tirto.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mengusulkan sistem impor gula satu pintu melalui BUMN guna menghentikan kebocoran gula rafinasi ke pasar konsumsi.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengungkapkan bahwa impor gula rafinasi yang tidak terkendali menyebabkan gula hasil petani dalam negeri sulit terserap. Akibatnya, harga gula di tingkat petani tertekan dan stabilitas pasar nasional terganggu.
“Intinya swasembada gula itu banyak menanam, banyak panen, dan banyak produksi. Tapi yang terjadi sekarang paradoks, kita masih impor gula sementara gula hasil petani justru tidak laku,” ujarnya dalam dalam keterangannya, dikutip Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, gula rafinasi yang seharusnya untuk industri justru membanjiri pasar rumah tangga. “Kalau impor gula dibatasi, seharusnya gula petani laris. Tapi kenyataannya tidak, karena ada kebocoran dari gula rafinasi ke pasar rumah tangga. Ini yang harus kita benahi bersama,” ucapnya.
Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar itu menyambut baik usulan tata niaga gula satu pintu via BUMN. “Kalau distribusi diatur satu pintu melalui BUMN, kita bisa memastikan gula rafinasi tidak membanjiri pasar konsumsi. Ini penting untuk melindungi petani,” katanya.
Di sisi hulu, pemerintah telah mengucurkan anggaran Rp2,5 triliun untuk program peremajaan lahan tebu (bongkar ratoon), ditambah subsidi pupuk, alat mesin pertanian, dan target perluasan lahan 200 ribu hektare. Total intervensi mencapai Rp4 triliun dengan target tambahan produksi gula nasional 1 juta ton.
“Kalau kebocoran di hilir bisa kita tutup, maka investasi Rp4 triliun itu bisa menghasilkan tambahan 1 juta ton gula. Dengan asumsi harga Rp17 ribu per kilogram, potensi nilai tambah yang dihasilkan bisa mencapai Rp17 triliun,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi dalam negeri tidak hanya berdampak pada pengurangan impor, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk peningkatan kesejahteraan petani dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Substitusi impor itu penting. Impor memang bukan hal yang ideal, tapi kalau bisa kita gantikan dengan produksi dalam negeri, itu jauh lebih baik. Selain meningkatkan pendapatan petani, juga memperkuat ekonomi nasional,” imbuhnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































