelian dalam jumlah besar atau sistem isi ulang dapat mengurangi jumlah kemasan yang digunakan. Dalam sistem isi ulang, misalnya, konsumen dapat kembali menggunakan wadah lama selama masih layak.
Keempat, terlibat dalam komunitas yang mendorong pemanfaatan kembali dan pengelolaan sampah secara kreatif. Upaya seperti ini penting untuk membangun kesadaran bahwa tanggung jawab terhadap dampak sebuah produk tidak berhenti ketika transaksi selesai.
Pada akhirnya, konsumen tidak hanya perlu mempertimbangkan isi dan harga sebuah produk, tetapi juga kemasannya. Kemasan yang menarik memang dapat membantu sebuah produk memenangkan perhatian di rak pajang. Namun, setelah produk dibeli dan digunakan, kemasan itu tidak serta-merta kehilangan konsekuensinya.
Karena itu, memilih produk dengan mempertimbangkan jenis dan dampak kemasannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab konsumen. Setidaknya, kita perlu menyadari bahwa setiap kemasan yang kita gunakan memiliki jejak lingkungan.
Sebab, produk mungkin hanya kita gunakan beberapa menit, sementara kemasannya dapat bertahan jauh lebih lama di lingkungan.
Penulis adalah praktisi dan pemerhati industri Testing, Inspection, Certification (TIC).
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id

































