Menuju konten utama

Iran Terapkan Tarif di Selat Hormuz Pakai Kripto & Yuan

Iran menerapkan "tarif tol" di Selat Hormuz bagi kapal yang hendak melintas untuk membayar dengan kripto atau yuan.

Iran Terapkan Tarif di Selat Hormuz Pakai Kripto & Yuan
Peta Selat Hormuz. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) menerapkan tarif tol sebesar 1 dolar AS per barel minyak yang hanya bisa dibayar dengan mata uang kripto dan yuan.

Penerapan tarif ini menyusul kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran selama dua minggu dengan salah satu syaratnya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurut laporan The Wall Street Journal Rabu (8/4/2026), kapal-kapal yang akan melewati Selat Hormuz wajib mengatur pembayaran terlebih dahulu dalam bentuk kripto atau yuan China.

Menurut NDTV, Kamis (9/4/2026), penggunaan mata uang seperti bitcoin dan yuan disebut berkaitan dengan sanksi berat dari Barat terhadap Iran, yang membuat transaksi berbasis dolar menjadi sulit.

Cryptocurrency dinilai lebih sulit dilacak, sementara penggunaan yuan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.

Selain itu, mereka juga diminta untuk mengirimkan detail muatan dan kapal melalui email untuk mendapatkan persetujuan dari otoritas Iran. Beberapa awak kapal bahkan melaporkan adanya siaran peringatan bahwa kapal tanpa izin berisiko menjadi target.

Data pelayaran menunjukkan hanya segelintir kapal yang diizinkan melintas pada hari-hari tertentu, membuat aktivitas di kawasan tersebut sangat terbatas.

“Setelah email tiba dan Iran menyelesaikan penilaiannya, kapal-kapal diberi waktu beberapa detik untuk membayar dengan bitcoin, memastikan mereka tidak dapat dilacak atau disita karena sanksi,” kata Hamid Hosseini, juru bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran.

Hosseini menjelaskan bahwa mekanisme tersebut juga diklaim bertujuan untuk memastikan tidak ada pengiriman senjata yang melewati jalur strategis tersebut. Ia menyebut bahwa seluruh kapal pada prinsipnya tetap dapat melintas, namun proses pemeriksaan dan pembayaran akan dilakukan secara ketat dan bertahap, tanpa tekanan untuk mempercepat proses tersebut.

“Semua barang bisa lewat, tetapi prosedurnya akan memakan waktu untuk setiap kapal, dan Iran tidak terburu-buru,” lanjutnya.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran minyak yang sangat penting karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut.

Sejak konflik Iran dan AS pecah akhir Februari lalu, lalu lintas di Selat Hormuz dibatasi oleh militer Iran. Ini adalah cara Iran untuk memberi tekanan pada AS lewat ancaman terganggunya pasokan energi dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap Iran, yang diikuti dengan penurunan harga minyak di pasar internasional.

Laporan lain dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa Iran juga mempertimbangkan pembatasan jumlah kapal yang boleh melintas menjadi sekitar 12 kapal per hari, sekaligus menerapkan sistem “tolling” atau pungutan biaya bagi setiap kapal yang lewat.

Dalam perkembangan terpisah, Trump juga disebut tengah mempertimbangkan pembentukan skema kerja sama atau “joint venture” dengan Iran untuk mengelola sistem pungutan di Selat Hormuz, dengan alasan keamanan dan pengawasan jalur pelayaran.

"Kami sedang mempertimbangkan untuk melakukannya sebagai usaha patungan. Ini adalah cara untuk mengamankannya — juga mengamankannya dari banyak orang lain. Ini adalah hal yang indah," ujar Trump pada ABC News, Rabu(8/4/2026).

Sebelumnya, keputusan untuk membuka kembali Selat Hormuz dikhawatirkan banyak pihak akan ditangguhkan Iran setelah Israel, sekutu AS, menyerang Lebanon pada Rabu kemarin.

Iran mengecam tindakan tersebut dengan menegaskan jika Lebanon adalah bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

Trump mencoba untuk meredakan suasana dengan meminta PM Israel, Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dan tidak menyerang Lebanon demi berhasilnya gencatan senjata AS-Iran.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra